Pemilu, Mencari Kepemimpinan Alternatif ? (Bagian 2 dari 2)

20 pemikiran pada “Pemilu, Mencari Kepemimpinan Alternatif ? (Bagian 2 dari 2)”

  1. aduuuuh segitu hipokritnya mereka yg mz bikin makin nisby memilih..but ga nyuruh golput lho hihi..pisss
    —————–

    Oooohhh iyaaaa…, gak nyuruh golput kok… Nyuruhnya pakai budi nurani… Hehehehehe…

    Btw, kalau kita masuk toko gak berarti harus beli kaaaannn… Hihihihihi… Piisss jugaaaa….

    Thanks dah mampir and leave a comment… :)

  2. Komentar Awie –Kesunyian Jiwa
    1. Jam 6.15 PM isinya : pertamax dulu baru baca he he he
    2. Jam 6.39 PM isinya : pertamax dulu baru baca
    3. Jam 6.44 PM isinya : buat aku birokrat = pelacur
    sama-sama suka jual kehormatan atas nama uang
    calao pemimpin negri tercinta ini memang tidak ada yang mendekati 40% dari kesempurnaan sebagai calon pemimpin,buat aku taik kebo pesta demokrasi tapi gue akan tetap memilih walau dengan mata tertutup biar ga di katakan golput gtw
    ——————

    Sorry berat Bro…, gak tahu kenapa komentarnya hilang… Jadi aku copy dari emailku…

    Tapi aku tetap hitung yang pertamax kok… Hihihihihi…

    Golput itukan kata orang yang tahu kita gak milih… Tapi kalau di dalam bilik suara kan gak ada yang tahu… Katanya bebas dan rahasia… Wkwkwkwkwkw :D

  3. ….. hmmmmm…. wahhh piye…. wahh jannn ra tegel tenan aku…hmmmm piye yo…. sik..kosimik…tak mikir sikik…..

    *4 jam kemudian*

    wahh rung ono sing nyantol je, sik tak gentere… men do tibo…

    *11 minggu kemudian…*

    asikkkkk nemu mas aku nemu [jepat jepat sak karepe] ngene mas… kuda kan binatang to mas ????? wah jan cen aku ki paling… piye yooo… wah dadi teng tlekuk rupaku ki??? opo yo…

    Tipikal, hati nurani dan tidak menjadi golput memang banter orang ceramah soal itu, apalagi komitmen buat para calon pemimpin??? weks cuhhh.

    *5 Taun kemudian*

    piye mas ketemu to? wkwkwkwkwkwkwkwkwk
    ——————–

    Hlaaaa wong ngenteni kowe je… Kok malah ganti tekok… Ora usah digoleki…, ora usah dienteni…, digenter… Mengko rak metu karepe dewe nek wis wancine… Wkwkwkwkwkwk…. :D

  4. wah mas awie itu semoga puas dengan uneg-unegnya ya…
    kondisinya memang menyakitkan hati, dan efeknya menjadikan demokrasi sebagai biangnya, astaqfirulloh…

    aku lebih setuju untuk menyebarkan ini :
    “Untuk itu diperlukan upaya yang lebih serius dalam mencari kepemimpinan alternatif yang sungguh-sungguh berkarya untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Perlu ada paradigma dan cara berpikir baru yang lebih bermartabat dan berorientasi pada kemaslahatan umat serta memiliki akuntabilitas publik yang tinggi dengan membuka ruang kesadaran melalui jejak rekam –track record- dari setiap calon pemimpin atas karya-karya kerakyatan dan kebangsaannya dan bukan janji-janji politik yang belum terbukti.”

    kepada komunitas-komunitas masing-masing dan berkembang dengan cepat, melalui banyak media yang kita punyai, misalnya nongkrong atau tulisan-tulisan di blog

    Yah bagaimanapun kita dituntut untuk memberikan juga yang terbaik minimal kepada sekitar kita…, semampunya… kekeke…
    ———————–

    Setuju mas…, soal kemudian mereka mau atau tidak untuk diajak bener.., itu sudah urusan mereka… Setidaknya kita sudah mencoba untuk mengingatkan… Nuwun… :)

  5. wakaka…

    program profesi capres ki ono bayare ora yo…
    kayaknya menarik juga, kok yang mau naik cuma itu-itu saja…

    mungkin caleg itu juga program profesi juga, program ngaceng kekuasaan hahaha… dan resikonya juga apakah mereka berani kalah bertanding, semoga aja yang kalah bisa legowo, kalo nggak ya ke lalijiwo aja daripada ngisruh.. ya to… kakakkaa
    ———————

    Legowo??? Gak janji deeeeccchhh…. ketemu wae ora gelem.., opo meneh salaman… Jangan-jangan kata ‘legowo’ aja mereka gak kenal… Hihihihihihihi…. :D

  6. Rakyat mungkin saja
    menghendaki munculnya kepemimpinan alternatif
    tapi keinginan itu bakal
    terkendala oleh aturan main pilpres
    sehingga rakyat dipaksa untuk
    memilih yang itu-itu juga…
    pilihannya cuma antara SBY,
    Mega, Prabowo atau Wiranto
    Rizal Ramli tak mngkn bs
    lolos jd capres
    ———————–

    Iyaaa Bro…, katanya demokrasi…. Tapi aturan mainnya tidak demokratis…. Ironis ya Bro… Tabik… :D

  7. Pertanyaan tentang pemilu yang terus mengganggu tidurku: Sudah signifikankah praksis pemilu di Indonesia dengan kemajuan politik masyakarat kita?

    (Halo mas Mahendra, saya mampir lagi… )
    ———————-

    Hallo Mas Heru…, seneng banget hloooo dijenguk… Gimana kabarnya Mas? saya kangen hlooo dengan postingan anda… Hehehe…

    Saya setuju Mas…, baru saja saya tadi diskusi dengan istri soal Pemilu… Kesimpulannya memang nampaknya kita belum siap untuk berdemokrasi secara liberal… Jangankan rakyatnya…, elit politiknya aja belum siap kok…. Baik pemahaman politiknya…, apalagi mentalnya…. Jaauuuuuuuhhhhh…. Wkwkwkwkwkwkwkwk…… :D

  8. idealnya orang akan berpikir ulang jika dipilih menjadi pemimpin apalagi yang bersifat ‘pengabdian’. Lihat saja ketika pemilihan Ketua RT. Rata-rata menolak jadi kandidat. Kenapa? Lalu kenapa orang berebut jadi caleg, presiden, hingga menghamburkan milyaran rupiah?
    ——————–

    Setuju laek… Kalau Ketua RT kan dang adong hepengnya… Kalau jadi anggota anggota DPR dan Presiden kan banyak kali hepengnya…

    Jadi keluar hepeng milyaran rupiah.., kembalinya pun berlipat-lipat… Katanya.., “Hepeng mangatur negaraon…” Hahahahahaha…. :D

    Makasih laek sudah mampir dan komentarnya…. Horas… :)

  9. Paradigma, cara berpikir dan sistem baru yang ideal seperti itu yang justru ditakuti politisi-politisi di Senayan sana. Sehingga dibikinlah regulasi demi mempertahankan sistem yang masih memungkinkan mereka memainkan kedaulatan rakyat sesuka mereka termasuk regulasi mengenai kepemimpinan alternatif.

    Sebenarnya, rakyat punya kesempatan mengubahnya saat Pemilu besok.. kalau mau.
    ———————

    Saya setuju…, selagi ada pilihan… Masalahnya ketika Pemilu tidak bisa memberikan alternatif kepemimpinan baru terus bagaimana rakyat bisa mengubahnya? Tabik…. :)

  10. wew daripada milyaran rupiah dihambur hamburin buat kampanye, mending disumbangin ke fakir miskin aja.
    ko pada berebut ya nyalonin jd presiden, caleg, dll???
    ———————-

    Waaaahhhh…, setuju banget itu… 6.67 Triliun itu kalau dibeliin beras jadi berapa banyak coba??? Pasti banyak yang bisa makan tuch… Yang kelaperan masih banyak kok duit dihambur-hambur…. :(

  11. walaupun smua hanya ntuk uang kita harus milih yang baik untuk rakyat, jangan sampai kita ngak memberikan suara kita key
    ———————–

    Waduuuuuhhh…, milih yang baik untuk saya sendiri aja bingung…, apalagi milih untuk rakyat… Kalau salah milih…, malah dimaki-maki sama rakyat… Mending milih untuk diri sendiri aja yaaa…. Hihihihihihihihi… :D

  12. Lantas… bagaimana dong nasib bangsa kita ini, kalau kita hanya berpangku tangan dan menyerahkan pilihan-pilihan kepada rakyat, dimana rakyatnya sendiri bingung apa yang harus dipilih.. memilih salah, tidak memilihpun salah…

    terima kasih sudah mampir…..
    salam kenal
    ——————-

    Salam kenal juga…

    Mungkin kita harus mulai dari diri kita dan lingkungan terdekat untuk mulai menggunakan budi nurani kita dalam membuat pilihan.., apapun pilihannya.., termasuk pilihan untuk tidak memilih…

    Hati nurani tak pernah salah… Tabik… :)

  13. salam dari bandung

    Para penyembah kekuasaan tanpa rasa malu mempertontonkan kebodohannya di hadapan rakyat dengan iklan politiknya.

    Dan rakyat jelata yang menganut ideologi “asal perut kenyang” mau saja di bodohi oleh janji-janji politik kaum penyembah kekuasaan tanpa ada perasaan di bodohi dari tahun-ketahun dan hanya bisa beronani dalam pikiran menunggu sang ratu adil.

    “betapa gobloknya hidup di negeri para badut”
    http://esaifoto.wordpress.com
    ———————

    Kumaha Teh…, damang?

    Abdi teh bumina ugi di Bandung tea… Nuhun tos mampir di blogna abdi…

    Muhun Teh…, kita yang memang diberi pencerahan untuk melihat persoalan politik dengan lebih jernih sudah semestinya juga mencoba melakukan pencerahan kepada rakyat agar mereka tidak dibodohi terus menerus oleh elit politik yang haus kekuasaan. Nuhun…

    Tabik… :)

  14. kita akan mendapatkan pemimpin, bila sudah mampu merubah sistem politik, bilamana rakyat sudah menjadi subyek bukan objek lagi. Saat ini hanya ceremonial rutin 5 tahu sekali, dengan anggaran triliunan, yang pada akhirnya tidak memberikan dampak banyak pada rakyat. Hati-hati memilih pemimpin…
    —————-

    Supaya hati-hati.., gunakan budi nurani… Setuju mas Bagus? :)

  15. Atau hati nurani dalam logos semesta pengertian (=hati sanubari)?
    Atau hati nurani dalam logos semesta politik praktis (=salah satu nama parpol)? ;-)
    ——————

    Saat ini hati nurani pun sudah dipolitisir. HAti NUrani sudah sanggup memberikan perintah kepada tentaRA agar menembak mahasiswa dalam Peristiwa Semanggi 1998.

    Itu sebabnya saya lebih suka menggunakan istilah budi nurani ketimbang hati nurani. Rasanya lebih pas dan tidak menimbulkan multi tafsir.

    Tabik… :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s