Pemilu, Mencari Kepemimpinan Alternatif ? (Bagian 2 dari 2)


Presiden RIPenyelenggaraan Pemilu yang akan segera dilaksanakan beberapa bulan mendatang nampaknya tinggal menunggu waktu saja.

Soal apakah Pemilu cuma Pseudo-Demokrasi, nampaknya tidak lagi penting. Apalagi ketika akhirnya Pemilu hanya menghasilkan kekuasaan dari uang, untuk uang dan oleh uang yang jelas-jelas antidemokrasi, nampaknya itu juga tidak lagi penting. Intinya, apapun hasilnya untuk rakyat, Pemilu harus jalan atas nama demokrasi.

Walaupun begitu, bagi mereka yang punya akal sehat dan budi nurani tentu akan diusik oleh sebuah pertanyaan yang muncul, “Kepemimpinan model apa yang lahir dari Pemilu sebagai sebuah proses demokrasi yang ternyata antidemokrasi?”

Tentu pertanyaan ini menjadi sangat penting mengingat 5 tahun ke depan, kebijakan negara yang menyangkut kelangsungan hidup bangsa dan hajat hidup 250 juta rakyat Indonesia dengan seluruh kekayaan alamnya berada di tangan pemimpin yang nanti akan terpilih.

5 tahun bukanlah waktu yang singkat dalam suatu periode kekuasaan. BJ Habibie yang sempat berkuasa kurang dari 5 tahun karena menggantikan Soeharto yang dipaksa turun ketika itu, ternyata bisa membuat Timor Timur lepas dari Indonesia. Demikian pula dengan penjualan Indosat dan Telkomsel semasa Megawati yang naik menggantikan Gus Dur. SBY sendiri juga melakukan hal yang sama dengan menjual BUMN PT Semen Gresik kepada Cemex. Belum lagi soal pengelolaan blok Cepu yang seharusnya lebih menguntungkan dikelola sendiri oleh Pertamina malah dilepas kepada Exxon. Kasus blok Cepu, walaupun ini terjadi pada masa pemerintahan SBY, namun keterlibatan Rizal Malarangeng –salah satu Capres Pemilu 2009- dalam proses negoiasi ini sangat signifikan.

Wajar jika karena keterlibatannya dalam mensukseskan keberhasilan Exxon mendapatkan blok Cepu lantas saat ini Rizal Malarangeng yang lulusan Ohio State University –Ohio Connection- punya dana yang begitu besar untuk mendanai berbagai iklan layanan masyarakat di berbagai stasiun TV juga pemasangan billboard besar-besaran di seputaran Semanggi salah satu lokasi strategis di jantung jakarta. Belum lagi dana yang dikeluarkan untuk memproduksi acara ‘Save Our Nation’ di salah satu stasiun TV yang berlogo mirip logo CIA.

Beberapa catatan kecil diatas seharusnya mampu membuka kembali memory kolektif yang cenderung terkena amnesia untuk bisa lebih memahami betapa signifikan peran kepemimpinan nasional dalam menentukan arah kebijakan negara 5 tahun ke depan menyangkut kelangsungan hidup bangsa dan hajat hidup 250 juta rakyat Indonesia dengan seluruh kekayaan alamnya.

Seperti pepatah lama yang mengatakan, “Hanya keledai yang terantuk dua kali dalam lubang yang sama..”, tentu karena bukan keledai, selayaknya ada semangat dan keinginan untuk tidak mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Bukan hanya sekedar tidak mengulang kesalahan dengan memilih orang yang sama untuk kedua kalinya, namun yang lebih prinsip dan mendasar adalah untuk tidak mengulang paradigma dan cara berpikir lama yang digunakan sehingga tidak lagi melahirkan pilihan yang merugikan kepentingan rakyat dan bangsa dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Paradigma lama dengan hanya melihat kemasan dan tampilan fisik yang mengecoh, visi-misi yang menyesatkan, popularitas semu yang di-create oleh kecanggihan Public Relation melalui iklan-iklan politik di media massa serta jargon-jargon dan janji-janji kampanye yang jauh lebih memabukkan dan merusak kesadaran ketimbang mengkonsumsi narkoba, tidak lagi bisa digunakan sebagai benchmark untuk memilih orang yang tepat untuk memimpin rakyat, bangsa dan negara ini.

Di sisi lain, cara berpikir lama yang dengan taqlid memberhalakan sebuah keyakinan bahwa pergantian kepemimpinan seolah-olah hanya dimungkinkan satu-satunya melalui proses Pemilu harus mulai ditinggalkan. Dari begitu banyak cara untuk mengupayakan terjadinya sirkulasi dan regenerasi kepemimpinan, Pemilu hanyalah salah satu diantaranya.

Selama paradigma dan cara berpikir lama yang digunakan, maka pada akhirnya rakyat dalam setiap proses politik akan selalu terjebak untuk diposisikan dan diperankan hanya sebagai obyek politik, bukan subyek politik dari sebuah proses kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan pemimpin yang terlahir dari proses politik seperti ini tidak akan pernah berorientasi pada kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

Untuk itu diperlukan upaya yang lebih serius dalam mencari kepemimpinan alternatif yang sungguh-sungguh berkarya untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Perlu ada paradigma dan cara berpikir baru yang lebih bermartabat dan berorientasi pada kemaslahatan umat serta memiliki akuntabilitas publik yang tinggi dengan membuka ruang kesadaran melalui jejak rekam –track record- dari setiap calon pemimpin atas karya-karya kerakyatan dan kebangsaannya dan bukan janji-janji politik yang belum terbukti.

Artinya, rakyat menjatuhkan pilihan-pilihannya didasarkan atas pembuktian terhadap komitmen kerakyatan dan kebangsaan dengan langsung mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh para calon presiden sekecil apapun. Sekali lagi, bukan dengan melakukan perjudian yang untung-untungan atas dasar janji-janji politik yang masih harus dibuktikan kebenarannya ketika sudah terpilih menjadi Presiden, namun dengan karya-karya nyata yang sudah dilakukan.

Memang, saat ini dengan kecanggihan Public Relation melalui iklan-iklan politik yang ada, tidak menutup kemungkinan adanya upaya manipulasi dalam rupa kemasan yang disuguhkan sedemikian rupa untuk mencitrakan seolah-olah ada karya nyata yang telah dilakukan. Namun dalam era informasi yang sudah sedemikian terbuka, kontrol publik juga menguat ketika terjadi kebohongan di ruang publik.

Wiranto, Prabowo, Sutiyoso dan Sri Sultan HB X misalnya, tidak serta merta bisa mengarang-ngarang cerita seolah-olah telah berkarya untuk rakyat, bangsa dan negara ini. Wiranto, semasa menjabat sebagai Pangab, tak bisa menutup jejak masa lalunya yang telah memerintahkan penembakan terhadap mahasiswa ketika terjadi peristiwa Semanggi 1998. Demikian pula dengan Prabowo, mantan Dankopasus dan Pangkostrad, beserta pasukan Mawarnya yang berada dibalik kasus penculikan aktivis dan peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti. Sutiyoso semasa menjabat sebagai Pangdam Jaya (SBY sebagai Kasdam Jaya) dengan kasus penyerangan terhadap kantor PDI –dikenal dengan peristiwa ‘kudatuli’- yang mengakibatkan korban jiwa yang cukup banyak. Tak terkecuali juga Sri Sultan HB X, dengan penjualan asset-asset keraton yang tidak ternilai harganya sebagai warisan budaya.

Kesemuanya itu adalah jejak rekam yang sudah menjadi informasi publik tanpa bisa lagi ditutup-tutupi.

Selain paradigma baru, cara berpikir baru dengan pendekatan contingency untuk membuka ruang pilihan cara yang lebih progresif revolusioner dan ekstrakonsitusional guna mendobrak kesalahan sistemik yang sudah akut dan berakar-urat tidak lagi perlu diharamkan dalam upaya mencari solusi alternatif untuk mendapatkan kepemimpinan alternatif.

Pada akhirnya semua terpulang kepada rakyat, kepada kita semua atas pilihan-pilihan yang ada. Setiap pilihan walaupun bukan pilihan yang dilematis tetaplah menyertakan resiko dan konsekuensi yang sepadan.

Jer basuki mawa bea.., menegakkan kebenaran perlu pengorbanan……

About these ads

20 Tanggapan to “Pemilu, Mencari Kepemimpinan Alternatif ? (Bagian 2 dari 2)”

  1. mata hati Says:

    aduuuuh segitu hipokritnya mereka yg mz bikin makin nisby memilih..but ga nyuruh golput lho hihi..pisss
    —————–

    Oooohhh iyaaaa…, gak nyuruh golput kok… Nyuruhnya pakai budi nurani… Hehehehehe…

    Btw, kalau kita masuk toko gak berarti harus beli kaaaannn… Hihihihihi… Piisss jugaaaa….

    Thanks dah mampir and leave a comment… :)

  2. Mahendra Says:

    Komentar Awie -Kesunyian Jiwa-
    1. Jam 6.15 PM isinya : pertamax dulu baru baca he he he
    2. Jam 6.39 PM isinya : pertamax dulu baru baca
    3. Jam 6.44 PM isinya : buat aku birokrat = pelacur
    sama-sama suka jual kehormatan atas nama uang
    calao pemimpin negri tercinta ini memang tidak ada yang mendekati 40% dari kesempurnaan sebagai calon pemimpin,buat aku taik kebo pesta demokrasi tapi gue akan tetap memilih walau dengan mata tertutup biar ga di katakan golput gtw
    ——————

    Sorry berat Bro…, gak tahu kenapa komentarnya hilang… Jadi aku copy dari emailku…

    Tapi aku tetap hitung yang pertamax kok… Hihihihihi…

    Golput itukan kata orang yang tahu kita gak milih… Tapi kalau di dalam bilik suara kan gak ada yang tahu… Katanya bebas dan rahasia… Wkwkwkwkwkw :D

  3. senoaji Says:

    ….. hmmmmm…. wahhh piye…. wahh jannn ra tegel tenan aku…hmmmm piye yo…. sik..kosimik…tak mikir sikik…..

    *4 jam kemudian*

    wahh rung ono sing nyantol je, sik tak gentere… men do tibo…

    *11 minggu kemudian…*

    asikkkkk nemu mas aku nemu [jepat jepat sak karepe] ngene mas… kuda kan binatang to mas ????? wah jan cen aku ki paling… piye yooo… wah dadi teng tlekuk rupaku ki??? opo yo…

    Tipikal, hati nurani dan tidak menjadi golput memang banter orang ceramah soal itu, apalagi komitmen buat para calon pemimpin??? weks cuhhh.

    *5 Taun kemudian*

    piye mas ketemu to? wkwkwkwkwkwkwkwkwk
    ——————–

    Hlaaaa wong ngenteni kowe je… Kok malah ganti tekok… Ora usah digoleki…, ora usah dienteni…, digenter… Mengko rak metu karepe dewe nek wis wancine… Wkwkwkwkwkwk…. :D

  4. suryaden Says:

    wah mas awie itu semoga puas dengan uneg-unegnya ya…
    kondisinya memang menyakitkan hati, dan efeknya menjadikan demokrasi sebagai biangnya, astaqfirulloh…

    aku lebih setuju untuk menyebarkan ini :
    “Untuk itu diperlukan upaya yang lebih serius dalam mencari kepemimpinan alternatif yang sungguh-sungguh berkarya untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Perlu ada paradigma dan cara berpikir baru yang lebih bermartabat dan berorientasi pada kemaslahatan umat serta memiliki akuntabilitas publik yang tinggi dengan membuka ruang kesadaran melalui jejak rekam –track record- dari setiap calon pemimpin atas karya-karya kerakyatan dan kebangsaannya dan bukan janji-janji politik yang belum terbukti.”

    kepada komunitas-komunitas masing-masing dan berkembang dengan cepat, melalui banyak media yang kita punyai, misalnya nongkrong atau tulisan-tulisan di blog

    Yah bagaimanapun kita dituntut untuk memberikan juga yang terbaik minimal kepada sekitar kita…, semampunya… kekeke…
    ———————–

    Setuju mas…, soal kemudian mereka mau atau tidak untuk diajak bener.., itu sudah urusan mereka… Setidaknya kita sudah mencoba untuk mengingatkan… Nuwun… :)

  5. suryaden Says:

    wakaka…

    program profesi capres ki ono bayare ora yo…
    kayaknya menarik juga, kok yang mau naik cuma itu-itu saja…

    mungkin caleg itu juga program profesi juga, program ngaceng kekuasaan hahaha… dan resikonya juga apakah mereka berani kalah bertanding, semoga aja yang kalah bisa legowo, kalo nggak ya ke lalijiwo aja daripada ngisruh.. ya to… kakakkaa
    ———————

    Legowo??? Gak janji deeeeccchhh…. ketemu wae ora gelem.., opo meneh salaman… Jangan-jangan kata ‘legowo’ aja mereka gak kenal… Hihihihihihihi…. :D

  6. mikekono Says:

    Rakyat mungkin saja
    menghendaki munculnya kepemimpinan alternatif
    tapi keinginan itu bakal
    terkendala oleh aturan main pilpres
    sehingga rakyat dipaksa untuk
    memilih yang itu-itu juga…
    pilihannya cuma antara SBY,
    Mega, Prabowo atau Wiranto
    Rizal Ramli tak mngkn bs
    lolos jd capres
    ———————–

    Iyaaa Bro…, katanya demokrasi…. Tapi aturan mainnya tidak demokratis…. Ironis ya Bro… Tabik… :D

  7. Hejis Says:

    Pertanyaan tentang pemilu yang terus mengganggu tidurku: Sudah signifikankah praksis pemilu di Indonesia dengan kemajuan politik masyakarat kita?

    (Halo mas Mahendra, saya mampir lagi… )
    ———————-

    Hallo Mas Heru…, seneng banget hloooo dijenguk… Gimana kabarnya Mas? saya kangen hlooo dengan postingan anda… Hehehe…

    Saya setuju Mas…, baru saja saya tadi diskusi dengan istri soal Pemilu… Kesimpulannya memang nampaknya kita belum siap untuk berdemokrasi secara liberal… Jangankan rakyatnya…, elit politiknya aja belum siap kok…. Baik pemahaman politiknya…, apalagi mentalnya…. Jaauuuuuuuhhhhh…. Wkwkwkwkwkwkwkwk…… :D

  8. sibaho Says:

    idealnya orang akan berpikir ulang jika dipilih menjadi pemimpin apalagi yang bersifat ‘pengabdian’. Lihat saja ketika pemilihan Ketua RT. Rata-rata menolak jadi kandidat. Kenapa? Lalu kenapa orang berebut jadi caleg, presiden, hingga menghamburkan milyaran rupiah?
    ——————–

    Setuju laek… Kalau Ketua RT kan dang adong hepengnya… Kalau jadi anggota anggota DPR dan Presiden kan banyak kali hepengnya…

    Jadi keluar hepeng milyaran rupiah.., kembalinya pun berlipat-lipat… Katanya.., “Hepeng mangatur negaraon…” Hahahahahaha…. :D

    Makasih laek sudah mampir dan komentarnya…. Horas… :)

  9. Suhar Says:

    Paradigma, cara berpikir dan sistem baru yang ideal seperti itu yang justru ditakuti politisi-politisi di Senayan sana. Sehingga dibikinlah regulasi demi mempertahankan sistem yang masih memungkinkan mereka memainkan kedaulatan rakyat sesuka mereka termasuk regulasi mengenai kepemimpinan alternatif.

    Sebenarnya, rakyat punya kesempatan mengubahnya saat Pemilu besok.. kalau mau.
    ———————

    Saya setuju…, selagi ada pilihan… Masalahnya ketika Pemilu tidak bisa memberikan alternatif kepemimpinan baru terus bagaimana rakyat bisa mengubahnya? Tabik…. :)

  10. casual cutie Says:

    wew daripada milyaran rupiah dihambur hamburin buat kampanye, mending disumbangin ke fakir miskin aja.
    ko pada berebut ya nyalonin jd presiden, caleg, dll???
    ———————-

    Waaaahhhh…, setuju banget itu… 6.67 Triliun itu kalau dibeliin beras jadi berapa banyak coba??? Pasti banyak yang bisa makan tuch… Yang kelaperan masih banyak kok duit dihambur-hambur…. :(

  11. ahmad Says:

    walaupun smua hanya ntuk uang kita harus milih yang baik untuk rakyat, jangan sampai kita ngak memberikan suara kita key
    ———————–

    Waduuuuuhhh…, milih yang baik untuk saya sendiri aja bingung…, apalagi milih untuk rakyat… Kalau salah milih…, malah dimaki-maki sama rakyat… Mending milih untuk diri sendiri aja yaaa…. Hihihihihihihihi… :D

  12. defrimardinsyah Says:

    Lantas… bagaimana dong nasib bangsa kita ini, kalau kita hanya berpangku tangan dan menyerahkan pilihan-pilihan kepada rakyat, dimana rakyatnya sendiri bingung apa yang harus dipilih.. memilih salah, tidak memilihpun salah…

    terima kasih sudah mampir…..
    salam kenal
    ——————-

    Salam kenal juga…

    Mungkin kita harus mulai dari diri kita dan lingkungan terdekat untuk mulai menggunakan budi nurani kita dalam membuat pilihan.., apapun pilihannya.., termasuk pilihan untuk tidak memilih…

    Hati nurani tak pernah salah… Tabik… :)

  13. esaifoto Says:

    salam dari bandung

    Para penyembah kekuasaan tanpa rasa malu mempertontonkan kebodohannya di hadapan rakyat dengan iklan politiknya.

    Dan rakyat jelata yang menganut ideologi “asal perut kenyang” mau saja di bodohi oleh janji-janji politik kaum penyembah kekuasaan tanpa ada perasaan di bodohi dari tahun-ketahun dan hanya bisa beronani dalam pikiran menunggu sang ratu adil.

    “betapa gobloknya hidup di negeri para badut”

    http://esaifoto.wordpress.com

    ———————

    Kumaha Teh…, damang?

    Abdi teh bumina ugi di Bandung tea… Nuhun tos mampir di blogna abdi…

    Muhun Teh…, kita yang memang diberi pencerahan untuk melihat persoalan politik dengan lebih jernih sudah semestinya juga mencoba melakukan pencerahan kepada rakyat agar mereka tidak dibodohi terus menerus oleh elit politik yang haus kekuasaan. Nuhun…

    Tabik… :)

  14. bagusweda Says:

    kita akan mendapatkan pemimpin, bila sudah mampu merubah sistem politik, bilamana rakyat sudah menjadi subyek bukan objek lagi. Saat ini hanya ceremonial rutin 5 tahu sekali, dengan anggaran triliunan, yang pada akhirnya tidak memberikan dampak banyak pada rakyat. Hati-hati memilih pemimpin…
    —————-

    Supaya hati-hati.., gunakan budi nurani… Setuju mas Bagus? :)

  15. bahtiarian Says:

    Atau hati nurani dalam logos semesta pengertian (=hati sanubari)?
    Atau hati nurani dalam logos semesta politik praktis (=salah satu nama parpol)? ;-)
    ——————

    Saat ini hati nurani pun sudah dipolitisir. HAti NUrani sudah sanggup memberikan perintah kepada tentaRA agar menembak mahasiswa dalam Peristiwa Semanggi 1998.

    Itu sebabnya saya lebih suka menggunakan istilah budi nurani ketimbang hati nurani. Rasanya lebih pas dan tidak menimbulkan multi tafsir.

    Tabik… :)

  16. Pemilu 2009, Terbukanya Kotak Pandora « itempoeti Says:

    [...] demikian, tetaplah tengadah menatap masa depan, karena Sang Asa selalu ada bersama kita. Ditulis dalam Nasional, Renungan. Tag: asa, dewa, harapan, kekuasaan, kotak Pandora, mitologi [...]

  17. Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Pemilu 2009, Terbukanya Kotak Pandora Says:

    [...] Kendati demikian, tetaplah tengadah menatap masa depan, karena Sang Asa selalu ada bersama kita. [...]

  18. Analisis Dibalik Teror Bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta « itempoeti Says:

    [...] Mereka ingin memastikan bahwa hegemoni mereka terhadap Indonesia tidak diganggu oleh adanya kepemimpinan nasional baru yang akan muncul memimpin Indonesia 5 tahun ke [...]

  19. Kotak Pandora dan Pemilu 2009 « mahaindra Says:

    [...] demikian, tetaplah tengadah menatap masa depan, karena Sang Asa selalu ada bersama kita. Ditulis dalam Nasional. Tag: asa, dewa, harapan, kekuasaan, kotak Pandora, mitologi Yunani, [...]

  20. Teror Peledakan Bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta; Sebuah Analisa | itempoeti Says:

    [...] Mereka ingin memastikan bahwa hegemoni mereka terhadap Indonesia tidak diganggu oleh adanya kepemimpinan nasional baru yang akan muncul memimpin Indonesia 5 tahun ke [...]


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.150 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: