Keasyikan merangkai kata merekayasa sebuah tulisan diiringi gemerecik suara rintik hujan tiba-tiba harus terhenti ketika ada suara sms masuk. “Wis tekan aku (Indonesia : Sudah sampai aku),” bunyi sms tersebut.
Kontan saja saya bergegas ke depan pintu rumah untuk memastikan siapa yang datang. Ternyata benar, di depan pintu pagar rumah, ditengah keremangan malam dan rintik hujan berdiri sepasang manusia berlainan jenis. Yang laki-laki bertopi dan berbadan tambun, sementara yang perempuan berkerudung.
Setelah proses penyambutan dan ramah tamah selesai dilanjutkan dengan mempersilahkan keduanya masuk ke ruang paviliun. Minuman dihidangkan, segelas teh manis panas dan kopi panas tersaji bertepatan dengan teriakan tukang sate ayam terdengar diluar.
Sambil menunggu tukang sate membakar hangus satenya, kami berempat, saya dan istri beserta kedua tamu kami berbincang-bincang melepas rasa kangen. Cerita tentang kopdar di Ponorogo menjadi menu utama pembicaraan. Banyak nama tokoh dunia persilatan blogger yang sempat muncul dalam cerita tersebut. Ada rasa sesal yang menyeruak karena ketidak ikut sertaan dalam acara tersebut. Semoga ada kesempatan berikutnya.
Sate ayam terhidang, kami berempat menunda perbincangan untuk sejenak bersantap malam. Seusai santap malam, obrolan berlanjut lagi sampai tak terasa waktu sudah larut malam. Hujan masih belum terhenti, sepasang manusia tersebut tetap memutuskan pulang dan menolak tawaran kami untuk menginap. Dengan berat hati, kami melepas kepergian mereka ditengah rintik hujan.
Lalu apa hubungannya cerita di atas dengan judul tulisan “Sajak kangBoed?” Pasti pertanyaan itu muncul di benak siapapun yang membaca tulisan ini sekarang.
Sabar…, sebentar…, ijinkan saya untuk menyelesaikan tulisan ini. Biarkan cerita diatas menjadi foreplay untuk masuk pada babak penetrasi.
Selesai kami, saya dan istri, membereskan ruangan paviliun, saya kembali untuk melanjutkan tulisan saya. Namun sebelumnya saya sempatkan untuk memonitor perkembangan Plurk dan juga menjenguk dashboard blog saya. Situasi di Plurk aman terkendali berbeda dengan di blog saya yang ternyata sudah masuk empat komentar dari para sahabat yang sedang menunggu moderasi.
Salah satunya adalah komentar dari kangBoed untuk tulisan saya yang berjudul “Pemilu 2009, Terbukanya Kotak Pandora”. Ada yang menarik dari komentar tersebut bukan hanya karena bersajak, namun isi dari sajaknya yang membuat saya tergerak untuk menunda tulisan saya dan memutuskan untuk memposting sajak tersebut. Alangkah sayangnya jika sajak sebagus itu harus menjadi bagian dari sebuah komentar.
Inilah sajaknya….
kemanakah dikau sang asa..
jika aku terlanjur terlena
mimpi yang begitu indah
terbuai dalam nikmat yang samar
andai putaran sang waktu terus berlalu
demikian cepat tak terasa
diri semakin tua dan renta
kembalilah engkau sang asa
untuk ku berbenah walau sedikit..
tetapi kemana asa itu
sehingga diri tetap tertipu
akhirnya mati kering tiada daya
Terima kasih kangBoed, tidak hanya untuk komentarnya, tapi juga untuk sajaknya. Juga terima kasih kepada seluruh sahabat yang selama ini sudah menyempatkan diri untuk berkunjung dan meninggalkan jejak komentar.
Percayalah…, komentar-komentar anda sesungguhnya adalah sumber inspirasi untuk saya.
Untuk Senoaji dan istri, terima kasih atas keikhlasannya untuk datang berkunjung ke rumah saya di tengah rintik hujan.



























Mei 18, 2009 pada 1:43 am
bwahaha…
ternyata oh ternyata, puisine memang bagus, karena memang sang asa hanyalah asa belaka, asa untuk sekedar penyambung hidup, namun memang tak akan lari asa dikejar, biarlah dia menjadi asa yang selalu memberi inspirasi dan pengayoman, dan patut digarisbawahi adalah sang asa itu bukanlah barang murah, ecek-ecek berbau politis ataupun kekuasaan meski available di setiap saat…. ruang dan waktu…
—————
asa yang terus akan melahirkan upaya dengan seluruh daya kemanusiaan. Bukan lagi hasil yang jadi berhala, tapi upaya itu sendiri yang sesungguhnya memberi nilai pada makna kehidupan.
asa yang bukan sekedar pidato politik demi meraih kekuasaan.
Mei 18, 2009 pada 2:04 am
puisine pancen apik tenan. asa memang harus selalu dipupuk agar kehidupan menjadi lebih bermakna.
aku dolan oleh ora kang?
————–
dengan senang hati… pintu rumah saya selalu terbuka untuk persahabatan yang tulus… ditunggu…
Mei 18, 2009 pada 3:49 am
foreplay-nya pendahuluan “seikan berempat” bukan yah? (Kalo liat aktor2 nya sepertinya sama…
)
————–
pelakunya masih sama… hanya locus de licti dan waktunya yang berbeda… wakakakakak…
Mei 18, 2009 pada 7:58 am
hebad gara gara koment jadi tulisan hebad
————–
inspirasi datang dari kejadian sekeliling kita… bukan gitu Kang?
Mei 18, 2009 pada 8:02 am
sajak yang bagus
kang boed emang bagus kalo nulis sajak
————–
makanya…, masak sajak sebagus itu cuma ngisi komentar… sayang kaaan…
Mei 18, 2009 pada 8:05 am
hebad karena komentar jadi tulisan dan dikomentari lagi
jadi tulisan lagi
dikomentari lagi ahhhhh
—————
itu namanya saling mencerdaskan…
Mei 18, 2009 pada 8:22 am
(doh) Tak pikir kowe nduwe URUSAN PRIBADI ambek mantan Gubernur BI, pak Boediyono yang sekarang maju jadi Cawapres pasangane pak SBY iku lho mas…..
Ternyata sedang menempatkan barang berharga pada tempat semesthinya….
————–
iyo jeeee…. barang berharga seperti sajaknya kangBoed harus diletakkan di tempat yang semestinya. masak cuma di box komentar…
aku ra nduwe urusan pribadi karo pak Boediono. tapi memang ada urusan soal negara.
urusan antara rakyat dengan penyelenggara negara… wakakakak…
Mei 18, 2009 pada 9:48 am
sajak KangBoed memang apik,
tapi pidato Pak Boediono
di Sabuga Bandung juga
mantap…..,
sayangnya SBY kurang
mempertimbangkan soal kemajemukan
dan representasi kebhinekaan
—————
setuju Bro… itu juga yang sejak awal saya prihatinkan…
Mei 18, 2009 pada 10:40 am
Seno menyang mBandung maneh?
kopdar karo bojone…?
————–
ho-oh… butuh pelampiasan goro2 ketemu kowe budal bareng nang Ponorogo… wakakakakak…
Mei 18, 2009 pada 3:57 pm
oowh…puisi itu toh,,
aku sempat baca..
kapan senoaji neng bandung..??
wogh..anake ora diajak tho…
ra kanda aku kih..
————–
ho-oh jeee… ketoke dadakan kie… aku yo kaget kok tiba2 wis njedul ning omahku…
Mei 18, 2009 pada 4:15 pm
kenapa ngak dijadikan posting sendiri ya puisinya?
—————
itu hebatnya kangBoed… puisinya gak diposting sendiri tapi dibagi2kan… hehehehehe…
Mei 18, 2009 pada 4:50 pm
wah mas pingin banget yang namanya kopdar selama ini aku belum pernah kopdar, dah coba cari & gabung komunitas tapi nggak satupun yang menindak lanjuti.
semoga segera ada kesempatan untuk saya… semacam asa yang tertuliskan kangBoed diatas…
—————
ayo kopdar sama aku dulu yuuukkk… nanti bareng2 kita ngumpul sama yang lain… gimana?
Mei 18, 2009 pada 8:29 pm
adios amigos!
babay…
————–
kamsudnya???
Mei 18, 2009 pada 8:45 pm
Salam kenal …. Mantap abis puisinya … ini bisa sebagai inpirasi postingan … hee hee hee
————–
Memang mantap puisinya kangBoed… makanya sayang kalau cuma diletakan di box komentar…
Salam kenal juga. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya…
Mei 18, 2009 pada 9:44 pm
si asa lagi kamana?
ka pasar?
qeqeqe
puisinya bagus…
————–
aya didinyak… enteu ka pasar.., ka mall… wkwkwkwk…
Mei 18, 2009 pada 10:27 pm
wah, ternyata yang bertamu mas seno dan istri. kapan saya bisa main ke rumah mas itempoeti, yak? hehe ….lirik kangboed memang oke, saya menangkap suasana tragis di balik sajak itu.
—————
iyaaa…, ketamon kang Senoaji dan istri. Silakan kalau mau ke rumah Kang… Dengan senang hati dan pintu terbuka…
waaahhhh…, kangBoed harus baca komen ini… dapat pujian dari pakar susastra hloooo… bukan main2 ini…
Mei 18, 2009 pada 10:48 pm
Krungu-krungu jare goro-goro weruh prawan Ponorogo… ono sing kalap …wakakakak..(lmao)
Terus nggeblas nyang mBandung… mencari lawan tanding sejatinya.
(doh) Aku malah dadi prihatin mikir kebutuhan biologise konco plek siji kae…. horotoyoooh….!! (lmao)
————-
kuwi jenenge…, “menyalurkan dengan benar tapi dengan cara yang salah…” haarrraaaahhhh kono… ngemeng epe… bwahahahah…(lmao)
Mei 18, 2009 pada 11:40 pm
komen yang no komen, pikiran gi ilang ntah kemana
————–
lagi ilang soalnya ada hitungan dagangan yang salah… gitu ya Princess?
Mei 18, 2009 pada 11:41 pm
mampir malem mas, wah ndak tahu mo komen apa, ngurusin blog yang maseh masuk sepam…mohon maaf hanya merepotkan
—————
iya niiich… ini masuk spam lagi sekarang… belum beres juga masalah spam?
btw, gak repot kok… cuma beda kamar aja… hehehehe…
Mei 18, 2009 pada 11:55 pm
salam dari bandung, kang
saya suka membaca puisi anda good ………….
PKS (pun) berbudi
PKS partai yang jujur tidak suka korupsi, Partai dakwah (kata iklan kampanyenya di TV)
PKS singkatan dari Partai keadilan sejahtera yang membuat petingginya takut beroposisi mungkin takut tidak sehjatera (maaf ini dugaan, semogah salah)
Menolak paham neoliberalisme karena mendewa-dewakan mekanisme pasar sebagai pengatur perekonomian Negara. (dan tidak sesuai dengan ajaran islam)
Ingin berkoalisi jika presiden dan wakilnya presentatif, nasionalis and agamis, (itu kata presidenya, bukan kata saya)
Mencalonkan 10 kadernya untuk di pilih sby menjadi wakilnya, alasannya logis pemenang ke -4, bhooo
Tapi sayang seribu sayang “itu hanya mimpi” (maaf mengutip lagunya Projek Pop)
Menurut pengamat politik dari UI, PKS terkesan menjual diri ( pelacur kali jual diri, tidak laku-laku akhirnya banting harga)
Menurut tetangga saya yang sangat mengidolakan PKS dan relah antri di TPS demi mencontreng partai idolanya, menyarankan ………. Para petinggi PKS banyak- banyak membaca ayat kursi, agar tidak ada kesan berjuang karena lapar mohon di kasih kursi menteri pun tak apalah kalau tidak dapat kursi wapres, dari pada tidak dapat apa-apa.
Kata limbad, fakir magician “terima kasih” (terima kasih telah di tipu dengan gertak sambalnya presiden PKS yang katanya anti neoliberal)
Dan sekarang para petinggi partainya tidak bisa tidur nyenyak, lagi berpikir bagaimana menenangkan massa akar rumputnya.
Ini betul-betul zaman edan kata permadi sang mistikus politik
https://esaifoto.wordpress.com
————–
Hahahahaha…
Ulasan yang cerdas, aktual, faktual dan sangat menarik… Sulit buat saya untuk tidak setuju… Tabik…
Mei 19, 2009 pada 1:13 am
ini item berbudhi atau kangboed berbudhi
————–
kalau item…, itu ya itempoeti…
kalau kangBoed…, itu lebih pas berboedi…, bukan berbudhi…
wakakakakak…
Mei 19, 2009 pada 1:58 am
Kang mahendra! Sajake kangBOED apik tenan to! Kira-kira ada gak ya yang mau komentar diblog-ku menggunakan cerpen?
Salam kenal muslihun – http://www.indonesiamenulis.com/
—————
Wakakakakak…
Saya malah lagi nunggu-nunggu ada yang mau komentar dengan menuliskan novel tapi kok belum ada yaaaa….
Salam kenal juga Kang… Nanti saya main ke “rumah” sampeyan…
Mei 19, 2009 pada 2:52 am
hiks… saya belum kenal sama mas Boed yang puitis itu… kalau si gembul Senoaji sih dah kenal, hehehe…
—————
yooo…, mengko tak kenalke… Senoaji gembul? hloooo aku kenale karo Senoaji yang berbadan tambun… kiro-kiro podo po ra yooo wonge… wakakakakak…
Mei 19, 2009 pada 3:07 am
Senoaji udah punya istri tho? Tak kiro joko tuwek (lmao)
————–
glodaaaakkk… *kaget mode on*
Tak kiro aku thok sing mikir ngono… (lmao)
Tapi pancen nyoto welo-welo aku weruh dewe jee Kang…
Gelem ra gelem kudu percoyo Kang…
Wakakakakak…
Mei 19, 2009 pada 4:48 am
Nice poetry… saya kalau disuruh bikin jangan harap sebagus itu… saya cuman bisa baca doank…
————–
Justru itu Kang… masak yang sebagus itu cuma ditaruh di box komentar… Kalau diposting kan jadi bisa dibaca dan dinikmati oleh banyak orang…
Mei 19, 2009 pada 5:56 am
mantabbb… rupanya banyak blogger yang cinta sastra dan mengekspresikan sastra dalam blognya. sangat salut!
————–
koyone do ketularan Kang Sawali kie… Salute nggo kang Sawali…
Mei 19, 2009 pada 6:27 am
salam kenal pak…..
————-
salam kenal juga…
senang sekali menerima kunjungan anda… Tabik…
Mei 19, 2009 pada 8:13 am
setuju mas, kapan, dimana?
————–
posisiku di Bandung jeee… piye jal? monggo kalau mau ke rumah…
Mei 19, 2009 pada 9:01 am
saya pingin tuh belajar bahasa sastra gitu…itu nulisnya mungkin juga pas di rintik2 hujan
————–
wakakakakak… jadi sense of sastra cuma muncul sepanjang musim hujan… kalau musim kemarau, sense of sastra-nya otomatis off…
Mei 19, 2009 pada 9:45 am
wah baca crita kopdar diatas,jadi pengen ketemu kowe kang
*mbayangne* ngombe kopi, ngudud lalapane sate
————–
wiiiissss jaaaannnn…, gayeng tenan pokoke… kapan yo penake diacarake?
Mei 19, 2009 pada 10:27 am
setiap rintikan hujan memang selalu meninggalkan kesan puitis bagi sesorang
kaya saya yang sokromantis————–
hloooo kok sok? jangan2 emang romantis… wkwkkwkwkwk…
Mei 19, 2009 pada 10:52 am
hihihihi… *muka merah*.. pura pura malu… waaaaaaaaah sungguh penghargaaaan besar… *muka makin merah*… gak bisa ngomong.. pengen nangis… *muka udang rebur*… aaaah pulang dulu… gak bisa komment banyak… takut nangis… hihihihi…
Mas Item Poeti di Bandung juga ya maaas… sami sami urang Bandung… hehehe… mengenai kopdar… saresehan kemaren april dah dimulai di Tanggerang di tempatnya ki Ngabehi mas… mudah mudahan.. akhir agustus… atau awal september jika ALLAH mengijinkan… akan diadakan di Bandung… untuk saudara saudara yang mau ikuuutan dan mendukung acara tersebuuuut… silahkan kita berbagi dan menyatukan visi… eee… numpang ijin ya mas item poeti… silahkan kunjungi…
http://kangboed.wordpress.com/2009/05/10/indahnya-persahabatan
—————
tuch kaaaannn…, rendah hati pula… bukan main…
seneng denger ada kegiatan kopdar… pasti makin banyak tambah sahabat… nu di Bandungna kiraha Kang?
muhun Kang…, Bandung tea… sok mangga Kang… dipakai we kamarnya…
Mei 19, 2009 pada 11:28 am
eh kangboed ini boediono cawapres?
maklum newbie di komunitas ini.
titip salam, om, siapapun kangboed itu.
puisinya bagoes
————–
beda doooong… ini mah kangBoed… lebih OK…
Mei 19, 2009 pada 12:57 pm
hihihi… aya aya waeeee… hehehe… mas itempoeti dimana di bandungna… saya di Kircon teaaa… BoedJeger Kircon… hehehe…
Salam Sayang
Salam Taklim
————–
abdi teh di Pajajaran…, deket IP Kang… sebelah bubur ayam pak Amid…
Mei 19, 2009 pada 2:16 pm
[...] akan melahirkan. Begitu pula Senoaji tidak nongol di Joglo Abang karena sedang menjalankan tugas negara ke kota [...]
Mei 19, 2009 pada 3:13 pm
bulan depan rencana mo maen ke bandung. tak inget2 : bubur ayam pak Arnid. bisa makan gratis nih
————–
aku tunggu… bubur ayam pak Amid jl. Pajajaran. Nanti ngomong sendiri sama pak Amid, boleh makan gratis gak…
wakakakakak…
Mei 19, 2009 pada 4:04 pm
yeah…. hidup kang boed… *salam kenal*
—————
salam kenal juga… nampaknya kita sering berpapasan selagi blogwalking… Tabik…
Mei 19, 2009 pada 4:23 pm
Saya di kiara condong maas.. dekat borma… hehehe.. waaaaaaah ada mbaaah Jenang.. hihihi…
————–
mbah jenang lagi mampir… biasanya cuma sempat papasan aja…
kapan yuk Kang kita kopdar… gimana?
Mei 19, 2009 pada 10:34 pm
Oom Tambun Senoaji? (doh)
Mampir dan meninggalkan komentar untuk pertama kali, jadi Assalamu’alaikum Kang Itempoeti….
————–
walaikumsalam….
iyoooo…, sing berbadan tambun… wakakakak…..
untuk pertama kali dan tidak untuk terakhir kali tentunya…
Mei 19, 2009 pada 11:05 pm
Saya nggak bisa buat sajak yg bagus…
————–
Berarti kita sama dong Kang… Sama-sama nggak bisa bikin sajak yang bagus…
Mei 19, 2009 pada 11:43 pm
baca satu-satu 39 komentar, senenge. rasae asyik kaya ndik jawa…
wis jan dadi pingin bali wae…. iso kopdar rono rene, lha neng kene kopyor…
————–
kopyor yo apik to Kang… tinimbang koplo… wakakakak…
hloooo… pisan-pisan bali wae Kang… mosok ra ono prei? mengko nek arep kopdar, aku sing dadi guide-nya… *nunut mode on*
Mei 20, 2009 pada 4:00 pm
Seperti sebuah cerita buronan politik yang dicari-cari rezim berkuasa. Mereka-mereka itu sedang menggagas dan menggerakan sesuatu yang hanya bisa dicium oleh indera ketujuh oleh rezim itu. bahasa-bahasa sandi mereka, konon, terdiri dari puisi-puisi…
————–
Wakakakakak…
Seru juga tuch ceritanya…
Terus ending ceritanya gimana Wan?
Mei 20, 2009 pada 7:17 pm
Haruskah saya membuat sajak juga agar dibuatkan postingan
hahahahahaha
anw pak, saya setuju dengan bapak. komentar2 di tulisan yang kita posting memang memberi inspirasi juga kepuasan tersendiri.
Saya juga mengucapkan terima kasih sudah sering mampir di rumah saya
salam, EKA
————–
Waduuuuuhhh…
Kalau semua begitu…, bisa kacau dunia persilatan…
Wakakakak…
Sama-sama dengan senang hati…
Mei 20, 2009 pada 7:19 pm
wah sajaknya bagus bang…casualcutie ga bs bikin sajak.
kayanya satenya enak & mantap, jadi laper….mau donk!!!
————–
Yaaaahhh… Mintanya kok baru sekarang…
Udah keburu abis satenya… Soalnya juga pada kelaperan…
Bwahahahaha…
Mei 21, 2009 pada 2:09 pm
sajake apik….
mwekmwekmwekmwekmwekmwek… terus aku kon piye jal?? xixixixixixii
————–
push up wae piye?
Mei 21, 2009 pada 4:14 pm
kadang asa datang tuk menghempas penat
tanpa mau merajuk walau terbujuk
melumat malas yang terjelma
hingga untaian nada menjadi rasa
diantara bimbang dan keraguan
asa datang menerjang raga
seiring jiwa yang tak lagi merana
oleh angkara yang meraja
salam hangat dari pantai selatan kang.
————–
dulur…, piye kabare? kok lama nggak ada kabarnya… ora keroso nek dikangeni…
Mei 21, 2009 pada 10:53 pm
Kang Boed emang nggaya… ntar kalo pada kopdar suruh bikin puisi di tempat aja Bro! *kan cuma beda dikit dengan ngetik puisi di kolom komentar blog orang hihihihi*
—————
Good idea!!! aku inget2 tuch sarannya… hihihihihi…
Mei 21, 2009 pada 11:06 pm
[...] 2009 — itempoeti Awalnya tulisan ini seharusnya lebih dulu diposting sebelum tulisan “Sajak kangBoed…” Namun akhirnya diambil sebuah keputusan untuk memposting setelahnya. Bukan tanpa maksud [...]
Mei 23, 2009 pada 1:51 am
hehehe.. mbak illum… kacamatanya makin bagus aja yaaa.. trend masa kini… ruaaaar biasaaaaa… eee… mas item poeti saya gak di kasih link yaaaa… hehehe… *muka ngarep*… dasar yaaa gak tahu diri… hehehe… jadi malu neeeeeh… ngomong ngomong boleh saya nanti email alamat ke sampeyan yaaa… ocheee!!!!!…
Salam Sayang
Salam Kangen
————–
mbak ilum kan gaul…
saya yang alpa… rasanya udah…, untung dikasih tahu… pas dicheck lagi ternyata emang belum…
ditunggu emailnya…
Tabik…
Mei 26, 2009 pada 9:01 am
hehehe.. die gaul bangeeeeeet.. hahaha… biar bisa melihat dunia dari dua sisi.. maklum pengamaaat kehidupan.. melihat carut marutnya negeri tercinta… dari dua sisi yang berbeda.. hehehe.. salute buat si mbaaak..
Oh.. yayaya.. sampeyaaaan tunggu kirimannya hari ini pakeeeeeeeeet bom buang angiiiin dari kircon teaaaa.. hehehe.. jangan kaget yaaaaaaa baunya minta ampuuun.. hehehe
Salam Sayang
Salam Kangen
—————
bagus kalau bisa bom buang angin… wakakakak… paketnya kayaknya nyasar ke Cikeas…
Mei 28, 2009 pada 5:02 pm
endingnya: the end. hahahahaha, mana tau aku bang… mohon petunjuk …
—————
petunjuk dengan cara ditunjuk pakai telunjuk… udah tahu sekarang?
endingnya : open ending… wakakakakak…
Juli 7, 2009 pada 12:50 am
[...] kedalaman makna dan hakikatnya sangatlah baik untuk kita kaji bersama.. maka melihat dan meniru mas itempoeti.. maka saya memberanikan diri menayangkan syair tersebut menjadi postingan dengan judul Syair [...]
Agustus 30, 2009 pada 5:21 pm
[...] kedalaman makna dan hakikatnya sangatlah baik untuk kita kaji bersama.. maka melihat dan meniru mas itempoeti.. maka saya memberanikan diri menayangkan syair tersebut menjadi postingan dengan judul Syair [...]