Tentu banyak dari anda yang sudah pernah membaca novel karangan Eiji Yoshikawa berjudul Musashi. Novel yang ditulis berdasarkan perjalanan hidup seorang Samurai yang bernama Miyamoto Musashi yang hidup di tahun 1584-1645. Sebuah kisah yang menceritakan bagaimana perjalanan seorang Musashi hingga menjadi seorang samurai yang disegani sampai pada akhirnya berkesudahan tragis sebagai seorang ronin.



























Juni 15, 2009 pada 12:39 am
begitulah jadinya dari pendidikan setengah matang, sayang memang pendidikan paling patriotis di negeri inipun berasal dari sebuah kata matang enggak mentah enggak … magel,… memang Tuhan dengan kuasa takdirmya berperan pula. Bukan itu pula pendidikan setengah niat dari orba juga menghasilkan para samurai setengah matang yang selalu mencari tuan, entah kepada siapa mengabdi meskipun harus berhutang ke negeri dajal…
————–
setuju… sampai-sampai sistem pendidikan kita sampai hari inipun hanya bisa menghasilkan ronin-ronin baru…
Juni 15, 2009 pada 12:41 am
ketika penguasa membuat ronin-ronin guna melanggengkan kekuasaannya…,
ketika penguasa telah tiada, para ronin-ronin ini berebut kue kekuasaan…,
yang menang mbikin ronin lagi…
rebutan lagi…
bikin lagi…
itulah siklus alamiah kekuasaan dimanapun berada…
—————
adakah harus demikian adanya??? ataukah itu bagian dari proses pencarian jati diri kemanusiaan untuk mencapai kesempurnaannya sebagai manusia???
Juni 15, 2009 pada 12:58 am
kek semacam siklus gitu ya mas?
(doh) aku parah banget klo masalah pulitik..
—————
memang ber-rotasi secara siklikal… tapi apakah ini sebuah siklus? rasanya tidak… Sang Khalik tak pernah sekalipun menciptakan siklus kejahatan… hanya manusia yang selalu mengulang kesalahan yang sama…
Juni 15, 2009 pada 4:20 am
Kembali kepada HATI NURANI… MORAL para ZOMBIE.. eee.. koook ZOMBIE yaaaa.. sadis banget
Salam Sayang
Salam Rindu untukmu..
————–
Ronin dan zombie memang beda2 tipis… sama2 telah kehilangan BUDI NURANI kemanusiaan…
Saya masih ada utang sama kangBoed… Jadi malu…
Salam sayang dan rindu juga untuk kangBoed sakaluwargi…
Juni 15, 2009 pada 7:07 am
Sebuah ketakutan besar bila terjadi reinkarnasi kekuasaan
senyawa dari unsur-unsur kekuasaan masa lalu memang masih hidup
bahkan mungkin ada yang menyatu dalam kejiwaan negeri dan menyatu dengan budaya.
—————
Oleh sebab itu perlu dilakukan perbaikan tata nilai, budaya, sikap perilaku, sistem dan struktur dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara…
Juni 15, 2009 pada 8:25 am
kalo yang musashi dah baca 7 kali
kalo yang ronin orba belom tau bos… penerbitnya mana? (gaptek mode on)
————–
bukunya belum ditulis…, soalnya peristiwanya hingga kini masih berlangsung…
Juni 15, 2009 pada 9:53 am
Wah saya gak ngerti cerita
————–
yang tidak ngerti itulah yang sesungguhnya paling ngerti…
Juni 15, 2009 pada 10:34 am
Oooo… ronin itu kayak gitu to?? baru tahu nih!
Aku kalau mbaca di sini kok mesti pusing ya?
————–
hlaaa mbacanya sambil muter2… mesti aja pusing… wakakakakak…
Juni 15, 2009 pada 10:36 am
Eh, banyak juga lho ronin lawas yang direkrut jadi samurai penguasa baru… haks
—————
oooohhh iyaaaa…, ronin jadi penguasa baru terus rekrut temennya untuk jadi Samurainya… jiyaaahhhh…
Juni 15, 2009 pada 11:02 am
@cahsoleh : Waahh kalo perekrutan orang lama itu sudah jadi budaya pakdhe…
————–
yang ngerekrut ronin…, yang direkrut juga ronin… (doh)
Juni 15, 2009 pada 12:09 pm
Ronin atau samurai adalah bagian dari sejarah..
Lembaga2 gadangan Daimyo Orde baru itu hanya sekedar lembaga, apakah punya peran berarti dan memberi arti bagi rakyat … atau malah jadi kantong semar birokrat … atau sekedar monumen yang kalo ketawa giginya ompong..semua terpulang ke figure utama yang mengkomandaninya (kualitas fungsionarisnya).
Halah ngomong opo aku iki..?? BTW jadi kangen sama Otsu (blush)
—————
salah satu ciri khas seorang Ronin adalah kemampuannya untuk bermimikri merubah identitas untuk mengelabui lawan2nya… wakakakakakak…
Juni 15, 2009 pada 2:40 pm
kalau di negara saya yang menjadi samurai adalah para pejabat sedangkan yang menjadi para daimyo adalah rakyat..
dalam acara mimpi kali yeee
————–
wakakakakakakak….
Juni 15, 2009 pada 8:36 pm
untuk mempertahankan kekuasaan, segala cara dilakukan
—————
yup…, itulah prinsip Machiavelli tentang kekuasaan
Juni 15, 2009 pada 8:49 pm
Saya mempunyai samurai terbaru, tajam baget! ada yang mau bergabung?
Popop
-ronin dengan samurai panjang
—————
apa masih lengkap dengan asahan dari berlian di sarungnya???
Juni 15, 2009 pada 10:50 pm
salah satu ciri khas seorang Ronin adalah kemampuannya untuk bermimikri merubah identitas untuk mengelabui lawan2nya…
—
jadi, ronin itu mirip2 bunlon ya? itu yang bahaya!… bisa jadi tampilannya sederhana, nyatanya neolib… saya jadi ingat, banyak konglo itu tampilannya sederhana, ternyata bukan karena mereka tidak mampu beli yang mahal, melainkan:
1. menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka pro wong cilik.
2. kepuasan batinnya bukan pada penggunaan melainkan pada pengerukan.
3. mereka jadi begitu karena sejak awal memang pelit, saking-sakingnya mereka juga pelit terhadap diri sendiri.
4. ah, sudahlah!…
—————
kenikmatan dan kepuasan yang mereka peroleh adalah dengan melakukan penguasaan dan eksploitasi. bukan dengan membelanjakan atau menggunakan apa yang mereka peroleh.
justru tampilan kesederhanaan dilakukan untuk penyesatan agar mereka lebih leluasa untuk bermanuver dalam melakukan aksi-aksinya.
Juni 16, 2009 pada 3:15 am
tapi ronin di tanah air bukannya direndahkan masyarakat malah punya status yang diakui… gimana tuh Bro
—————
dalam tradisi masyarakat Jepang kuno yang menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya, adalah aib ketika mereka tidak menjalankan tradisi yang dipegang teguh.
Juni 16, 2009 pada 8:41 am
dan para ronin orba tersebut tidak ada tradisi harakiri ya?
doh, saya belom baca novelnya, ngeri karo kuandele…
—————
iyooo pancen… awang2en ndelok kandhele…
nek ono tradisi harakiri… wis ra ono kuwi ronin-ronin orba…
Juni 16, 2009 pada 12:06 pm
Bertahannya ronin, ternyata melahirkan ronin baru. Pecahnya KNPI dipicu karena ronin tidak ingin menjadi budak, tapi mereka juga ingin menjadi majikan. Ini bisa dilihat dari salah satu dedengkot KNPI yang mendirikan partai pemuda. Sementara MUI gemar mencari sensasi.
—————
sayangnya sejak dari awal mereka sudah di desain sebagai alat kekuasaan. jadi sampai kapanpun mereka tak bisa jadi majikan pengguna alat.
Juni 16, 2009 pada 3:49 pm
gak pernah baca musashi…
ronin?keknya bny disini mah
—————
baca dong teh… seru dech…
btw, emang banyak…. hihihihihihihi…
Juni 16, 2009 pada 4:02 pm
bedanya
pada ronin asli jepang mereka masih mempunyai wibawa dalam bermasyarakat
namun pada “ronin” di negeri ini, tak punya wibawa pun ngakunya berwibawa
—————
dimana2 yang tiruan pasti lebih jelek dari aslinya… wakakakakak…
Juni 16, 2009 pada 5:09 pm
meski malam gelap gulita sang surya masih tetap ada.Meski hidup didera derita Allah tetap setia menyertai umatNya dengan kuasa kasihNya.MANUSIA BOLEH KEHILANGAN SEGALANYA ASAL JANGAN KEHILANGAN HARAPAN,semuanya akan menjadi baik bila rasa cinta tanah air tetap terjaga.
[pro exclesia at patria]
—————
woooowww….
can’t agree more… setuju banget sama yang kung…
sungkem katur yang putri…
Juni 16, 2009 pada 7:55 pm
ronin yang suka mengharamkan hal yang gak seharusnya diharamkan…. sama sekali gak punya harga diri. harakiri aja sono!
—————
dasar mental pecundang… harakiri aja gak berani…
Juni 16, 2009 pada 11:49 pm
wah, analisis legenda klasik jepang yang lengkap, cerdas, dan mencerahkan, mas itempoeti. novel musashi seperti membangkitkan kembali romantisme sekaligus juga tragisme hidup para rorin yang pada akhirnya harus menjalani sisa2 hidup yang getir dan merana setelah kehilangan sang majikan. dalam konteks keindonesiaan, ronin agaknya telah menjelma menjadi petualang2 politik yang terus berupaya mencari simpati melalui berbagai lini masyarakat agar bisa kembali membangkitkan romantisme kejayaan masa silamnya. atau, jangan2 kita memang sudah masuk dalam perangkap dan jebakan para rorin di tengah korporatisme negara yang makin abu2, bahkan tak jelas lagi warnanya. doh!
————–
tepat sekali kang sawali… tepat sekali…..
Juni 17, 2009 pada 9:30 pm
jadi inget waktu numpang belajar di kelas satra jepang niihh..
————–
waduuuuuhhh… jadi maluuuu… ada pakarnya ternyata…
Juni 18, 2009 pada 3:06 am
ooo.. hutang apa yaaaa.. hehehe… maklum pelupa neeeeh.. biasa OON teeeaaaaa..
Salam Sayang
—————
nanti juga tahu…. salam sayang jugaaa…
Juni 18, 2009 pada 7:39 am
Baca2 sambil belajar…
Sukses terus buat itempoeti…
—————
Menjura kepada Bapak Guru…
Juni 18, 2009 pada 11:04 am
ronin-ronin itu masih punya taji nggak ya…
kalau nggak punya tuan ya mendingan memihak kebenaran aja, membantu rakyat kecil, kaya zato ichi….
—————
taji punya…
hati nurani yang gak punya… karena mereka cuma mesin yang diciptakan sesuai dengan kebutuhan si pengguna…
Juni 18, 2009 pada 12:21 pm
korporatisme.
istilah baru bagi diriku. barusan kemarin baca ulasan kwik kian gie tentang pidato boediono yang menyangkut korporatokrasi, sekarang sudah muncul lagi di blog ini.
apakah ini satu bentuk kesalahan atau keunggulan negara, aku belum bisa menagkap maknanya.
om, model apakah yang bisa menjadi penyeimbang korporatokrasi ini? lsm/ngo kah?
kalo mikirin negara emang lebih banyak puyengnya
————–
korporatisme negara sudah saya definisikan dalam tulisan saya. Sedang istilah korporatokrasi lebih pada pemahaman korporasi sebagai pelaku ekonomi.
namun korporatokrasi lebih ingin menekankan tentang bagaimana kekuasaan politik sesungguhnya dipegang oleh para korporasi, baik TNC maupun MNC.
korporatokrasi, terdiri dari korporasi + kratos.
kratos adalah kekuasaan. seperti halnya demokrasi, dimana demos = rakyat. juga theokrasi, dimana theo/theis = tuhan.
Juni 18, 2009 pada 8:20 pm
Jangan-jangan kita adalah salah satu dari ronin-ronin itu… (doh)
Juni 22, 2009 pada 5:17 pm
Mushashi baca 1 x
Taiko aq punya dan baca 4 x
tapi masih kalah sama kang Suwung yg baca (mushashi) sampe 7x
tp baca tulisan ini, baru tau kalo banyak ronin di jalanan…keren gak sih
—————
keren yaaa… ternyata di indonesia roninnya lebih banyak daripada di jepang… wakakakak…
Juni 25, 2009 pada 5:00 pm
kapan mbahas hari poter?
Juni 25, 2009 pada 5:01 pm
sik kosimik… tak nyilih bukune karo anakku… rung moco jeee… (doh)
Juni 27, 2009 pada 11:16 pm
Pastinya tidak semua ronin–dan dalam perkembangannya– bermasalah, itu jika kita mengacu pada legenda Musashi..
Btw, this is a great post
Juni 27, 2009 pada 11:20 pm
setuju… memang tidak sedikit ronin yang bisa menjalani sisa hidupnya dengan penuh pertobatan… namun di Indonesia nampaknya yg seperti itu bisa dihitung dengan jari… btw, what a great comment…
Juli 1, 2009 pada 4:28 pm
hmm ronin in itu kayak samurai dijaman jepang gt kan bro hmm iya maka dari itu jepang bisa maju soalnya ronin nya dulu pada kenal malu and mau berjuang ya ada harakiri gt heheh salam kenal ya brother
Juli 1, 2009 pada 4:30 pm
salam kenal juga Bro…
mereka memang punya disiplin dan code of honour yang sangat kuat dalam menjaga tradisi… tak heran mereka bisa maju…
Juli 14, 2009 pada 10:53 am
Tulisan yang cerdas
Karena budaya kita tidak mengenal bunuh diri jangan kita mengidap sindrom gedibal mencari-cari majikan baru untuk dijilat pantatnya