Serius


Beberapa waktu yang lalu saya menerima sebuah e-mail yang isinya sangat menarik. Selain bicara tentang banyak hal, yang paling menarik di dalamnya terdapat satu permintaan agar sesekali saya bikin tulisan yang ringan-ringan, jangan serius terus. Terus terang saya agak bingung meresponnya, karena saya sudah terkadung melihat segala sesuatu dalam hidup ini dengan serius.

Ketika saya berlibur untuk berekreasi, maka saya dengan serius menikmati rekreasi liburan saya. Ketika saya bercanda dengan teman-teman saya, sayapun bercanda dengan serius hingga kami tertawa terkentut-kentut karena saling lédék-lédékan tanpa ada yang harus merasa tersinggung sebagai bukti keseriusan kami dalam bercanda. Bahkan ketika saya mandipun saya harus serius supaya badan saya benar-benar bersih. Begitulah saya menjalani hidup ini dengan penuh keseriusan. Mendiang ayah saya yang mengajari saya untuk bersikap serius. Katanya, “Kamu harus serius dalam hidup kamu, karena sekali saja kamu bermain-main dengan hidupmu, maka tinggal tunggu saatnya hidup akan mempermainkan kamu”. “Dan syarat dari keseriusan adalah totalitas, totalitas dalam mengekspresikan kesejatian diri,” sambungnya.

Ini yang membuat saya agak sulit memahami permintaan tadi karena saya kuatir ada pemaknaan dan pemahaman yang berbeda dalam mengartikan apa itu serius. Belum lagi ditambahi embel-embel, ‘yang ringan-ringan’, makin lagi membuat saya tidak tahu harus menulis apa. Untuk menentukan berat atau ringannya sesuatu, sangat tergantung pada apa ukuran yang digunakan, siapa yang mengukur dan untuk keperluan apa itu diukur. Membingungkan bukan ?, bukan hanya anda, sayapun bingung seperti juga anda.

Walhasil, akhirnya dengan berat hati dan tentunya tanpa mengurangi rasa hormat, saya memutuskan untuk tidak menolak sekaligus juga tidak menerima permintaan tersebut. Saya harus menerima kenyataan bahwa apapun yang saya tulis belum tentu dibaca orang karena mungkin tidak ada satu orangpun yang mampir di Blog saya, atau kalaupun mampir belum tentu juga mau membacanya karena belum tentu sesuai dengan seleranya. Seandainya pun dibaca, belum tentu juga orang tersebut memahami apa yang saya tulis, bisa karena isinya, bisa juga karena teknik penulisannya yang membuat orang bingung. Andaikatapun memahami, itu juga tidak berarti membuat mereka setuju dengan isi tulisannya.

Itu sebabnya saya memutuskan untuk tidak menolak sekaligus juga tidak menerima permintaan tersebut. Saya akan tetap menulis apa yang ingin saya tulis sebagai sebuah ekspresi dari cipta, rasa dan karsa yang saya miliki. Jika kebetulan ada tulisan saya yang ternyata berkenan pada siapapun yang membacanya, saya hanya bisa bersyukur. Tapi seandainyapun tidak berkenan, maka dengan segala kerendahan hati saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dengan harapan mudah-mudahan suatu waktu nanti ada tulisan saya yang bisa berkenan bagi anda yang saat ini belum berkenan.

Apapun itu, saya tetap akan memegang teguh pesan dari mendiang ayah saya, “Kamu harus serius dalam hidup kamu, karena sekali saja kamu bermain-main dengan hidupmu, maka tinggal tunggu saatnya hidup akan mempermainkan kamu. Syarat dari keseriusan adalah totalitas, totalitas dalam mengekspresikan kesejatian diri”.

1 thought on “Serius

  1. saya serius belajar mentertawakan diri sendiri dan hidup di dunia ini, tapi sama orang-orang saya malah dianggap tidak serius alias main-main tuhhh 😦
    ————–

    Samaaaaaa…… wakakakakak…. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close