Penemuan Kembali Hakekat Kehidupan


Modernitas kehidupan saat ini telah menenggelamkan manusia dalam rutinitas keseharian yang sangat mekanis. Rutinitas yang repetitif setiap harinya dijalani dari detik ke detik, jam ke jam, hari ke hari, waktu ke waktu seperti sebuah labirin yang kita tidak pernah tahu kemana ujungnya.

Pagi-pagi sekali mereka berangkat berlomba-lomba menuju tempat kerja bagaikan sekumpulan lebah yang terbang dari sarangnya, dan baru pulang sore bahkan malam hari dengan penuh kelelahan. Tak ada lagi waktu bercengkrama dengan anggota keluarga, apalagi dengan tetangga. Dibalik tembok-tembok rumahnya yang tinggi mereka hidup teralienasi dari lingkungannya. Tak hanya itu, mereka juga teralienasi dari dirinya sendiri.

Ketika mereka ditanya untuk apa mereka melakukan itu, bak sekumpulan burung gagak mereka serempak menjawab, “Mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup…”. Sederhana bukan ?. Nampaknya begitu, namun mungkin tidak setiap orang memahami apa sejatinya makna kalimat sederhana tersebut. Mari kita coba melakukan perenungan untuk menggali kedalaman kalimat tersebut agar mendapatkan makna sejatinya, setelah itu mari kita perbandingkan dengan apa yang kita lakukan selama ini. Bagaimana menurut anda ?.

Hari ini kita tinggal di rumah petak kontrakan belakang pasar dan pulang pergi kerja dengan kendaraan umum. Wajar seandainya kita mengangankan untuk punya rumah sendiri walaupun kecil dan terletak agak di luar kota, ditambah dengan kendaraan pribadi sekalipun hanya sepeda motor hitung-hitung untuk efisiensi. Tatkala angan-angan itu berubah menjadi kenyataan, apakah itu cukup dan berhenti sampai disitu saja ?. Kok rasanya musykil angan-angan itu terhenti sampai disitu. Mulailah kita membangun angan-angan baru untuk membeli rumah yang lebih besar dengan alasan mungkin anak-anak sudah besar sehingga perlu kamar lebih banyak karena mereka butuh privacy, atau mungkin juga dengan alasan mencari lokasi di dalam kota setidaknya agar lebih dekat ke kantor atau ke sekolah favorit anak-anak, dan tak lupa tentunya untuk berpergian sekeluarga, sepeda motor sudah tidak lagi memadai untuk sebuah keluarga besar sehingga kebutuhan akan mobil dianggap sudah mendesak. Seandainya angan-angan itu juga menjelma menjadi kenyataan, apakah itu cukup dan berhenti sampai disitu saja ?. Tentu saja jawabannya tidak !.

Ilustrasi di atas mungkin terlalu sederhana untuk menggambarkan sebuah fenomena sosial. Sesungguhnya masih banyak lagi variabel stimulus yang membuat kita tidak pernah merasa terpuaskan. Ironisnya, variabel yang sekarang ini justru paling dominan  mengambil ruang kesadaran manusia modern, adalah prestise atau gengsi !.

Walhasil, alasan “Mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup” makin lama makin mengalami pergeseran makna -kalaupun tidak bisa dikatakan kehilangan makna-. Manusia tak ubahnya persis seperti anjing yang sedang mengejar ekornya sendiri, berputar-putar sampai kelelahan tanpa pernah berhasil mendapatkannya. Mungkin analogi tersebut terkesan agak hiperbola, sinikal atau malah sarkastik. Tapi mungkin itu gambaran yang paling tepat untuk mewakili keadaan yang saat ini banyak dialami manusia modern.

Di banyak Negara maju yang serba modern dimana sebagian besar masyarakatnya sudah mencapai taraf hidup yang tinggi dan sejahtera secara materi, ternyata justru memperlihatkan adanya gejala baru. Tatkala materi sudah tercukupi bahkan cenderung melimpah, mereka justru mengalami emptiness atau kekosongan jiwa. Mereka sudah tidak tahu apa lagi yang masih bisa memuaskan dahaga kekosongan jiwa mereka hingga akhirnya mereka mencoba mencari-cari kepuasan baru dengan melakukan eksperimen-eksperimen atas hidup mereka. Mereka rela melakukan kegilaan-kegilaan yang bisa memompa adrenalin pada batas maksimal meskipun resikonya mereka harus  kehilangan nyawa.

Gaya hidup yang nyeleneh (funky ?!), mulai dari dandanan, jenis musik, makanan, aktifitas seks massal atau bertukar pasangan, ‘olah raga’ beresiko tinggi, sampai penyimpangan perilaku sosial yang semata-mata dilakukan untuk mencari sensasi-sensasi yang mampu melepas dahaga kekosongan jiwa mereka. Memang tidak semuanya mengekspresikannya dengan cara seperti itu. Aktor Richard Gere contohnya, dia malah tertarik untuk mendalami Buddhism. Bahkan ada yang meninggalkan semua harta benda yang dimiliki sekedar untuk memulai kehidupan baru yang menyatu dengan alam, mencoba back to nature.

Lalu apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup ini ?. Seandainya saya yang ditanya, jawabannya sederhana saja : “Ketentraman”. Lalu apa itu “Ketentraman” ?. Apakah kemakmuran atau kesejahteraan itu menjamin adanya “Ketentraman” ?!. Ataukah keadilan yang menjamin “Ketentraman” ?!. Saya yakin dengan kewarasan yang kita miliki, kita akan bersepakat bahwa jawabannya cuma satu, TIDAK !. Lalu ?!. Saya mencoba mendefinisikannya,  “Ketentraman” adalah sebuah situasi dan kondisi dimana di dalamnya ada keseimbangan antara lahir dan bathin, jasmani dan rohani, jiwa dan raga. Ada keteraturan yang dinamis, tidak statis, jumud apalagi mekanis. Suatu situasi dan kondisi dimana segala sesuatu berjalan sebagaimana sejatinya. Manusia berperilaku sebagaimana sejatinya, binatang berperilaku sebagaimana sejatinya, tumbuhan pun berperilaku sebagaimana sejatinya, sehingga tercipta keseimbangan, keserasian dan keselarasan antara makro kosmos dengan mikro kosmos, antara jagad besar dengan jagad kecil, antara alam dengan manusia.

Apakah ini utopia ?!. Tentu saja tidak !, karena itu memang yang dikehendaki oleh Sang Khalik. Kalau itu dikatakan utopia, maka sama artinya kita mengatakan bahwa Sang Khalik adalah utopis. Tentu sebagai manusia yang berTuhan, terpikirpun tidak untuk mengatakan Dia adalah utopis, kecuali kalau anda tidak berTuhan.

Di dunia yang serba menggunakan akal, rasio, kuantitatif dan kebendaan seperti sekarang ini, tentu saja keseimbangan, keserasian dan keselarasan yang dimaksud semakin lama semakin memudar, dan lihat apa akibatnya ?!. Pada manusia, anda bisa saksikan sendiri di acara-acara kriminalitas pada tayangan layar kaca di berbagai saluran, begitu banyak kekejian dan kebiadaban antar manusia yang tak pernah habis-habisnya diberitakan.  Pada alam, anda juga bisa saksikan bahkan rasakan sendiri berbagai bencana ketika alam berunjuk rasa atas ulah manusia seperti yang terjadi sekarang ini di berbagai belahan dunia.

Itu semua terjadi disebabkan karena nurani, kalbu, roso-pangroso dan spiritualitas pun pada akhirnya dirasionalkan, dikuantifikasi bahkan dimaterialkan dalam sebuah baku mutu yang diatasnamakan aturan-tatacara (syariat) dengan segala atributnya tanpa tahu yang sejatinya. Manusia cuma beragama tapi tidak lagi berTuhan. Mereka malah mencoba berdagang dengan Tuhan, kebaikan di-trade-off dengan pahala agar mendapat imbalan surga yang konon katanya sentausa, membahagiakan dan indah tiada tara, sementara kejahatan di-trade-off dengan dosa sehingga mendapat ganjaran neraka yang juga konon katanya panas, mengerikan dan menyiksa. Prosesi ritual keagamaan riuh rendah diselenggarakan kapanpun, dimanapun oleh siapapun dengan gegap gempita namun tanpa ada lagi nilai-nilai religiusitasnya yang sakral. Manusia tidak lagi menjadi manusia karena telah kehilangan nilai-nilai keTuhanannya.

Sesungguhnya “Ketentraman” bukanlah barang mewah yang hanya bisa dibeli oleh segelintir orang yang berkantong tebal. Dia bukan sesuatu yang bisa ditabulasi dengan angka-angka statistik atau dinotasikan dalam satuan deret ukur atau deret hitung. Dia bukan pula sesuatu yang diimpor dari luar diri kita seperti layaknya kita minum obat analgetik penghilang sakit kepala, melainkan sesuatu yang sudah ada tapi terlupakan dalam diri kita dan selalu menunggu untuk kita ajak  bercengkerama asyik masyuk penuh dengan keguyuban.

Mulailah dengan mengenali siapa diri kita, bukan sekedar dari mengenali nama karena berganti nama sama mudahnya dengan berganti piyama. Bukan juga dengan hanya mengenali fisiknya, karena fisik bisa berubah setiap saat akibat operasi plastik. Kenalilah kesejatiannya karena dia kekal, akrabi dia lalu gauli dia maka kita akan menemukan “Ketentraman”. Setelah itu, libatkanlah dia dalam setiap gerak langkah kita, dalam detak jantung kita, bahkan dalam setiap tarikan dan hembusan nafas kita selama mengarungi sisa hidup kita. Yakinlah ia tidak akan pernah menolak sesuatu yang sudah lama ditunggunya. Itulah yang disebut dengan surga dunia, surga ketika kita masih hidup di dunia.

Pada akhirnya setiap manusia akan memetik buah pekertinya masing-masing. Siapa yang menanam dia yang memetik. Itu aturan mainnya. Waktu terus berlalu tanpa menunggu kita siap atau tidak. Tidak ada kata terlambat bagi siapapun yang sungguh-sungguh ingin memulainya. Toh pada akhirnya penilaian akhir bukan pada hasil, tapi pada sejauh mana kebulatan tekad dan kesungguhan upaya kita untuk mengihtiarkannya. Karena waktu bukanlah kuasa kita.

4 thoughts on “Penemuan Kembali Hakekat Kehidupan

  1. kata yasadipura, orang yang cuma mengejar materi itu bagaikan orang kampung yang mau beli emas di kota, karena gak pernah tahu bagaimana itu emas, dia sudah merasa senang ketika diberi kuningan… materi adalah kuningan, sedang emas adalah ketenteraman batin, kebahagiaan…

    hehe.., kalo kata pidi baiq, daripada cari nafkah buat makan lebih baik pesen di katering saja…

    1. analogi yang indah… yasadipura pancen oke…

      jangan2…, arep pesen di katering tapi gak tahu katering seperti apa malah pesen di Mc Donald… wakakakakak… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close