Tolong Beri Judul…..


Tulisan ini sengaja memang dibuat dengan judul seperti di atas karena sejujurnya sampai dengan penulis menyelesaikan tulisan ini, penulis sama sekali tak terpikir mau diberi judul apa tulisan ini. Tiba-tiba terlintas idea untuk membiarkan anda yang memberi judul atas tulisan ini  semau yang anda inginkan seusai membacanya. Mungkin ini cuma salah satu cara untuk berbagi. Karena sesungguhnya tulisan ini juga milik anda, bukan hanya milik saya.

Bermula dari sebuah tayangan iklan di layar kaca. Ada sebuah adegan menarik yang nampaknya ringan namun sesungguhnya cukup kontemplatif. Adegan kejadiannya ketika ada dua orang remaja berlainan jenis sedang bertengkar, lalu muncul seorang remaja laki-laki lain yang tidak dikenal mendatangi keduanya dan mencoba masuk dalam pertengkaran itu. Lantas salah satu dari dua orang remaja yang sedang bertengkar tadi bertanya kepada remaja yang baru datang tersebut, “Siapa sich lu…?”.

Pernah juga suatu ketika kepada seorang teman yang selalu datang untuk berkeluh-kesah tentang persoalan hidupnya, saya bertanya kepadanya, “Apakah kamu tahu siapa dirimu sebelum kamu mencoba mencari solusi atas semua persoalan yang kamu hadapi ?”. Sejenak dia terdiam, lalu sebagaimana layaknya seorang manusia modern yang sangat rasional dia menjawab dengan ayal-ayalan, “Kalau saya tidak tahu siapa diri saya, bagaimana mungkin saya bisa membuat CV (Curriculum Vitae) ?!”, katanya sambil tertawa kecil.

Ya, siapakah kita ?!. Apakah kita hanyalah sekedar sekumpulan data seperti yang tertera dalam sebuah CV (Curriculum Vitae) ?!. Lalu bagaimana jika ada pertanyaan, “Dimana anda sebelum anda lahir ke dunia ini ?. Kenapa anda terlahir dari orang tua yang sekarang ini menjadi Bapak dan Ibu anda ?. Kenapa anda terlahir sebagai orang Indonesia ?. Kemana anda setelah tidak di dunia lagi ?”. Apa jawaban anda ?.

Teman yang saya tanya mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan ayal-ayalan, “Pertanyaannya nggak bermutu.., nggak logis.., nggak rasional.., nggak cerdas.., dll”. Ada lagi muncul jawaban yang lebih parah dari jawaban diatas, jawabannya singkat saja, “Emang gue pikirin !!!”.

Apapun dari jawaban tersebut di atas, menunjukkan bahwa sejujurnya kita tidak tahu apa-apa tentang diri kita. Apa yang kita tahu tentang diri kita tidak lebih dari apa yang kita lihat di cermin setiap kali merapikan diri, ditambah dengan sedikit pengetahuan tentang apa yang sudah dilakukan sepanjang hidup yang sudah kita lalui, itupun kalau masih tersimpan dengan baik di dalam memory ingatan kita. Kita mengenal hanya sebagian dari diri kita, hanya secara eksoterik, tampilan fisik. Seolah kita lupa bahwa ada sisi esoterik dari diri kita yang walaupun tidak tampak secara fisik namun sesungguhnya ada. Sisi esoterik itulah yang justru membedakan manusia dengan binatang, manusia dengan tumbuhan. Oleh karena itu menjadi terjelaskan mengapa sikap dan perilaku manusia sekarang ini jauh lebih biadab daripada binatang. Mereka sudah tidak mengenal lagi sisi esoterik yang ada di dalam diri mereka.

Al-Ghazali dalam bukunya Ihya-Ulumuddin mengatakan, “Kenalilah dirimu maka kau akan mengenali Tuhanmu”. Demikian pula ucapan Kresna kepada Arjuna dalam Baghawad Ghita, “…Ingatlah bahwa yang menjelma di badan manusia selamanya ada, dan akan terus ada, juga tak akan akan dapat dirusak oleh apapun. Dia tak akan luka karena senjata, dan dia tak akan terbakar karena api, tak akan basah karena air, dan tak akan kering karena panas atau angin…”. Buddha sendiri diakhir hidupnya berkata kepada murid-muridnya, “Aku sudah tua, inilah akhir dari perjalananku. Meskipun aku akan pergi, kalian telah mendapatkan apa yang kalian perlukan di dalam diri kalian sendiri. Jadilah lentera bagi dirimu sendiri…”.

Berbagai pernyataan di atas semuanya menyiratkan betapa sisi esoterik manusia sesungguhnya adalah pusat dari segalanya, Center of the Universe. Segala bencana yang terjadi belakangan ini di berbagai belahan dunia hanyalah early warning system dari adanya ketidakberesan dalam diri manusia. Alam sebagai subordinat hanya merefleksikan kembali daya negatif dan destruktif yang terpancar dari mahluk yang menjadi khalifah di muka bumi yaitu manusia sebagai ordinatnya.

Alam yang juga adalah Jagad Kecil atau Mikro Kosmos memiliki unsur yang sama dengan manusia sebagai Jagad Besar atau Makro Kosmos. Empat unsur alam yang terdiri dari Api, Angin, Air dan Tanah adalah juga unsur yang membentuk jasad dan raga manusia. Unsur-unsur inilah yang memberi sifat kepada manusia tentunya dengan spektrum gradasi dan kadar komposisi serta berbagai varian yang berbeda-beda.

Ø      Api yang bersifat panas dapat membakar apapun hingga menjadi abu, namun ketika dia mampu dikendalikan, dia bisa menghangatkan segala yang ada di sekelilingnya sekaligus menjadi pelita dalam kegelapan. Hangatnya tubuh manusia menjadi indikator adanya unsur tersebut.

Ø      Angin yang dalam kecepatan yang sangat tinggi dan berputar dengan keras bisa meluluhlantakkan dan menerbangkan segala sesuatu yang menghalanginya, namun angin yang sepoi-sepoi bisa menyejukkan kita. Itu sebabnya tubuh kita tidak pernah kehabisan angin untuk dibuang.

Ø      Air yang mengalir deras dalam jumlah besar mampu menjadi tsunami, air bah, banjir bandang yang menggulung dan meratakan apapun yang menghadangnya, namun dia juga adalah sumber kehidupan setiap mahluk hidup. Indikator adanya kehidupan di sebuah planet dilihat dari ada tidaknya air di planet tersebut. Hampir 70 % tubuh kita terdiri dari air.

Ø      Tanah yang bergoncang dengan hebat bahkan menimbulkan guguran dan longsoran yang dapat menelan dan merontokkan setiap benda yang ada di atasnya, namun tetap dia adalah tempat dimana setiap mahluk hidup berpijak dan tinggal untuk mencari makan di atasnya. Anda tidak akan menemukan jasad di dalam sebuah kuburan tua kecuali seonggok tanah dan tulang belulang.

Namun jangan lupa, itu baru hanya dari sisi eksoterik. Selain sisi eksoterik, manusia juga memiliki sisi esoterik. Kalimat kuncinya adalah, “Kuciptakan kau dari segumpal tanah dan kutiupkan RuhKu kepadamu…” Keistimewaan ini yang sesungguhnya menempatkan manusia sebagai mahluk ciptaan Sang Khalik untuk menjadi Khalifah di muka bumi. “Demi Waktu sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi ketika manusia tidak saling ingat-mengingatkan dalam kebenaran dengan penuh kesabaran…”

Ironisnya, manusia telah kehilangan kesejatiannya karena sudah berkhianat dan berselingkuh terhadap Ruh yang ditiupkan oleh Sang Khalik. Tak ada lagi tali temali cinta kasih antara manusia dengan Ruhnya. Tak ada lagi ingat-mengingatkan dalam kebenaran dengan penuh kesabaran.

Manusia lebih suka mempermalukan dan merendahkan fitrah dirinya. Manusia yang dalam hidupnya hanya memperhatikan sisi eksoteriknya tanpa melibatkan sisi esoteriknya maka sesungguhnya dia sedang merendahkan martabatnya lebih rendah dari binatang dan atau tumbuhan.

Dalam jagad kosmis Ilahiah, kedua sisi yang ada dalam diri manusia tersebut, eksoterik dan esoterik, berjalan pada aras yang sama secara sinergis di bawah tuntunan dan panduan cinta kasih. Keberadaan keduanya tidak dalam kondisi yang dikotomis bahkan diametral dalam posisi yang berlawanan -menang dan kalah-, melainkan saling melengkapi sebagai satu kesatuan yang utuh sebagaimana Sang khalik menciptakan segala sesuatunya di muka bumi ini berpasang-pasangan.

Disitulah letak kesempurnaan manusia sejati. Manusia yang ditunjuk Sang Khalik untuk menjadi Khalifah di muka bumi demi menegakkan kebenaran melawan kebatilan.

Hamemayu Ayuning Bawana Langgeng, menghiasi keindahan dunia agar lestari.

Tat Twam Ashi

Bhinneka Tunggal Ika

Tan Hana Dharma Mangrwa

Aku Adalah Dia – Dia adalah Aku

Berbeda namun Satu Kesatuan

Tiada Kebenaran Yang Mendua

KEBENARAN CINTA KASIH

Salam Nusantara !, Merdeka !!!

Advertisements

3 thoughts on “Tolong Beri Judul…..

  1. bacalah buku “Mengenal Diri Melalui Rasa Hati”, karya Ustaz Haji Ashaari Muhammad…

    “..TIDAK mengapa kalau kakimu sakit, asalkan
    hatimu tidak sakit. karena kalau kakimu sakit,
    engkau hanya tidak dapat berjalan,
    tapi kalau hatimu sakit, engkau akan hilang kebahagiaan..”
    —————

    Terima kasih atas referensinya. Kutipan yang sangat dalam… Mengingatkan saya akan satu ucapan…, “Carilah guru mursyid..” 🙂

  2. makanya tes-tes psikologis atau penjabaran model horoskop sampe primbon masih laku – karena manusia ga kenal dirinya sendiri.

    Ada cerita, kira-kira setahun lalu saya berkunjung ke rumah orang psikologi, lirik-lirik isi lemari buku dong (hobi saya kalo berkunjung ke rumah orang hihihi). Ada buku tebel, judulnya “Who am I”… *gubrak*, lha ngapain aja ni orang sekolahan psi masih perlu baca buku macam gitu?
    ————–

    Udah bener dia… masak mau ngurus soal kejiwaan orang lain tapi belum kenal dirinya sendiri… Wakakakakak…

  3. Es un gran placer leer post tan interesantes. Ahora mismo lo voy a divulgar en mi twitter, saludos!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close