Pemilu, Pseudo-Democracy (bagian 1 dari 2)


logopemilu4
Menjelang Pemilu, wacana yang berkembang tentang siapa yang akan jadi Presiden makin marak dimana-mana. Berbagai fora dan ruang publik seperti terjajah oleh thema tentang siapa yang bakal naik jadi Presiden.

Dari hasil lawatan di dunia maya, fenomena ini juga kental terlihat di berbagai blog. Pro dan kontra dengan berbagai analisa pembenaran tentu disertakan sebagai bentuk dukung mendukung dan tolak menolak yang berbuah silang pendapat dengan ditingkahi oleh komentar-komentar yang seringkali berubah menjadi cacian yang tak bermartabat.

Masih munculnya wajah-wajah lama, baik masih dalam kemasan lama maupun kemasan baru di bursa kandidasi Presiden ditambah munculnya beberapa wajah baru yang mengandalkan kemampuan public relation dan komunikasi massa penuh tebar pesona, saling berebut untuk membius kesadaran publik.

Namun sayangnya dalam sistem politik yang ada sekarang ini dimana ruang demokrasi konon katanya terbuka lebar bagi terciptanya sirkulasi dan regenerasi kepemimpinan pada akhirnya tetap menyisakan kesenjangan politik yang diskriminatif. Aturan-aturan yang tidak tertulis ternyata jauh lebih mengikat ketimbang aturan legal konstitusional.

Aturan legal konstitusional yang mengatakan bahwa setiap warganegara memliki hak yang sama untuk dipilih dan memilih, pada praktek politiknya ternyata dihambat oleh aturan-aturan politik yang tidak tertulis. Menggunakan hak untuk dipilih ternyata jauh lebih mahal biayanya ketimbang hak untuk memilih yang nyata-nyata sangat murah. Hak untuk dipilih mensyaratkan adanya ketersediaan modal sosial yang besar.

Modal sosial yang dimaksud disini adalah bentuk dukungan publik agar minimal bisa ikut bertarung di Pemilu. Modal sosial dimanifestasikan dalam bentuk ketersediaan dukungan suara riil yang dikonsolidasikan melalui kerja-kerja politik dengan menggunakan alat politik dan jejaring politik. Modal sosial bisa dibangun melalui social and political influence yang tentunya memakan proses panjang dan waktu yang lama, apalagi jika dilakukan dalam skala nasional. Namun secara instan, modal sosial juga dapat dibangun dalam waktu yang cepat dengan menggunakan financial influence tentu dengan syarat adanya ketersediaan modal dana dalam jumlah yang sangat besar. Ibarat Candi Sewu yang dibangun dalam waktu semalam dengan kekuatan spiritual, dukungan publik pun bisa diciptakan dalam waktu semalam dengan kekuatan uang.

Selama 32 tahun pemerintahan Soeharto yang sangat despotis, sentralistik dan otoritarian; tidak ada satu orangpun di republik ini yang memiliki kesempatan untuk membangun modal sosial dengan menggunakan social and political influence mengingat setiap upaya yang dilakukan untuk memunculkan kepemimpinan alternatif langsung diberangus dan ditindak secara represif dan opresif dengan tuduhan subversif oleh Soeharto dan gerombolannya.

Kini setelah 10 tahun lebih Soeharto turun dari singgasana kepresidenan, tidak ada satupun orang memiliki modal sosial yang dibangun dengan social and political influence. Oleh karena itu, dalam Pemilu yang akan datang tentu yang muncul hanyalah orang-orang yang memiliki financial influence. Ironisnya, bagaikan lingkaran setan, orang-orang yang memiliki financial influence justru adalah orang-orang lama yang semasa Soeharto ikut mendapatkan previlese untuk bisa menimbun pundi-pundi uangnya.

Artinya, Pemilu sebagai sebuah proses demokrasi masih menjadi pseudo democracy -demokrasi semu- ketika proses demokrasi yang terjadi didasarkan oleh financial influence.

Realita politik ini harus menyadarkan kita betapa demokrasi politik yang terjadi saat ini pada akhirnya secara diskriminatif hanya memberikan hak dipilih kepada segelintir orang saja yang memiliki modal dana cukup besar. Sedang bagi mereka-mereka yang memiliki kualitas, kapasitas serta komitmen kerakyatan dan kebangsaan tapi tidak memiliki modal dana, harus cukup puas dengan duduk manis dan menikmati hak memilih yang masih tersisa untuk dimiliki.

Ini sekaligus adalah pembuktian ketika demokrasi hanya berada di wilayah demokrasi politik tanpa menyertakan demokrasi ekonomi, maka pada saat itulah sesungguhnya kekuasaan bukan lagi dari, untuk dan oleh rakyat.

Tetapi kekuasaan dari uang, untuk uang dan oleh uang.

Selamat berdemokrasi dan sukseskan Pemilu !!!

Advertisements

16 thoughts on “Pemilu, Pseudo-Democracy (bagian 1 dari 2)

  1. Maaf, aku dah pernah ke sini belum ya..

    Pemilu 2009 memang sudah dekat, tapi aku sungguh tak mengerti urusan politik
    ——————

    Kayaknya kok belum yaaa….

    Tidak semua orang ngerti politik. Tapi semua orang pasti berpolitik.

    Ketika politik adalah cara untuk mencapai tujuan, maka sesungguhnya pemberian award antar blogger seperti yang anda tulis dalam postingan anda, adalah bentuk tindakan politik.

    Pemberian award adalah cara, tujuannya adalah membangun persahabatan… Bukankah itu berpolitik??? Hehehehehe…..

    Thanks sudah mampir dan komentarnya. 🙂

  2. pertamaaaxxxxx sikik terus lungo meneh *clingggg*
    ——————

    Oooooalaaaaahhhhh…., cah kentir…. Wakakakakakak…. 😀

  3. ngetok meneh ceproottttt!!!! plenyiiikkkk [halah!! sopo sing ndekek tahu susur neng kene?!! wah jan ra urus tena] lungo meneh *cliiinggg*

    plenyikkk…

    halah!!!

    wis tak mbrangkang wae, ket mau ngilang malah midak i tahu susur…

    plenyik!!!

    halahhhhh!!![cepretan deh!!!diwoco:cape deh]
    ——————

    Hlooooo…, kok koyo umbel.., slendap slendup… Hihihihihihi… 😀

  4. pilih saya aja gimana?
    ——————-

    Kalau gambarnya ada di kartu suara pasti akan saya pilih… Sumprit !!! Hihihihihi…. 🙂

  5. nyalakan sistem, mposting: KLIK!

    Namanya juga Indonesia apa sih gak dibisniskan, pengemis, alasn bangun masjid, panti asuhan, terus jasa keamanan sampai terkencing aja jadi bisnis[ gak semua] nah ‘kere-kere’ papan atas yang notabene punya mental tempe, modal dikit dapatnya berjimpit jimpit a.k.a. ‘bakul’ ngemeng alias politikus nagari ini juga berbisnis, melalui manufer politik [yang gobloknya mudah banget ditebak alurnya dan kelihatan banget sandiwaranya], aplikasi kebijakan asal2an dan pola pikir imperialis, yang notabene mereka bukan punya beban moral politik yang berbasis kemasyarakatan, melainkan kemenangan buat nyicil utang investor2 luar. mulut mereka semonyong itu karena memang mulut itu dibeli untuk menipu dan memanipulatif.

    tabiek
    senoaji

    serius sistem MODE: has been terminated
    ——————

    Ketoke iki bar ngombe obat dadi rodo (rodo hloooo… Hihihihi…) pas komentare…. Wkwkwkwkwk…. 😀

  6. meskipun sistem demokrasi di sini masih terseok-seok, namun masih menjadikan harapan untuk bisa lebih baik.

    kata seseorang bapak-bapak yang sudah uzur dalam sharing kongkow-kongkow saya tadi beliau juga tahu tentag uang-uang-dan uang tersebut, makanya dia malah menganggap momen pemilu ini bisa dijadikan untuk ajang mencari uang, tapi untunglah dia masih memilih itu sebagai suatu strategi untuk cari tambahan katanya.

    saya hanya bisa tertawa lucu ngomongnya dia itu, tapi dalam hati saya merasa kecut, apakah saat ini sedang ada bunuh diri masal (meskipun tidak mati beneran), namun karena memang tidak ada pilihan lain, sehingga harus bersikap seperti itu…
    ——————

    Pada akhirnya semua digiring untuk jadi ‘pelacur’…

    Sak bejo-bejone wong kang lali…, luwih bejo sing eling ln waspodo… 😉

  7. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Pemilu 2009 belum akan melahirkan pemimpin yang dapat membawa perubahan besar bagi bangsa. Ibarat kata, Pemilu 2009 adalah “cuci gudang”. Stok-stok pemimpin masa lalu yang sempat sekian lama tertahan (termasuk juga yang tidak laku) di gudang dikeluarin. Stok itu diperkirakan habis pada 2014. Lalu, barang baru mulai masuk. Nah, di situlah akan ada harapan munculnya pemimpin model baru.
    ——————-

    Saya ingin sekali bisa seyakin anda. Tapi jika melihat stock baru yang ada ternyata masih keluaran dari pabrikan yang sama dengan stock lama. Jadi agak sulit saya bisa menaruh harapan akan munculnya kepemimpinan baru yang sungguh-sungguh berorientasi pada kerakyatan dan kebangsaan. Semoga saya salah… Hehehe… 🙂

  8. aku cuma bisa mereka-reka berapa biaya yang dipakai untuk pemilu. baik dari pemerintah, partai, atau individu peserta pemilu.
    dibahas, om, kaya’nya menarik tuh.
    ada berapa M uang yg beredar. atau mungkin bahkan berapa T. dan kemungkinan pengembalian modalnya seperti apa.

    salam kenal
    ——————-

    Salam kenal juga….

    Anggaran Pemilu yang disetujui pemerintah sebesar 6.67 T dari 8,2 T yang diajukan oleh KPU. Untuk Partai dan para caleg serta capres sulit diketahui berapa tepatnya biaya yang mereka keluarkan. Sebab mereka tentunya takut kalau harus menjelaskan dari mana asal dana yang mereka peroleh. Nanti jadi ketahuan dong kalau selama ini mereka korupsi. Hehehehe…..

    Cara mereka mengembalikan nantinya kalau mereka terpilih, ya tentu dengan cara korupsi… Atau apa mungkin masih ada cara lain? Hihihihi….
    😉

  9. memang banyak yang pesimis dengan pemilu tahun ini..tetapi sebagai negara demokrasi kita cukup bersyukur bahwa proses itu telah berjalan malah kita disodori oleh banyaknya pilihan. jadi semua tergantung kita, akankah lebih baik jika kita setidaknya memilih dari sekian banyak pilihan itu..bila semuanya buruk cari yang buruknya paling kecil dari semua pilihan itu…bagaimanapun itu sudah menjadi konsekwensi dari proses demokrasi negara kita.dan kita sebagai warga negara turut andil dan bertanggung jawab dari proses demokrasi ini, bukankah sudah diberi kebebasan memilih?
    ——————–

    Yang sulit adalah ketika proses demokrasi yang terjadi adalah pseudo-demokrasi (demokrasi palsu) yang walaupun menghadirkan pilihan-pilihan yang banyak tapi tetap palsu.

    Kebebasan memilih memberikan tanggung jawab yang sangat besar atas konsekuensi dan resiko dari setiap pilihan yang dibuat. Keterlibatan hati nurani mutlak menjadi pedoman ketika pilihan dibuat. Untuk apa sebuah pilihan dibuat ketika konsekuensi dan resiko dari pilihan tersebut tidak sepenuhnya dipahami?

    Dan yang terpenting…, kebebasan memilih itu juga seiring dengan kebebasan untuk tidak memilih. Bukankah tidak memilih juga adalah sebuah pilihan??? Tabik…. 🙂

  10. pseudo-democracy (demokrasi palsu),financial influence.itu sudah biasa di negeri yang konon menjunjung tinggi nilai demokrasi ( taik kucing ) sampai sekarang aku ga percaya yang namanya demokrasi,UUD kata slank ( ujung ujungnya cuma duit ) yang menang tapi biar bagai manapun jangan kita lantas jadi golput,ya to kang
    ——————-

    Sebenarnya saya agak bingung dengan istilah golput. Yang saya tahu setiap warganegara punya hak politik untuk menggunakan hak suaranya untuk memilih, juga untuk tidak memilih. Seperti pertanyaan saya di atas, “Bukankah tidak memilih juga sebuah pilihan politik yang dimiliki oleh setiap warganegara???” Terima kasih atas kunjungannya… 🙂

  11. demokrasi sebenarnya akan bagus jika dilakukan pada masyarakat yang sudah mature enough, dan sadar betul dengan pilihannya. tapi jika diimplementasikan pada masyarakat yang tidak mature, akan sangat susah, pilihan pilihan yagn dilakukan tidak mencerminkan pilihan yang “benar”
    ——————

    Setuju Bro !!! 🙂

  12. paradigma kebanyakan politikus memang sudah serba uang. susah juga kalo personalnya udah rakus. binun ya milih apaan.
    ——————–

    Apapun pilihannya.., termasuk juga pilihan untuk tidak memilih.., harus berangkat dari budi nurani. Karena pada saatnya kelak.., setiap pilihan yang dibuat akan dipertanggungjawabkan.. Tabik… 🙂

  13. ilang mas… wis dadi ager2…wkwkwkwkwkwkwk
    ——————

    Comment-mu sing iki sempet dianggap spam… Hihihihihi…. 😀

  14. dalam pandangan saya, para politikus ini sebenernya masih pada berwatak kolonial, mereka masih berfikir bahwa mereka dapat mengambil suara rakyat hanya dengan uang mereka, mungkin benar, tapi satu nama nggak bakal tergoda, brigadista.
    ——————–

    Horeeeeee…., sikap anda membuat barisan akan semakin panjang. Namun keberhasilan akan lebih lengkap ketika anda bisa mengingatkan sebanyak mungkin orang untuk bisa bersikap kritis seperti anda.

    Masa depan bangsa dan negara ini ada di tangan kita.., anda.., saya.., dan orang-orang lain yang masih punya keberpihakan terhadap rakyat, bangsa dan negara ini…

    Selamat berjuang kawan… 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close