Reforma Agraria dan Rezim Orde Baru


Kelahiran Rezim Orde Baru yang dipanglimai oleh Soeharto setelah peristiwa Gestok 1965 sekaligus menengarai lahirnya kapitalisme kroni yang disemangati oleh corak pemerintahan otoritarian yang despotis, militeristik, represif dan opresif.

Munculnya kapitalisme kroni ini adalah bentuk keberpihakan Rezim Orde Baru kepada kepentingan Kapitalisme internasional sebagai konsekuensi logis politik balas budi berkat adanya dukungan atas tahta kepresidenan yang diterimanya.

Pembangunan nasional ala Orde Baru hasil rancangan para Begawan ekonomi yang dikenal sebagai kelompok mafia Berkeley, menekankan pada tahap-tahap pertumbuhan ekonomi yang tinggi sesuai teori ekonomi pembangunannya WW. Rostow. Konsep Pembangunan Nasional ini dibuat demi melayani kepentingan para investor asing -kapitalisme internasional- untuk menjarahi kekayaan alam Indonesia.

Keimanan kapitalisme yang selalu menuhankan kapital ditambah dengan semangat kroni yang sangat nepotis dan elitis secara perlahan dan pasti membunuh sistem ekonomi kerakyatan yang berbasis pada pasal 33 UUD 1945.

“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”, dengan segenap turunannya termasuk Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria tidak lagi dijalankan sesuai dengan jiwa dan semangat Pembukaan UUD 1945.

Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak, tidak lagi dikuasai oleh Negara melainkan oleh para investor asing. Negara tak lebih hanya menjadi mandor dan tukang pukul dari kepentingan investor asing.

Seluruh kekayaan alam, termasuk tanah dengan segala isinya, baik yang berada di dalam tanah maupun yang terdapat di atasnya, tidak lagi dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Tanah yang menjadi wilayah dimana rakyat tinggal dan hidup diatasnya tidak lagi mampu membuat rakyat berdiri di atas kaki sendiri.

Kehidupan agraris rakyat Indonesia yang sebagian besar adalah petani sangat bergantung sepenuhnya pada kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati, akhirnya menempatkan rakyat seperti tikus yang mati di lumbung padi. Sungguh ironis.

Kini, 10 tahun paska tumbangnya Soeharto dari singgasana kekuasaannya yang otoritarian, tidak juga memperlihatkan adanya upaya yang signifikan untuk mengembalikan arah kebijakan penyelenggaraan Negara sesuai dengan jiwa dan semangat Pembukaan UUD 1945.

Pergantian Presiden yang terjadi beberapa kali serta Pemilu langsung tahun 2004 yang dilaksanakan secara demokratis justru nyata-nyata memberikan legitimasi politik kepada para pengusaha kapitalis yang tadinya berlindung di balik punggung para politisi, untuk muncul berkuasa dan bertindak langsung sebagai penyelenggara Negara.

Situasi dan kondisi yang berkembang sekarang ini makin membuat panggang jauh dari apinya. Ekonomi kerakyatan yang berbasis pada kehidupan agraris makin tidak memiliki tempat di bumi pertiwi Indonesia. Kekuatan kapital semakin merajalela sementara keberadaan petani makin jauh termarjinalkan.

Reformasi memang terjadi, tapi nampaknya bukan untuk petani. Reformasi hanya menghasilkan pergantian Presiden dan bagi-bagi kekuasaan. Reformasi kekuasaan yang elitis tanpa kemaslahatan rakyat. Masalah petani hari ini masih sama dengan masalah yang dihadapi petani semasa kekuasaan Soeharto.

Peringatan Hari Tani Nasional Indonesia pada kamis, 16 Oktober 2008, yang melibatkan 32 organisasi massa tani, buruh, mahasiswa dan organisasi non-pemerintah yang tergabung dalam Komite Bersama Hari Tani Nasional (KBHTN) dilakukan dengan menggelar aksi damai yang bertema Wujudkan Kedaulatan Pangan dan Hak Asasi Petani dengan Melaksanakan Agenda Reforma Agraria.

Peristiwa yang terjadi ini menjadi indikator bagi kita semua bahwa sekalipun kekuasan dan sistem telah berganti atas nama reformasi, namun demikian rezim yang berkuasa tetaplah rezim Orde Baru. Sistem dan struktur pemerintahan boleh saja berubah, namun sistem nilai dan sistem keyakinan serta sikap perilaku penyelenggara Negara masih tetap sama dengan semasa Soeharto.

Rasanya, aksi damai saja tak cukup untuk merubah sistem nilai dan sistem keyakinan serta sikap perilaku penyelenggara Negara yang sudah berakar berurat. Sudah saatnya mulai dibuka ruang pilihan cara dan alat yang lebih radikal dan revolusioner agar agenda reforma agraria bisa segera terwujud demi tercapainya kedaulatan pangan yang berkeadilan dan berkemakmuran.

Tentunya dengan tetap penuh semangat dan percaya diri menyelesaikan urusan dalam negeri tanpa pelibatan dunia internasional agar tidak menjadi pintu masuk bagi hidden agenda kepentingan asing yang mengambil kesempatan atas konflik yang terjadi pada ‘rumah tangga’ kita.

Hanya keledai yang terantuk dua kali pada lubang yang sama.

Bandung, Senin, 20 Oktober 2008

Advertisements

1 thought on “Reforma Agraria dan Rezim Orde Baru

  1. Memang reformasi telah terjadi tetapi kalau saya lihat rezim pemerintahan sekarang tidak jauh beda dengan jamannya pemerintahan Soeharto bahkan sekarang lebih parah dan jauh dari harapan masyarakat bangsa Indonesia. Kita lihat saja para elite partai sekarang berlomba-lomba untuk mendapatkan kursi di Legislatif yang nyata-nyata latar belakang pendidikannya sedikitpun tidak mengecam pendidikan yang pantas untuk menduduki posisi untuk ditempati,………..sekarang pertanyaannya mau dibawa kemana bangsa/masyarakat ini nantinya ……..ataukah memang disetting seperti itu ??? sehingga dengan nikmatnya para elite partai mengobok-obok kita rakyat yang mempunyai hak-hak sebagai warga negara untuk memperkaya diri mereka sendiri. Mari kita semua protes …!!!!!!!!!!!!
    —————

    Nampaknya protes saja tidak cukup, perlu dibuka ruang pilihan cara dan alat yang lebih radikal dan revolusioner untuk memperbaiki kondisi bangsa yang kian terpuruk.

    Ketika rakyat diam dan membiarkan elit politik berlaku semena-mena menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri dan golongannya, itu artinya rakyat turut berkontribusi atas keadaan carut marut yang saat ini terjadi.

    Pilihannya.., diam tergilas musnah…, atau bangkit berjuang demi hari depan yang lebih baik..

    Semua terpulang kepada kita..

    Tabik…. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close