Beberapa hari yang lalu saya sempat terlibat diskusi kecil dengan salah seorang kawan soal tulisan saya yang baru selesai berjudul “Super Toy, Cerita Kegagalan dari Penggalan Konsep yang Tercecer.” Kawan itu sempat mengkritisi penggunaan kata ‘beliau’ dalam tulisan saya yang dianggap tidak egaliter. Menurutnya, kata ‘beliau’ lebih baik diganti dengan ‘dia’ karena lebih terkesan egaliter.
Ketika itu saya hanya sedikit menjelaskan bahwa penggunaan kata ‘beliau’ sesungguhnya hanya untuk mempertegas karakter protagonis dan antagonis yang ada dalam tulisan tersebut.
Diskusipun terhenti dan berlalu begitu saja karena kita berdua lalu asyik tenggelam dengan kesibukan masing-masing.
Namun tak lama tiba-tiba ingatan saya seperti digugah kembali ketika membaca tulisan Mulyani Hasan tentang Samsir Mohamad. Tulisan kontemplatif tentang perjalanan perjuangan seorang anak bangsa yang mengharu-biru.
Mulyani, dalam tulisan itu begitu terkesan dengan sikap Samsir yang berusia 81 tahun namun lebih senang dipanggil dengan nama saja tanpa embel-embel. Samsir bilang, “…kita harus membiasakan bersikap egaliter…”
Saya mencoba mengambil waktu sejenak untuk berjarak dari proses dialektika yang terjadi. Satu kata yang muncul dalam momentum yang berdekatan. Saya tak pernah percaya akan kebetulan, dan ini jelas bukan suatu kebetulan.
Egaliter….
Ada sesuatu yang serupa, tapi tak sama. Serupa pada teks, tapi tak sama pada konteks. Pemaknaan atas kata egaliter ternyata tak bebas nilai. Tak bisa digebyah uyah pukul rata, antara teks dan konteks.
Seorang Samsir boleh dan sah-sah saja merelakan diri untuk dipanggil Samsir tanpa embel-embel apapun bahkan oleh seorang anak Sekolah Dasar sekalipun. Itu karena Samsir memiliki hak atas dirinya untuk diperlakukan seperti apa yang dia mau. Tinggal soalnya, apakah dia memberikan hak kepada orang lain untuk memperlakukan itu terhadap dirinya. Tanpa itu, tak ada satu orangpun yang boleh memanggil Samsir hanya dengan Samsir, karena Samsir juga punya hak untuk merasa tidak suka hanya dipanggil Samsir tanpa embel-embel.
Mungkin saja tatkala Samsir masih menjabat sebagai direktur perusahaan, tak ada satu orangpun yang memanggilnya Samsir tanpa embel-embel seperti yang terjadi saat ini. Itupun juga boleh-boleh saja dan sah-sah saja mengingat interaksi sosial saat itu memang menuntut seperti itu.
Kesadaran Samsir untuk melakukan bunuh diri kelas dengan menyengaja dipanggil Samsir tanpa embel-embel adalah resultante dari sebuah proses dialektika perjalanan hidup yang terinternalisasi di dalam dirinya yang tentu saja tidak bisa dengan mudah kita copy paste secara mekanis kedalam hidup kita tanpa pemahaman kesadaran yang melandasinya.
Sikap egalitarian bermula dari kesadaran subyektif yang muncul karena suatu proses dialektika hidup yang imanen dan transenden. Bukan sebagai sikap obyektif yang muncul sebagai suatu kesepakatan kolektif secara komunal.
Ibarat sebuah prosesi ritual keagamaan yang dilakukan sebagai syareat tanpa memahami apa hakekat sesungguhnya dari prosesi ritual tersebut. Akhirnya semua berjalan secara mekanis, kering dan miskin dengan pemahaman hakiki atas apa yg dilakukan. Prosesi ritual tanpa sakralitas.
Pemahaman tentang membangun sikap egaliter ibarat sekeping mata uang dengan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi bisa memunculkan sikap anti kelas, kesahajaan dan relasi yang lebih tulus jauh dari sikap hipokrit. Namun di sisi lain bisa pula memunculkan relasi antar manusia yang bersifat mekanis, kering dan miskin yang justru menegasikan nilai-nilai kemanusiaan.
Sikap egalitarian yang latah dan dangkal justru akan membunuh sisi-sisi kemanusiaan kita. Sikap egalitarian tidak melulu dibangun atas dasar hubungan antar manusia dengan hanya menggunakan logika pikir rasional semata. Namun melibatkan lebih dalam unsur rasa –sense- dan kehendak –will- dalam interaksi antar manusia.
Muncul sebuah pertanyaan yang kontemplatif, “Apa sesungguhnya ukuran atau parameter egaliterian ?” Apakah sekedar pada panggilan nama yang tanpa embel-embel ?, ataukah ada ukuran dan parameter lain yang lebih substantif ?
Yang terbayang oleh saya adalah sebuah relasi kemanusiaan yang tak berjarak, tak berkelas. Namun dipenuhi oleh kesadaran peran, fungsi dan tanggung jawab kemanusiaan terhadap SESAMA. Sikap egaliter adalah sikap yang dibangun atas kesadaran cinta kasih kita sebagai manusia dengan antar sesama manusia.
Tiba-tiba saja saya teringat akan sebuah transliterasi Jawa Kawi, ‘Tatwam Ashi. Bhinneka Tunggal Ika. Tan Hana Dharma Mangrwa.’ Yang secara bebas artinya, ‘Aku adalah dia, dia adalah aku. Berbeda tapi satu. Tak ada kebenaran yang mendua.’
Mungkin ini jawaban atas pemahaman sikap egaliter, setidaknya tentu untuk saya. Bagaimana dengan anda ?
Bandung, Rabu, 2 Oktober 2008



























Oktober 29, 2009 pada 12:22 am
egaliter berarti orang sholat jamaah dalam masjid