Itali, Il Principe Piala Dunia Sepak Bola 2006


Campeone Italia…, Campeone Italia…, Campeone Italia…

Belum hilang dari ingatan kita bagaimana teriakan-teriakan para pendukung Italia baik di luar dan di dalam stadion serta para pendukung yang tumpah ke jalanan di kota-kota Italia larut dalam euphoria kemenangan Italia atas Perancis di partai final Piala Dunia ’06 ketika Grosso berhasil melakukan tugasnya sebagai algojo terakhir yang menentukan kemenangan Italia lewat drama adu tandangan penalti setelah masa perpanjangan waktu 2 X 15 menit dengan hasi imbang 1 -1.

Beberapa Negara yang tadinya difavoritkan untuk menjadi juara dunia ternyata malah harus angkat koper pulang lebih dulu sebelum mencapai final. Brasil, Inggris, Argentina bahkan Jerman sendiri yang memiliki keuntungan sebagai tuan rumah termasuk Negara-negara yang harus menelan pil pahit kekecewaan. Walaupun demikian pada akhirnya puncak partai final pertandingan Piala Dunia ’06 tetap menghadirkan dua Negara yang memang punya tradisi juara dalam sejarah penyelenggaraan Piala Dunia. Perancis vs Italia.

Sayangnya, di tengah minimnya produktifitas gol yang menimbulkan keprihatinan di kalangan petinggi FIFA sebagai badan tertinggi sepak bola dunia, partai final antara Perancis vs Italia menjadi antiklimaks dari seluruh rangkaian pertandingan yang digelar selama satu bulan.

Italia yang kehilangan beberapa pilar pemainnya serta persiapan tim nasional menjelang Piala Dunia ’06 yang dibayangi skandal pengaturan pertandingan di liga Seri A Italia dimana melibatkan para pengadil lapangan dan beberapa klub papan atas Italia menempatkan Italia sebagai Negara yang tidak difavoritkan sebagai Juara. Demikian pula dengan Perancis yang harus melalui babak kualifikasi dan penyisihan 32 besar dengan tertatih-tatih. Dipanggilnya kembali beberapa pemain senior diantaranya Zinedine ‘Zizou’ Zidane yang sudah menyatakan mundur sebagai pemain nasional memperlihatkan betapa Perancis telah gagal membangun kekuatan tim nasionalnya dengan berbasis pada pemain-pemain muda.

Ironisnya, kemenangan Italia melalui adu penalti masih ditingkahi pula oleh insiden antara pemain bertahan Italia Materazzi ‘Matrix’ dengan gelandang serang Perancis Zinedine ‘Zizou’ Zidane yang akhirnya terpilih menjadi pemain terbaik hasil pilihan wartawan peliput Piala Dunia ‘06, makin membuat Piala Dunia ’06 kehilangan gregetnya. Terlepas dari semua itu, kemenangan Italia, suka ataupun tidak, tetap adalah sebuah kemenangan.

Yang menarik untuk dicermati adalah, “Apa yang sesungguhnya menjadi kunci kemenangan Italia dalam partai final melawan Perancis ?!”.

Ada pernyataan menarik ‘Matrix’ Materazzi menjelang partai final yang menyatakan bahwa dia akan melakukan sesuatu untuk mematikan gerakan Zidane dan Thiery Henry yang dianggap sebagai ancaman yang dapat membahayakan gawang Italia. Fakta di lapangan akhirnya membuktikan, Henry harus keluar dari lapangan sebelum pertandingan selesai karena cedera, sedangkan Zidane harus keluar karena kartu merah akibat menanduk Materazzi yang lebih dulu memprovokasi Zidane dengan menarik kaos lalu disusul perkataan-perkataan yang kontroversial sehingga membuat pemain sekaliber Zidane dalam sebuah partai pertandingan yang sangat penting dan bersejarah dalam perjalanan karir sepakbolanya sampai-sampai terpancing untuk melakukan tindakan yang mencederai nilai-nilai sportifitas dan profesionalismenya sebagai atlet.

Kewaspadaan Materazzi terhadap Henry dan Zidane adalah sebuah kewajaran. Siapapun tahu bagaimana skill dan kemampuan kedua pemain tersebut memang diatas rata-rata dan menjadi ancaman yang serius terhadap gawang lawan-lawannya. Namun petanyaannya kemudian, “Apakah kemenangan adalah segalanya sehingga semua cara bisa bahkan harus dilakukan untuk meraih kemenangan walaupun dengan mengorbankan nilai-nilai sportifitas dan profesionalisme ?”.

Tentunya kita semua pasti sependapat untuk mengatakan tidak !. Karena kemenangan segemilang apapun akan tidak punya arti apa-apa ketika itu diraih dengan cara-cara yang tidak terpuji dan melanggar nilai-nilai sportifitas dan profesionalisme. Permainan yang Fair (Fair Play Game) tentu saja diatas segalanya !.

Namun kita semua lupa bahwa ini tidak berlaku bagi Italia !. Kasus skandal pengaturan hasil pertandingan di Liga Seri A Italia oleh beberapa klub Italia yang juga melibatkan pengadil lapangan adalah sebuah bukti betapa kemenangan harus diraih dengan cara apapun.

Hal lain yang bisa digunakan sebagai ilustrasi adalah adanya fenomena kejahatan terorganisir yang berbasis di Sicillia yang lebih dikenal sebagai Mafia Sicillia yang daerah operasinya bahkan sampai di Amerika Serikat. Tokoh-tokohnya yang terkenal antara lain seperti Al Capone, Lucky Lucciano, dll, jelas-jelas melakukan praktek bisnis illegal seperti prostitusi, judi, minuman keras, senjata dan penyelundupan yang tentunya dengan menghalalkan segala cara.

Dari dua ilustrasi di atas, ada satu hal yang paling mendasar dan justru harus dipahami oleh siapapun yang akan menjadi lawan dari bangsa Italia yaitu adalah belief system (sistem keyakinan)/weltanschauung/philosophische grondslag yang menjadi mindset dari setiap orang Italia dimana ini didasarkan pada ajaran salah seorang filsuf besar mereka yaitu Niccolo Machiavelli yang terkenal dengan judul bukunya Il Principe yang terjemahan bebasnya berarti Sang Penguasa.

Siapakah Niccolo Machiavelli yang ajarannya begitu merasuk dalam mindset bangsa Italia ?.

Niccolo Machiavelli adalah seorang filosof yang lahir di Firenze tanggal 3 Mei 1469 dan wafat pada 22 Juni 1527. sebagai anak seorang pengacara bernama Bernardo yang berasal dari keluarga bangsawan, tentu saja Machiavelli memperoleh pendidikan yang sangat baik. Pemikiran-pemikirannya dinilai sebagai pelopor pemikiran teori-teori sekularistik yang menempatkan manusia sebagai sentral atau pusat realitas sehingga melahirkan filsafat antroposentris sebagaimana yang diimani oleh para pemikir Renaisance zaman itu yang telah mengalami pencerahan (Aufklarung).

Corak pemikiran ini secara radikal berbeda dengan corak pemikiran sebelumnya baik di zaman Yunani maupun dalam Abad Pertengahan yang lebih mendasarkan pada unsur kosmologis dan Tuhan sebagai sentral atau inti. Di kedua zaman itu, kekuasaan di dunia dianggap sebagai bagian dari kekuasaan Tuhan.

Harus diakui, lepas dari adanya pro dan kontra terhadap pemikiran-pemikirannya, karya-karyanya memang mendapat pengakuan di berbagai belahan dunia, dijadikan rujukan dan kajian serta dikutip di berbagai fora akademik khususnya di ranah politik.

Pemerintah Italia sendiri pada tahun 1869 bahkan merayakan hari ulang tahun Machiavelli yang ke-400 dengan sebuah perayaan nasional. Sampai saat ini di atas lantai pusaranya di Katedral Firenze, tertulis kalimat Tanto Nomini Nullum par Elogium, “Begitu agung sehingga tak satupun pujian yang memadai untuknya”. Namanya disejajarkan dengan nama-nama besar seperti Galileo Galilei, Dante Aleghori juga Michelangelo yang dimakamkan di Kota Firenze.

Dalam bukunya Machiavelli menerangkan pandangan-pandangannya tentang kekuasaan. Persoalan kekuasaan bukan terletak pada legitimate atau tidaknya sebuah kekuasaan, namun pada bagaimana kekuasaan diperoleh, dipertahankan dan terus-menerus diperbesar.

Ucapan Machiavelli yang kemudian terkenal dan menjadi postulat yang dijadikan “pegangan moral” oleh para politisi hingga saat ini (bahkan di Indonesia..) adalah, “Segala cara dan alat dimungkinkan untuk digunakan semata-mata demi untuk mencapai tujuan..”.

Dari serba sedikit ulasan di atas kita bisa melihat bahwa tindekan Materazzi adalah sebuah implementasi dari bekerjanya sebuah belief system (sistem keyakinan)/weltanschauung/philosophische grondslag yang terprogram sebagai mindset dari setiap orang Italia. Di sisi lain, kita juga melihat bahwa kegagalan Perancis mengalahkan Italia sesungguhnya bukan pada lemahnya taktik, strategi, skill individu, kerja sama tim, maupun penguasaan lapangan, namun lebih terletak pada ketidakmampuan mereka untuk memahami mindset bangsa Italia yang didasari oleh paham atau ajaran Machiavellisme.

Pertanyaan yang muncul kemudian untuk diri kita, “Sebagai sebuah bangsa yang mendasari sendi –sendi kehidupannya dengan Panca Sila sebagai belief system (sistem keyakinan)/weltanschauung/philosophische grondslag dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, kapan kita akan mampu menjadi Juara Dunia Sepak Bola ?”.

Campeone Italia…, Forza Italia !!!

Advertisements

3 thoughts on “Itali, Il Principe Piala Dunia Sepak Bola 2006

  1. Българския некомерсиален сайт за ретро музика

  2. As guys age they lose muscle, particularly if they are
    not physically active.If you have a program to lose your
    excess weight, you could attempt this program and see the
    promised results more than time.They could also watch the videos included that they want to carry out in every exercising.

    Among the most effective things about the fat loss factor program is that it
    consists of in depth workout plans for three fully distinctive
    levels of trainees: newbie, intermediate and sophisticated, so you are able to do these workout routines regardless of your existing fitness level.
    You will also want to make few adjustments in your eating habits and
    to physical exercise on a regular basis to be in a position
    to get the incredibly most effective final results from the fitness system.
    Research has proven that a significant amount of visceral fat in the belly can contribute to life-threatening illnesses.
    Heredity can also be a factor in how you acquire weight.Adding some
    form of strength coaching is also advised to re-build muscle.
    The toughest stage of the program is in the initial two weeks, the detoxification
    stage.While it does concentrate on fantastic nutrition and physical exercise, it will not demand you to transform your
    entire life to get benefits.The excellent diet plan proportions
    that are indicated in the technique are also realistic,
    and customers have indicated that they realized some
    enhanced energy soon after using the system.The body burns calories slower when muscle is lost and it becomes much easier to obtain weight.

  3. keren , postingnya berguna banget , waktu udah baca, enak dan mudah di mengerti, salut deh buat agan yang bikin postingan ini. saya harap bermanfaat bagi pembaca yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close