Gender dan Kemanusiaan

7 pemikiran pada “Gender dan Kemanusiaan”

  1. Terlalu panjang Mas…
    Intinya…
    Pria & Wanita harus saling menghargai keberadaan masing2..
    Yang pria jangan sok kuat…
    Kan wanita itu lebih panjang umur berdasarkan penelitian
    Yang wanita jangan sok pintar
    Walaupun emang pinteran Wanita sih..
    Hi.. Hi.. Hi..
    ————–

    Untuk orang secerdas anda, tulisan saya memang terlalu panjang.
    Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar…
    😀

  2. Terimakasih masukan atas perbedaan hidup dan kehidupannya.
    saya setuju ada penyadaran tentang hak dan kewajiban mengenai gender ,dan perenungan kembali atas lahirnya gender itu ,karena itu adalah kehendak yang kuasa yang mempunyai fungsi sesuai kehendakNYA. terimakasi kunjungannya jangan kapok mampir ya…
    ————–
    Dengan senang hati.. Saya sekedar ingin berbagi, tak ada niat untuk memberi masukan. Terima kasih juga sudah sudi untuk mampir dan berbagi komentar.

  3. muhammad saw telah merubah tradisi menikah dengan jumlah sesuka lelaki dengan setia kepada satu istri, khadijah.

    kalau hari ini pernikahan cenderung monogami dan banyak yang sehat, disinilah peran besar muhammad saw merubah tradisi yang ada.

    ini sebagai bukti tingginya apresiasi nilai islam yang dibawa muhammad saw terhadap wanita.

    kalaupun dibolehkan sampai dengan empat. ini hanya menunjukkan bahwa ketika ada missi yang disepakati atau kasus dimana kondisi normal tidak ditemukan, ada toleransi s/d empat.

    maka esensi dari monogami muhammad saw dengan khadijah ditengah budaya kebebasan lelaki beristri banyak adalah sebuah proses pemuliaan wanita tengah dimulai. dan kita sekarang disini harus melanjutkannya.

    bismillah…
    dimulai dari diri saya. dan doakan ya…
    ———–

    Amien…, Ya Rabbal alamien…
    Mari kita saling doa mendoakan dan ingat mengingatkan dengan penuh kesabaran.

    Kumaha Kang…, damang? Kita tetanggaan yaaa….😉

    Tabik….

  4. Makasi bgt atas “sedikit namun bermakna” komentarnya…

    Pada akhirnya kita memang harus memilih sebuah persfektif yang khas dalam memandang “apa-apa yang mampu dipandang di dunia ini”…
    ———
    😀 Terima kasih juga sudah mampir dan meninggalkan komentar.

  5. Lam kenal
    Numpang lewat maz…
    —————

    Monggo Mbak…, dengan senang hati… Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar… Tabik… 🙂

  6. Barang kali tidak ada salahnya jika kita berkiblat pada arti kemanusian yang di usung oleh Karl Marx…
    konsep manusia yang bebas menggunakan semua potensi yang dimilikinya tanpa mendapat tekanan dari pihak manapun, bebas memilih jalan hidup yang terbaik…

    numpang lewat..
    artilenya menarik untuk diangkat kepermukaan..
    —————–

    Saya suka Marx terutama pemikirannya saat-saat masih muda dan belum bergabung dengan Engels.

    Terutama deskripsinya tentang teori kelas antara kaum proletar dan borjuasi yang sarat dengan ketidakadilan dalam penguasaan alat-alat produksi dan distribusi.

    Namun sayangnya Marx gagal untuk melihat manusia secara lebih komprehensif. Marx lupa, bahwa yang disebut kebebasan sesungguhnya tidak pernah bebas. Apa yang dikatakan oleh Marx bahwa, “Sikap dan perilaku manusia sangat ditentukan oleh kesadaran materialnya” sesungguhnya adalah sebuah pernyataan yang secara tersirat ingin menyampaikan pesan bahwa manusia sesungguhnya tidak bebas memilih.

    Satu saja fakta yang diangkat dalam sebuah pertanyaan, “Mengapa kita terlahir dari orang yang menjadi ayah dan ibu kita sekarang?” Saya yakin Marx tidak mungkin bisa menjawabnya karena kita tidak bisa memilih secara bebas siapa orang tua kita. Demikian pula dengan orang tua kita yang tidak bisa memilih siapa yang menjadi anaknya.

    Mengenali kemanusiaan kita secara utuh hanya mungkin ketika kita tahu dari mana kita berasal, untuk apa kita dilahirkan dan kemana kita setelah mati.

    Hanya dengan upaya kontemplatif dan transendental di dalam ruang diri yang personal, jawaban itu akan ditemukan.

    Bukan pada Marx…

    Tabik…🙂

  7. anak saya perempuan, tidak pernah saya ajari juga ketertarikannya berbeda sama laki-laki kok, … dan bagi manusia laki-laki jika pengin punya anak yang pintar maka hormatilah perempuan karena gen kecerdasan menurun dari perempuan dan manusia laki-laki itu hanya numpang nongkrong aja pada si anak… wakaka
    —————

    jadi terbukti bahwa benar dari Ken Dedes lah diturunkannya raja-raja jawa.., bukan Ken Arok…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s