Obrolan Ki Hajar Dewantoro-Paulo Freire, -Sebuah Cengkerama Khayali-

48 pemikiran pada “Obrolan Ki Hajar Dewantoro-Paulo Freire, -Sebuah Cengkerama Khayali-”

  1. huahahaha jadi inget bakulanku yang posisinya sedang digoyang sama tibum. sik sik tak moco maneh, baca kata2 satpol membuatku menjadi hilang ingatan *hlah*
    ————–

    ok dech… monggo dibaca lagi… take your time…πŸ˜‰

  2. (Doh) Perbincangan tingkat tinggi ini… gak nyanthel aku…

    Wakakaka…. Satpol PP koq blakrakan mrene togh ekekeke..

    Jeruuuu….sem jeru tanin…
    ————–

    Itu contoh specimen dari bentuk penindasan…πŸ˜€

  3. Satpol PP minggat kelaut sono gih..!!

    Merusak suasana masyuk.. perbincangan Kihajar dan mbah Pulo
    —————

    Sehabis memporakporandakan stren kali Surabaya…, terus meneror lapak daganganku di Cimahi… Sekarang malah bikin kedai kopi bubar… (doh)

  4. hamengku hamengkoni…
    para penguasa hanya mau hamengku kekuasaan saja, tapi nggak pernah menyadari kalo dari tetesan ludahnya menyakiti jutaan jelatanya, keliatan sekali dari orang yang katanya bercita-cita membersihkan tikuspun dengan niatan bersih, ternyata liat lobang jelita juga bisa menghilangkan nyawa orang, hanya karena pengin hamemangku wanito wudo… wakakaka
    —————

    problem klasik kekuasaan… harta, tahta dan wanita… (doh)

  5. Manusia tidak lagi hanya menjadi korban dari sebuah sistem dan struktur yang barbarian dan despotis <<== Tapi pada Kenyataannya sekarang DEPDIKNAS sering kali mengubah kurikulum yang belum tentu tepat dan tanpa evaluasi jadi sering kali mahasiswa menjadi korban sebuah sistem
    ————–

    Apa yang dilakukan oleh DEPDIKNAS dengan kurikulum pendidikan adalah bentuk nyata dari sistem dan struktur yang barbarian dan despotis…πŸ˜€

  6. sekarang ini jangan pernah menggantungkan pendidikan ke sekolah formal. masuk sekolah fromal yaaaa untuk formalitas itu tadi aja. ortu yang mesti pandai2 mengarahkan putra putrinya untuk bisa mandiri dan peka lingkungan. *duuuuh berat tuh*
    ————–

    yaaaa…, memang tidak mudah…πŸ˜‰

  7. Paulo Freire : Entahlah Ki.., ketika title dan gelar kesarjanaan menciptakan feodalisme baru. Maka selama itu pula manusia tidak bisa bangkit dari ketertindasan.
    saia setuju dengan kutipan itu, Indonesia tidak akan pernah bangkit jika hanya memandang status itu, padahal masih banyak keahlian yang lebih mumpuni daripada gelar tersebut
    —————

    Gelar kesarjanaan saat ini sama halnya seperti gelar kebangsawanan di masa kerajaan jaman dulu… Hanya menciptakan sebuah masyarakat yang feodal…

  8. bener banget kang yen golek sekolah mesti orientasine sing lulus cepet kerjo gajine gede duite akeh.
    sing apik pancen trihayu.. sik tak wacane maneh
    —————

    Ki Hajar Dewantoro memang pantas disebut Bapak Pendidikan Bangsa karena konsep2 pemikirannya yang luar biasa…

  9. kok ki hajar dewantara ketawanya ngakak? wakakakaka gitu? ketawa satire, ya?
    seharusnya yang dibersihkan itu hati pemimpin kita, ya?
    —————

    Beliau ngakak begitu kalau pas lagi nongkrong di warung kopi… Lagian aslinya beliau memang gaul…

    Tepat !!! Asal kotoran yang ada di dalam hati mereka belum terlanjur berkerak…

  10. “…ketika title dan gelar kesarjanaan menciptakan feodalisme baru…”
    aku suka yang ini.
    —————

    Itulah kenyataan yang ada sekarang… Manusia dinilai dari panjangnya titel kesarjanaan yang disandangnya… Bukan dari karya kemanusiaan yang sudah dilakukan untuk kemaslahatan umat…

  11. mburi ne kok yo koyok obrakan banci sih kang wahahahahhahahaha
    —————

    Perlakuan Satpol PP terhadap warga pinggir stren kali…, pedagang kaki lima sama dengan perlakuan yang diberikan Satpol PP terhadap banci….😦

  12. eehm.. enaknya minum kopi nyambi ngeroko.. emang pria punya selera… saluuuut Ki MahendraπŸ˜€
    ————–

    Wakakakakak… Kang Cepot ulah kituk… Abdi teh jadi malu… Sok mangga diminum atuh kopina…πŸ˜€

  13. Manusia sudah tidak menyadari fitrahnya
    Mereka juga sudah tidak menyadari peran mereka di panggung sandiwara dunia ini
    Seandainya kita semua menjalankan peran kita dengan bagaimana mestinya……..
    ————–

    Kata kuncinya ‘menyadari fitrah’, itu artinya mengenali diri sejati, sejatinya diri…πŸ™‚

  14. pertanyaannya? Gimana praktek nyatanya? Bukan lagi menjadi sekedar konsep
    ————–

    Prakteknya jelas panggang jauh dari api… Kondisi obyektifnya malah berbanding terbalik dari konsep yang seharusnya…😦

  15. mencerdaskan kehidupan bangsa???
    kaya’nya jauh dech… hanya dalam mimpi…
    ————–

    mimpi yang jauh dari kenyataan seperti panggang jauh dari apinya…

  16. aturan yang membuat aturannya mas salah orang menurut saya mah sih…hehehehe
    —————

    ya salah orang…, salah sistem.., salah struktur… yang paling parah salah dalam orientasi bebrbangsa dan bernegara…

  17. kayanya memang pendidikan kita masih jarang yang ngasih ilmu…kebanyakan masih ngasih gelar/titel aja. kalo saya pikir sebenernya anggaran nggak jadi masalah, sistemnya malahan yang harus di…kaji ulang.
    kalo lihat “laskar pelangi” dengan kesederhanaan saja bisa menghasilkan anak2 yang “cerdas” nggak cuma sekedar “pintar”…

    jadi inget juga samaa sekolahannya romo mangun…
    —————

    Sayangnya ‘laskar pelangi’ masih berupa bayangan ideal…, bukan kenyataan…

    anggaran memang gak pernah ada masalah…, masalahnya pada political will, nawaitu politik untuk sungguh2 mencerdaskan kehidupan bangsa…

    Romo Mangun salah satunya yang bisa menggabungkan pemkiran Freire dan Ki Hajar Dewantoro…

  18. wah, ra nyandhak utekku maca tulisan duwur kaya ngono kuwi…
    aku lahir, paulo freire, ki hajar dewantara wes nasdut kabeh…
    kuwi freire karo ki hajar ketemu nang ndi ya?
    ————–

    Sing jelas ketemune sak urunge kowe lahir..
    Jarene budayawan…, kok ra nyandak moco tulisanku???
    Wakakakakakak…πŸ˜€

  19. aku lagi mikir, piye carane hamemayu ayuning wanita
    ————-

    telaaaaatttt… wis dilakoni kok lagi mikir piye carane… (doh)

  20. untuk menjadikan negara dan dunia lebih baik gak usah tengok depan belakang kiri kanan….
    kita mulai saja dengan diri kita sendiri
    karena dengan kita sadar diri dan mawas diri negara dan dunia akan otomatis bisa lebih baik

    apik tulisane kang

    saluttt
    ————–

    Matur nuwun… Setuju banget Kang…πŸ™‚

  21. wow… postingan yang bagus, kritis, dan mencerahkan yang digarap secara kreatif dg menggunakan gaya waancara imajiner. konsep trihayu belakangan ini sudah banyak tereduksi oleh berbagai kepentingan. para pengambil kebijakan sudah tak lagi memiliki wisdom dan kearifan. anggaran pendidikan yang seharusnya ditambah justru malah dikepras. agaknya kesadaran logis masih belum juga sanggup mengalahkan kesdaran magis. quovadis dunia pendidikan kita?
    —————

    Nampaknya bendera setengah tiang patut dikibarkan untuk dunia pendidikan kita…😦

  22. sampek bingung aku om mau koment apa
    yang jelas bagus banget nih tulisanya saluut
    ————–

    Makasih atas kunjungan dan komentarnya…

  23. weleh… sampeΒ² Ki Hajar aja di sadap teleponnya sama itempoetih
    ;P
    ————–

    bukan cuma KPK yg bisa nyadap telpon… wakakakak…πŸ˜€

  24. sebuah postingan imajiner
    yang berkualitas, memikat
    dan futuristik…..
    saluuut broπŸ™‚
    ————–

    juragan nongol nich… kemana aja Bro?πŸ™‚

  25. Menyoal tentang pendidikan di Indonesia akhirnya kita selaku orang tua seperti memilih buah simalakama (Aha…pribahasa jadul yang kembali mengemuka) Saya bilang simalakama artinya tidak sekolah salah, dan ketika sekolahpun jadi pilihan yang dipaksakan akhirnya. Entah di mana para menteri2 di papan catur pendidikan ini. koq semakin hari media pendidikan ini makin nggak karuan ajaaaaa….ada yang gratis tapi untuk pihak tertentu, ada yang punya keinginan sekolah lagi terbentur dengan biaya.

    Mudah2an besok lusa ada segelintir orang yang dapat bersedia untuk trihayu…bukan lagi tut wuri handayani…didorong-dorong tapi yang didorong larinya malah ke jurang kesengsaraan. Peace
    —————

    Aha… menteri2 justru keasyikan main catur sampai lupa ngurus pendidikan…

    Trihayu muatannya…, tut wuri handayani paradigmanya…, asah asih asuh metodenya…

    Damai selalu…

  26. Essay yang bagus untuk direnungkan.

    Kelihatannya pemerintah ingin agar dunia pendidikan kita lebih mandiri. Tapi konsekuensinya dunia pendidikan akan berorientasi profit.
    ————–

    Nampaknya banyak yang mengartikan liberalisasi sebagai kemandirian… Yang terjadi akhirnya komersialisasi pendidikan…

  27. Pendidikan yg layak dan bermutu di Indonesia hanya diperuntukkan untuk orang2 yang berduit saja…. Padahal saudara2 kita yg tergolong di tingkat menengah kebawah harus banting tulang untuk bisa menyekolahkan anak2nya, itu juga meraka tidak bisa mendapatkan pendidikan/sekolah yg benar2 bermutu…

    Besok2 bikin tulisan tentang kesehatan mas…. (usul..) walau mungkin ceritanya gak akan jauh berbeda…. tapi setidaknya makin taulah kita kebobrokan pemerintahan sampai saat ini… Sarana Pendidikan dan kesehatan blm bisa dinikmati seluruh rakyat Indonesia.. Sampai kapan Indonesia akan maju????πŸ˜₯

    btw ,aku pamerkan lagi koleksi antikku… dilihat ya….
    thx…
    —————

    Soal kesehatan? Waaaahhhh…, usul yang ok tuch… aku coba cari inpirasi dulu yaaa…

    Ok…, aku segera berangkat…πŸ™‚

  28. Benul, bro… eh Freire n Ki Hajar… Mnrtku, bangsa ini menjadi surut ke belakang. Sangat tidak logis [mengacu pada logika bahwa pendidikan merupakan prioritas tertinggi bagi masyarakat/bangsa yang beradab] untuk pengurangan anggaran.

    Bangsa ini memang tidak pernah belajar dari siapa pun, termasuk belajar pada diri sendiri. Jelas2 bahwa tidak ada negara yang dapat maju tanpa menggarap bidang pendidikan dengan komitmen yg sangat tinggi, masih saja seperti ini. Ini bencana peradaban ya bro…?

    Karakter dan kultur kita memang sejak awal lemah kualitasnya. Cuma kita sering terlalu bangga pada kulit2 kita yang akhirnya menina-bobokkan kita sendiri sampai pada tataran bebal [maaf bro, ini istilah saya sendiri. Jadi jangan marah ya].

    Btw, jurusmu ini jurus maut, bro. Menyengat dan mencerahkan. Jadi, aku masih duduk manis di sini untuk berguru lebih mendalam… Maafkanlah diriku yg hina dina ini… wkwkwkwk…

    Salam hangat, bro..πŸ™‚
    ————–

    Bukankah setiap orang adalah guru bagi yang lain? Wakakakak…πŸ˜€

    Yaaa…, kebanggaan pada kulit, bungkus dan kemasan yang artifisial membuat lupa akan kesejatian diri.

    Dan ini memang sebuah bencana peradaban…

    Salam hangat juga…πŸ™‚

  29. siang mas….. tenang aja mas.. koleksi barang2 antik ku akan terus terawat dan menetap di rumah lho…. gak bakalan hijrah ke luar negeri…. jika mau lihat bisa main ke rumahku ya….πŸ™‚
    —————

    Waaahhh.., dengan senang hati. pengin banget tuuuch… kapan yaaa…
    ok…, nanti aku kabari…

    makasih atas tawarannya…πŸ™‚

  30. menambah pengetahuan saya kalo anggaran pendidikan sampai dipangkas..weleh2..artinya pendidikan gratis yang secara konsisten bisa masih jauh dari angan…mengharapkan sampoerna atau djarum foundation juga gak seberapa signifikan kayaknya
    ————–

    pa kabar mas?
    iyaa…, jauh panggang dari api… mengharapkan dari non government sama saja mengakui bahwa pemerintah telah gagal…😦

  31. lho? perasaan kemarin udah komen deh dsini… atau aku yg amnesia yah??

    wah pelajaran sejarah ini!!
    —————

    bukan amnesia.., tapi kena jetlag…

  32. “Entahlah Ki.., ketika title dan gelar kesarjanaan menciptakan feodalisme baru maka selama itu pula manusia tidak bisa bangkit dari ketertindasan”….
    Sikap dan perilaku yang feodal “katanya” menjadi salah satu ciri “manusia indonesia”.. masihkah bisa diubah?
    Kesadaran magis……. tanpa “trik n magic”, sepertinya mesti meniru “Limbad” berbuat tanpa bicara… tapi klo ngak bicara mana ada yang mo ngerti… ach ngomong apa aku ini…πŸ˜€
    http://serbasejarah.wordpress.com/2009/05/11/mengingat-yang-lupa-tentang-manusia-indonesia-untuk-bangkit-beradab/
    Salam buat Ki Hajar Dewantara
    —————

    Limbad? berbuat tanpa bicara? Saya lebih percaya ‘hijina tekad, ucap dan lampah’ walaupun tidak mudah dilakukan.

    Tapi yakinlah masih bisa ada asa untuk perubahan yang lebih baik walaupun cukup besar ‘biaya’ yang harus ditanggung.

    Segera berangkat menuju TKP. wakakakakak…πŸ˜€

  33. huff..and I feel speechless to read your great writing …salute for you Sir…
    ————–

    Thank you for your compliment (blush)… Not what is written, but whom is read…πŸ˜‰

  34. ketika title dan gelar kesarjanaan menciptakan feodalisme baru maka selama itu pula manusia tidak bisa bangkit dari ketertindasan.

    SEPAKAT…!!!
    ————–

    Yup…πŸ™‚

  35. Wuih, edyan tenan, jurnalistik sundul langit iki…
    Masih terima murid Kang?πŸ˜‰

    Salam Kenal (apa udah kenal ya?)
    ————–

    Kenalan dua kali juga ra popo kok… hehehehe…πŸ˜€
    Tidak terima murid…, disini hanya menerima teman diskusi aja… jiyahahaha…πŸ˜€

    nyundul langit ki piye carane?πŸ˜‰

  36. keren bgt kreasi nya th….

    truz dikembangkan ya….

    emg bner th smw….
    tp apa mw dikata….

    org besar tetap yg pegang kendali….

    Qta hanya imbas doang kan….

    *ntah kapan bsa berubah ne smuanya,,,,????????

    *mgkin ga bakaln deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s