Dibalik Petaka Gempa dan Tsunami Yang Melanda Aceh & Sumut


Pengantar

Musibah dan petaka yang melanda NAD dan Sumut merupakan sebuah peringatan keras terhadap kemanusiaan. Bencana yang meluluhlantakkan dan memporakporandakan sebagian besar Tanah Rencong dan Sumatera Utara tersebut sungguh menguras air mata dan menggugah rasa kepedihan dan keprihatinan kita atas korban kemanusiaan dan harta benda yang tak ternilai.

Berbagai tayangan di media massa dikemas begitu artistik dan dramatis sehingga mampu merebut ruang kesadaran kita seolah-olah dibuat untuk memanjakan emosi kita yang hanyut mengharu-biru mendengar ulasan dan menonton berbagai rekaman kejadian. Semua fokus dan konsentrasi tersedot ke dalam rasa empati yang tidak terbendung lagi tanpa menyisakan ruang kesadaran rasionalitas dan akal sehat kita.

Tanpa mengurangi rasa keprihatinan, kepedihan dan empati kita terhadap para korban yang sedang tertimpa kedukaan atas penderitaan akibat trauma baik fisik maupun psikologis serta kehilangan keluarga dan harta benda, mungkin perlu rasanya kita sedikit menyisakan ruang rasionalitas dan akal sehat kita untuk mencoba melihat dengan jernih dari perspektif dan sudut pandang yang berbeda atas musibah bencana yang terjadi tersebut.

Mari kita coba sama-sama bayangkan seandainya sebuah ledakan nuklir dalam kekuatan ledak setidaknya seperti Bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki dilakukan di dasar laut tepat di titik yang dari pantauan satelit dan penelitian bawah laut secara geologis sangat rawan gempa. Apa yang kira-kira terjadi ?. Siapa yang memiliki teknologi dan mampu melakukan itu dan apa targetnya melakukan itu ?. Rasanya pertanyaan-pertanyaan itu relevan untuk diketengahkan apabila kita membayangkan hal itu sungguh-sungguh terjadi.

Kilas Balik

Paska berakhirnya perang dingin yang ditandai dengan pecahnya Uni Sovyet menjadi beberapa negara kecil, dominasi dan hegemoni Amerika Serikat (AS) & Cs.nya (White Anglo Saxon : AS, Inggris, Australia, Canada dan Selandia baru dengan dukungan negara-negara Common Wealth eks jajahan Inggris) atas dunia semakin tak terbendung. Tidak ada satupun negara di dunia yang mampu menghentikan nafsu angkara murka AS & Cs.nya untuk menguasai dunia baik secara budaya, ekonomi maupun politik. Dengan mengusung issue-issue Demokratisasi, Terorisme, HAM, Gender, Liberalisasi Perdagangan dan Globalisasi berbagai tindakan-tindakan sepihak yang dilakukan oleh AS seolah-olah memperoleh legitimasi dan justifikasi.

Di sektor budaya, Serbuan budaya barat (westernisasi) dengan menggunakan kekuatan High Technology audio-visual dan Cyber Technology mampu melintas batas-batas ruang teritorial tanpa bisa dibendung. Social Engineering yang dilakukan bertujuan untuk merubah budaya, pola hidup serta tingkah laku setiap warga dunia untuk menjadi kapitalistik, snobis, hedonis, bebas nilai dan sangat liberal. Tidak ada lagi keleluasaan budaya yang tertinggal ketika setiap ruang kesadaran sudah dikepung oleh berbagai tayangan dan tontonan serta sistem pendidikan yang mendewakan kehidupan ala western.

Di sektor ekonomi, penggunaan standar mata uang dunia yang masih menggunakan US Dollar currency membuat AS begitu dominan dalam mengatur ekonomi dunia. Setiap jengkal tanah dimana di atasnya terjadi aktifitas ekonomi tidak akan pernah lepas dari pengaruh kebijakan ekonomi AS meskipun itu hanya bersifat multiplier effect. Upaya penguasaan ekonomi melalui kebijakan-kebijakan formal juga diperkuat dengan aksi-aksi sabotase ekonomi terhadap kekuatan-kekuatan ekonomi dunia yang dikuatirkan bisa mengancam dominasi AS. Krisis ekonomi dunia yang menghancurkan ekonomi Asia tahun 1998 tidak terkecuali negara-negara yang tercatat sebagai macan-macan Asia adalah sebuah contoh kecil dari berbagai tindakan yang mampu mereka lakukan. Belum lagi tercatat wabah Flu burung dan SAR adalah contoh lain betapa operasi-operasi intelijen ekonomi mereka dengan senjata-senjata biologisnya berperan besar dalam menghancurkan ekonomi Asia.  Dan masih banyak lagi yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Bagaimana mungkin terjadi keseimbangan ekonomi di tingkat dunia tatkala liberalisasi perdagangan diberlakukan di tengah situasi dimana kekuatan ekonomi dunia tidak merata dan hanya didominasi oleh satu kekuatan saja. Sudah bisa dipastikan yang terjadi adalah Exploitation del’ homme par l’ homme dan Exploitation de nation par nation.

Di sektor politik, tidak ada negara lagi negara yang berdaulat di dunia ini ketika sistem politik yang digunakan semuanya merujuk kepada AS dengan demokrasi liberalnya yang sangat kapitalistik. Yang tidak demokratis seperti yang diinginkan AS akan distigma sebagai negara yang melanggar HAM. Operasi-operasi intelijen yang disusupkan ke dalam sebuah negara untuk menggalang kekuatan-kekuatan lokal “pro-demokrasi” untuk mendorong terjadinya aksi-aksi separatis dan terorisme. Sebagai catatan, kemampuan anti terorisme yang tinggi, inheren didalamnya juga kemampuan yang tinggi untuk melakukan terorisme. Pemberontakan PRRI/Permesta yang terjadi tahun 1957 masih membekas dalam ingatan kita bagaimana pesawat-pesawat Amerika yang salah satunya dipiloti oleh Edgar Allan Pope ikut mengebom Sumatera Barat. Selain itu operasi-operasi militer dengan berbagai dalih juga dilakukan untuk makin mengukuhkan dominasi AS. Meminjam kata-kata Clausewitz yang terkenal, “bahwa perang atau tindakan militer adalah kelanjutan politik dengan cara lain”. Maka terbukti bahwa aksi-aksi militer AS di Afghanistan dan Irak adalah semata-mata invasi militer untuk tujuan penguasaan wilayah yang pada akhirnya juga berujung pada penguasaan sumber daya ekonomi apakah itu minyak ataupun sumber daya alam yang lain. Desakan AS kepada PBB untuk menghilangkan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) 200 mil laut dari pantai -yang telah berhasil diperjuangkan Indonesia di PBB- kembali menjadi 12 mil laut, akan memberikan legitimasi kepada armada ke VII Angkatan Laut AS untuk bisa masuk ke perairan Indonesia dengan alasan untuk membasmi perompak dan bajak laut di Selat Malaka, semakin menunjukkan tingginya kepentingan AS terhadap penguasaan wilayah Indonesia.

Bencana Tsunami, prahara politik…

Dari paparan di atas tentu saja akan muncul pertanyaan, “Lantas apa hubungannya dengan musibah gempa dan tsunami di NAD dan Sumut ?”. Untuk menjawab pertanyaan ini perlu rasanya kita menyegarkan kembali memory kolektif yang pernah kita dapat semasa di bangku SLTP tentang potret geopolitik Indonesia. Seperti kita ketahui Indonesia terletak diantara dua samudera dan dua benua. Itu artinya secara geopolitik Indonesia berada di wilayah SLOC (Sea Lane of Communication) sebagai jalur perdagangan yang sangat ramai menghubungkan antara berbagai tempat di penjuru dunia.

Dalam kronik sejarah nusantara jauh sebelum republik ini berdiri, nusantara (Indonesia) adalah salah satu bagian dari jalur perdagangan dunia yang dikenal sebagai silk-road (jalur sutera) yang terhubung antara Asia-Oceania dengan Eropa dan dunia baru yang kemudian dikenal dengan Amerika. Dari seluruh potret peta geopolitik Indonesia, yang paling menduduki posisi strategis sebagai jalur perdagangan adalah Selat Malaka yang menghubungkan wilayah yang terletak di bagian barat Indonesia dengan wilayah yang terletak di bagian timur Indonesia, selain juga Laut Banda yang menghubungkan wilayah di bagian selatan Indonesia dengan wilayah di bagian utara Indonesia.

Nangroe Aceh Darussalam yang terletak di bagian paling barat Indonesia adalah wilayah strategis yang juga merupakan pintu masuk Selat Malaka. Oleh karena itu tidaklah heran apabila Nangroe Aceh Darussalam adalah salah satu wilayah yang sangat diminati (juga Papua) selain karena posisinya yang strategis juga kandungan buminya yang kaya akan sumber daya alam. Itu pula sebabnya mengapa banyak negara lain berkepentingan untuk ikut berperan dalam upaya penyelesaian konflik di Aceh. Setidaknya keterlibatan mereka bisa menjadi pintu bagi masuknya kepentingan mereka dalam rangka penguasaan teritorial, tentunya kita memahami tidak ada kontribusi dalam bentuk apapun yang diberikan secara cuma-cuma tanpa embel-embel kepentingan dibelakangnya. Apa lagi jika ini sudah menyangkut hubungan antar negara, baik itu bilateral muapun multilateral.

Seperti yang telah dipaparkan diatas, berbagai upaya perongrongan yang dilakukan terhadap negara-negara di Asia khususnya dalam hal ini Indonesia, baik melalui operasi-operasi intelijen seperti wabah flu burung, SAR, issue “Terorisme” maupun operasi-operasi intelijen yang mendukung kelompok-kelompok separatis lokal, ternyata tidak mampu menggoyang Indonesia secara signifikan. Ini membuat “biaya-biaya” operasi tersebut semakin membengkak dengan target politik yang tidak kunjung tercapai. Oleh karena itu, perlu dilakukan sebuah langkah pamungkas untuk mencegah supaya situasi tersebut tidak berlarut-larut.

Lantas.., mari kita lanjutkan kembali imajinasi kita, seandainya sebuah ledakan nuklir dalam kekuatan ledak setidaknya seperti Bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki dilakukan di dasar laut tepat di titik yang dari pantauan satelit dan penelitian bawah laut secara geologis sangat rawan gempa. Apa yang kira-kira terjadi ?.

“Bantuan Kemanusiaan”

Seperti yang sudah kita duga, dalam situasi state on blank dan vacuum of power akibat gempa dan tsunami, pemerintahan daerah dari tingkat propinsi sampai dengan jajaran dibawahnya praktis lumpuh total. Pemerintah pusatpun nampaknya tidak memiliki keamampuan untuk mengambil langkah-langkah emergency untuk menangani keadaan yang dihadapi. Lemahnya kesiapan aparatus ditambah lagi belum adanya semacam Standard Operating Procedure untuk menangani keadaan-keadaan darurat akibat bencana alam yang lintas departemental memberikan kesan tidaktanggapan dan rendahnya kepekaan serta kepedulian dari pemerintah pusat. Ironisnya, peran dan tanggung jawab pemerintah pusat justru malah diambil oleh pihak swasta (salah stasiun televisi swasta Indonesia yang berformat CNN) yang segera memobilisasi diri untuk mengumpulkan bantuan baik natura maupun inatura untuk didistribusikan ke daerah bencana, sekaligus juga tenaga-tenaga relawan yang siap diberangkatkan untuk membantu mengatasi masalah di daerah bencana.

Situasi yang berkepanjangan ini pada akhirnya memunculkan kesan seolah-olah pemerintah pusat memang secara sengaja tidak sunguh-sungguh serius melakukan penanganan terhadap musibah tsunami di NAD sehingga memberikan justifikasi bagi terus hadirnya tenaga-tenaga asing baik sipil maupun militer untuk terus berada di NAD.

Bantuan kemanusiaan penanganan bencana dari luar negeripun muncul lebih dulu ketimbang bantuan dari pemerintah pusat. Armada ke VII Angkatan Laut AS yang bergerak di Samudera Hindia segera menerjunkan personil-personil militernya untuk masuk di daerah-daerah bencana berikut dengan bantuan-bantuan logistik berupa makanan dan obat-obatan. Bantuan-bantuan lain dari sejumlah Negara lain juga berdatangan lengkap dengan personil baik sipil maupun militer dan logistiknya. Semuanya melakukan segala upaya-upaya yang diatasnamakan “operasi kemanusiaan” di seluruh wilayah bencana seolah-olah wilayah tersebut wilayah tak bertuan.

Ironisnya, Pemerintah Indonesia malah menutup mata dan tidak pernah merasa bahwa kedaulatannya sebagai sebuah Negara telah diinjak-injak. Bencana gempa dan tsunami yang telah menghilangkan nyawa dan harta benda serta berbagai korban kemanusiaan yang lain justru hanya menjadi pentas politik yang untuk memperlihatkan eksistensi dan arogansi kepentingan elit politik. Lemahnya koordinasi secara sektoral maupun lintas departemental hanya melahirkan polemik politik yang justru memperlemah berbagai upaya-upaya penanganan paska bencana.

Situasi ini apabila dibiarkan berkepanjangan justru akan memberikan keleluasaan bagi keterlibatan Negara asing untuk melakukan operasi-operasi non kemanusiaan yang seolah-olah dibungkus oleh misi kemanusiaan. Pemerintah seharusnya menyiapkan beberapa langkah strategis untuk melakukan penanganan pasaka bencana terkait dengan kehadiran dan keterlibatan Negara asing dalam pengorganisasian berbagai upaya penanganan paska bencana :

  1. Dibentuknya sebuah otoritas pengendali yang dikhususkan untuk menangani berbagai upaya-upaya darurat paska bencana sebagai pengganti pemerintahan daerah yang tidak berfungsi. Otoritas pengendali Ini berfungsi untuk memulihkan keadaan sampai pemerintah daerah siap untuk mengambil alih.
  2. Mengorganisasi semua bantuan nasional dan internasional, baik berupa personil sipil maupun militer serta penyaluran logistik dalam satu komando kebijakan, meliputi :
    1. pengawasan dan pendampingan terhadap personil-personil Negara asing dan penyaluran bantuannya,
    2. wilayah-wilayah mana yang boleh dan tidak boleh dimasuki oleh personil-personil Negara asing,
    3. penjadwalan terhadap keberadaan personil baik sipil maupun militer untuk terlibat dalam “misi kemanusiaan” di wilayah bencana.

3. Dalam jangka pendek dan jangka panjang semua upaya pemulihan harus ditangani langsung oleh pemerintah Republik Indonesia dan bukan oleh suatu badan internasional maupun Negara asing manapun.

Tanpa kejelasan atas rencana tindak yang akan dilakukan oleh pemerintah ke depan, kita akan sulit membedakan operasi bantuan kemanusiaan yang dilakukan oleh Negara asing di Irak dengan operasi bantuan kemanusiaan yang dilakukan oleh Negara asing di NAD dan Sumut.

Sembari kita menunggu upaya-upaya yang sedang dan akan dilakukan oleh pemerintah, mari kita lanjutkan lagi imajinasi kita tentang sebuah ledakan nuklir dalam kekuatan ledak setidaknya seperti Bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki dilakukan di dasar laut tepat di titik yang dari pantauan satelit dan penelitian bawah laut secara geologis sangat rawan gempa. Apa yang kira-kira terjadi ?.

Jakarta, 1 Januari 2005

Advertisements

5 thoughts on “Dibalik Petaka Gempa dan Tsunami Yang Melanda Aceh & Sumut

  1. Hi would you mind letting me know which webhost
    you’re using? I’ve loaded your blog in 3 completely different
    internet browsers and I must say this blog loads a lot faster then most.
    Can you suggest a good web hosting provider at a fair price?
    Thanks a lot, I appreciate it!

  2. When I initially commented I appear to have clicked
    the -Notify me when new comments are added- checkbox and
    now whenever a comment is added I get four emails with the same comment.
    Is there an easy method you are able to remove me from that service?

    Thank you!

  3. Does your site have a contact page? I’m having a tough time locating it but, I’d like to send
    you an email. I’ve got some ideas for your blog you might be interested in hearing. Either way, great site and I look forward to seeing it improve over time.

  4. I seldom leave a response, however i did some searching and wound up here Dibalik Petaka Gempa dan Tsunami Yang Melanda Aceh & Sumut | itempoeti.

    And I actually do have 2 questions for you if you tend not to mind.
    Is it just me or does it give the impression like a few of
    these responses come across as if they are written by brain dead people?
    😛 And, if you are posting on other online social sites, I would like to
    follow anything new you have to post. Could you make a list of the complete urls of your communal
    sites like your linkedin profile, Facebook
    page or twitter feed?

  5. Good day I am so delighted I found your webpage, I really found
    you by error, while I was researching on Bing for something else, Regardless I am
    here now and would just like to say many thanks for a marvelous post and a
    all round enjoyable blog (I also love the theme/design), I don’t have time to read
    it all at the minute but I have bookmarked it
    and also included your RSS feeds, so when I have time I will be back
    to read much more, Please do keep up the excellent
    work.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close