Gender dan Kemanusiaan


“Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya, nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya.
Zaman kalabendu itu seperti jaman yang menyenangkan, jaman kenikmatan dunia, tetapi jaman itu sebenarnya jaman kehancuran dan berantakannya dunia.

(Petikan Jongko Joyoboyo)

Beberapa waktu terakhir ini ada sebuah wacana yang muncul mengepung ruang kesadaran pribadi dari berbagai arah. Bermula dari petualangan maya dari satu blog ke blog lain, dari satu website ke website yang lain, sampai berlanjut puncaknya tatkala hadir sebuah naskah pidato kebudayaan yang kesemuanya itu bicara tentang perempuan. Tentang diskriminasi, tentang ketidakadilan dan penindasan terhadap perempuan, manusia perempuan.

Ini bukan sesuatu yang baru memang, namun entah mengapa tiba-tiba sekarang semuanya serentak menyeruak masuk mengusik akal budi nurani membuat diri tak kuasa untuk tidak menuangkannya dalam tulisan.

Jelas, tulisan ini sekedar buah pikir hasil dari sebuah proses perjalanan panjang kehidupan yang sangat personal dan subyektif. Bukan sebuah naskah pidato yang akan dibacakan dihadapan khalayak luas. Tidak juga sebagai upaya untuk menggali kapak peperangan atas perbedaan pemahaman terhadap issue yang sangat sensitif, terutama bila ini ditulis oleh seorang laki-laki.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memperkuat referensi yang sudah ada, sebaliknya juga bukan untuk mendapatkan pembenaran dari berbagai referensi yang sudah ada. Tidak untuk mendukung, juga tidak menentang gagasan yang sudah ada. Sekali lagi ini cuma sepenggal pemikiran yang mengalir dari sebuah proses dialektika perjalanan hidup. Suatu hasil rangkuman dari dialog imajiner antar diri sendiri dengan diri pribadi.

Hakikat Kemanusiaan

Aneh mungkin mendengar kata ‘manusia perempuan’. Tentu pilihan kata ini bukan tanpa maksud. Seperti halnya juga penyebutan ‘manusia laki-laki’, penggunaan kata ‘manusia’ menjadi sangat mendasar untuk memberikan aksentuasi atas adanya kesamaan antara perempuan dan laki-laki. Keduanya sama-sama manusia.

Rasanya pilihan pendekatan dari sisi ‘manusia’ untuk membuka pintu masuk pembahasan tentang gender terasa jauh lebih manusiawi dan bermartabat untuk menemukan apa yang seharusnya –das sollen– atas eksistensi keberadaan manusia.

Sebagai mahluk berTuhan, lepas apapun agama yang dianut, semua pihak tentu setuju bahwa manusia diciptakan melalui proses penciptaan oleh sebuah Maha Kehendak. Terlepas apakah itu dari sebuah proses evolutif yang secara primitif berasal dari satu sel tunggal yang kemudian berkembang selama jutaan tahun hingga membentuk homo sapiens, ataupun dari dua manusia awal yang dalam agama samawi disebut sebagai Adam dan Hawa.

Sang Maha Kehendak, yang dikenal dengan nama Allah, Hyang Widhi, Yahwe, atau apapun namanya, memang berkehendak atas adanya alam semesta beserta isinya termasuk manusia yang hidup di dalamnya. Dia adalah awal juga sekaligus akhir.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, “Apa sesungguhnya kehendak Sang Maha Kehendak dengan menciptakan manusia terdiri dari dua jenis, perempuan dan laki-laki?” “Bukankah lebih mudah jika proses evolusi atau penciptaan manusia sejak awal diarahkan untuk hanya satu jenis saja, perempuan saja atau laki-laki saja?” Tentu tidak akan ada pertentangan gender seperti sekarang ini. Toch hubungan sesama jenis pun saat ini juga sudah memasyarakat. Bahkan di sejumlah Negara maju, pernikahan antar sejenis sudah dilegalkan.

Pertanyaan ini penting untuk mendapatkan jawaban orisinal dan hakiki yang bukan semata-mata versi dongeng turun temurun milik parokial dan para ulama serta brahmana yang harus diimani secara dogmatis mengingat kelembagaan agama pun tak kuasa menghindari terjadinya bias atas tafsir literasi pewahyuan di wilayah silang pendapat pro kontra yang terjadi. Tak heran, ini sebuah keniscayaan yang terjadi karena kelembagaan agama juga tak bisa terhindar dari subyektifitas gender yang cenderung patriarki.

Masalahnya kemudian, bagaimana dan dimana jawabannya harus ditemukan?! Mengingat ini bukan lagi kebenaran sepihak yang dimonopoli oleh otoritas keagamaan yang dibangun diatas dogma-dogma usang tanpa ada keinginan sedikitpun untuk melakukan revitalisasi terhadap nilai-nilai spiritual religius.

Tatkala wilayah keagamaan terlarut dalam silang sengketa tentang gender, maka satu-satunya wilayah netral yang memiliki otoritas untuk memberikan jawaban secara tepat dan obyektif -tanpa siasat muslihat- yang masih tersisa ialah wilayah keIllahian yang tidak pernah melakukan keberpihakan pro dan kontra terhadap salah satu gender.

Illah, Gusti Sang Maha Kehendak adalah perwujudan kesempurnaan gender. Dia bukan laki-laki juga bukan perempuan, apalagi transgender. Dia adalah unifikasi yang sempurna dari energi feminin dan maskulin.

Manusia sebagai perwujudan kuasaNya yang paling sempurna tentunya mewarisi kesempurnaannya. Hanya sayangnya, kesempurnaan manusia tidak taken for granted begitu saja langsung diwariskan. Namun diperoleh melalui upaya pencarian jati diri menuju kesempurnaan.

Masalah gender, merupakan satu dari banyak aspek kehidupan yang memberi stimulus kepada manusia untuk berupaya mencari jalan pencarian jati diri kemanusiaan untuk menuju pada fitrah kesempurnaannya. Oleh sebab itu, jawaban atas masalah gender hanya bisa ditemukan di wilayah kedalaman relung diri yang imanen dan transendental melalui hubungan langsung antara manusia yang diciptakan dengan Sang Maha Kehendak yang menciptakan. Tidak ada satu otoritas apapun di dunia ini yang boleh bertindak sebagai juru bicara untuk memberi jawaban atas pertanyaan tersebut kecuali Sang Maha Pencipta itu sendiri. Dalam logika yang paling sederhana, tentu yang paling mengerti eksistensi kesejatian suatu benda adalah yang menciptakan benda tersebut.

Pada konteks itu, rujukan untuk mendapatkan jawaban tersebut bukan lagi terletak pada kitab-kitab dan literatur keagamaan ataupun ilmiah yang dipenuhi oleh keterbatasan pemahaman akal pikir manusia yang penuh dengan muslihat dan arogansi intelektual. Namun lebih pada proses pencarian ke dalam diri, pencarian jati diri kemanusiaan di wilayah ke Ilahian dengan penuh kejujuran terhadap diri sendiri.

Hanya dengan jawaban tersebut segala sesuatu yang terkait dengan masalah eksistensi keberadaan perempuan dan laki-laki berikut dengan pola interaksi keduanya akan dapat memperjelas posisi, peran, hak, kewajiban, tanggung jawab dan fungsi kemanusiaan masing-masing dalam kesadaran yang penuh diliputi cinta kasih antar sesama manusia.

Kekinian

Menjadi wajar ditengah –das sein– realita hiruk-pikuk dan gegap gempitanya modernitas perkembangan jaman dimana nilai-nilai kemanusiaan semakin termarjinalkan oleh nafsu pemujaan kebendaan yang memuliakan materi diatas segalanya, dinamika hubungan perempuan dan laki-laki mencapai titik nadirnya.

Manusia, perempuan dan laki-laki, kehilangan pengamatan atas dirinya sendiri. Keduanya saling memperebutkan wilayah eksistensi untuk saling menonjolkan kemuliaan dirinya. Manusia mencoba menjelajah wilayah-wilayah diluar dirinya sebagai upaya untuk mengisi kekosongan jiwanya. Manusia terperangkap dalam labirin kehidupan yang membuat mereka makin tersesat jauh dari nilai kesejatiannya sebagai manusia paripurna. Manusia terjebak dalam rutinitas kehidupan yang dingin, mekanis dan reptitif sehingga membuat mereka tidak hanya terasing satu dengan yang lain, namun juga terasing dengan dirinya.

Berbagai dinamika yang berkembang saat ini dengan berbagai varian permasalahan yang terjadi adalah sebuah resultante dari sebuah keniscayaan kodrati yang bekerja secara dialektis pada aras hukum kausalitas menuju pemurnian kembali kualitas nilai kemanusiaan demi meluruskan arah gerak sejarah peradaban umat manusia.

Sebagai manusia, perempuan dan laki-laki, saat ini pada akhirnya kita hanya dihadapkan pada dua pilihan; “menyelesaikan proses pencarian jati diri kemanusiaan sebagai upaya mengkalibrasi energi kemanusiaan kita selaras dengan energi keIlahian untuk ikut serta dalam proses pemurnian kembali arah gerak sejarah peradaban umat manusia?, atau memelihara subur pertikaian dan anarkhisme gender untuk terus saling menegasikan eksistensi satu dengan eksistensi yang lain hingga akhirnya musnah tergilas oleh perubahan kosmik yang terjadi?”

Semua terpulang kepada anda.

Tatwam Ashi

Bhinneka Tunggal Ika

Tan Hana Dharma Mangrwa

Bandung, 19 Nopember 2008

Advertisements

7 thoughts on “Gender dan Kemanusiaan

  1. Terlalu panjang Mas…
    Intinya…
    Pria & Wanita harus saling menghargai keberadaan masing2..
    Yang pria jangan sok kuat…
    Kan wanita itu lebih panjang umur berdasarkan penelitian
    Yang wanita jangan sok pintar
    Walaupun emang pinteran Wanita sih..
    Hi.. Hi.. Hi..
    ————–

    Untuk orang secerdas anda, tulisan saya memang terlalu panjang.
    Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar…
    😀

  2. Terimakasih masukan atas perbedaan hidup dan kehidupannya.
    saya setuju ada penyadaran tentang hak dan kewajiban mengenai gender ,dan perenungan kembali atas lahirnya gender itu ,karena itu adalah kehendak yang kuasa yang mempunyai fungsi sesuai kehendakNYA. terimakasi kunjungannya jangan kapok mampir ya…
    ————–
    Dengan senang hati.. Saya sekedar ingin berbagi, tak ada niat untuk memberi masukan. Terima kasih juga sudah sudi untuk mampir dan berbagi komentar.

  3. muhammad saw telah merubah tradisi menikah dengan jumlah sesuka lelaki dengan setia kepada satu istri, khadijah.

    kalau hari ini pernikahan cenderung monogami dan banyak yang sehat, disinilah peran besar muhammad saw merubah tradisi yang ada.

    ini sebagai bukti tingginya apresiasi nilai islam yang dibawa muhammad saw terhadap wanita.

    kalaupun dibolehkan sampai dengan empat. ini hanya menunjukkan bahwa ketika ada missi yang disepakati atau kasus dimana kondisi normal tidak ditemukan, ada toleransi s/d empat.

    maka esensi dari monogami muhammad saw dengan khadijah ditengah budaya kebebasan lelaki beristri banyak adalah sebuah proses pemuliaan wanita tengah dimulai. dan kita sekarang disini harus melanjutkannya.

    bismillah…
    dimulai dari diri saya. dan doakan ya…
    ———–

    Amien…, Ya Rabbal alamien…
    Mari kita saling doa mendoakan dan ingat mengingatkan dengan penuh kesabaran.

    Kumaha Kang…, damang? Kita tetanggaan yaaa…. 😉

    Tabik….

  4. Makasi bgt atas “sedikit namun bermakna” komentarnya…

    Pada akhirnya kita memang harus memilih sebuah persfektif yang khas dalam memandang “apa-apa yang mampu dipandang di dunia ini”…
    ———
    😀 Terima kasih juga sudah mampir dan meninggalkan komentar.

  5. Lam kenal
    Numpang lewat maz…
    —————

    Monggo Mbak…, dengan senang hati… Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar… Tabik… 🙂

  6. Barang kali tidak ada salahnya jika kita berkiblat pada arti kemanusian yang di usung oleh Karl Marx…
    konsep manusia yang bebas menggunakan semua potensi yang dimilikinya tanpa mendapat tekanan dari pihak manapun, bebas memilih jalan hidup yang terbaik…

    numpang lewat..
    artilenya menarik untuk diangkat kepermukaan..
    —————–

    Saya suka Marx terutama pemikirannya saat-saat masih muda dan belum bergabung dengan Engels.

    Terutama deskripsinya tentang teori kelas antara kaum proletar dan borjuasi yang sarat dengan ketidakadilan dalam penguasaan alat-alat produksi dan distribusi.

    Namun sayangnya Marx gagal untuk melihat manusia secara lebih komprehensif. Marx lupa, bahwa yang disebut kebebasan sesungguhnya tidak pernah bebas. Apa yang dikatakan oleh Marx bahwa, “Sikap dan perilaku manusia sangat ditentukan oleh kesadaran materialnya” sesungguhnya adalah sebuah pernyataan yang secara tersirat ingin menyampaikan pesan bahwa manusia sesungguhnya tidak bebas memilih.

    Satu saja fakta yang diangkat dalam sebuah pertanyaan, “Mengapa kita terlahir dari orang yang menjadi ayah dan ibu kita sekarang?” Saya yakin Marx tidak mungkin bisa menjawabnya karena kita tidak bisa memilih secara bebas siapa orang tua kita. Demikian pula dengan orang tua kita yang tidak bisa memilih siapa yang menjadi anaknya.

    Mengenali kemanusiaan kita secara utuh hanya mungkin ketika kita tahu dari mana kita berasal, untuk apa kita dilahirkan dan kemana kita setelah mati.

    Hanya dengan upaya kontemplatif dan transendental di dalam ruang diri yang personal, jawaban itu akan ditemukan.

    Bukan pada Marx…

    Tabik… 🙂

  7. anak saya perempuan, tidak pernah saya ajari juga ketertarikannya berbeda sama laki-laki kok, … dan bagi manusia laki-laki jika pengin punya anak yang pintar maka hormatilah perempuan karena gen kecerdasan menurun dari perempuan dan manusia laki-laki itu hanya numpang nongkrong aja pada si anak… wakaka
    —————

    jadi terbukti bahwa benar dari Ken Dedes lah diturunkannya raja-raja jawa.., bukan Ken Arok…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close