Malam itu, waktu menunjukkan hampir pukul 12 malam. Mikrolet yang aku naiki masih berjalan pelan menyusuri jalan untuk memungut penumpang yang masih tersisa.
Tepat di sebuah tikungan jalan, kulihat ada serombonga orang menghentikan mikrolet yang kunaiki. Setelah mikrolet berhenti naiklah serombongan orang tersebut. Aku yang duduk di bagian belakang segera menggeser posisiku untuk memberi ruang duduk begitu tahu yang naik berjumlah lima orang.
Mereka naik satu persatu dengan saling bergandengan satu dengan yang lain. Setelah aku perhatikan lebih seksama ternyata mereka adalah para penyandang cacat netra. Sopirpun nampaknya menyadari bahwa yang naik para penyandang cacat netra, dia lebih bersabar menunggu sampai semuanya naik dan duduk baru menjalankan kembali mikroletnya.
Sepanjang perjalanan, ke lima orang, tiga pria dan dua wanita itu saling berbicara ditingkahi dengan canda dan gurau diantara mereka. Tepat ketika melewati jembatan yang melintasi sebuah sungai dengan baunya yang begitu menyengat, salah satu diantara mereka menggoda temannya, “Man.. (mungkin namanya ?), kalau kentut jangan sembarangan dong…, kan baunya kemana-mana…” Yang dipanggil ‘Man’ tersebut dengan tertawa kecil menjawab, “Ha ha ha.., bukan aku yang kentut.., tapi si Tuti yang kentut.. Tadi dia kan makan telor rebus makanya kentutnya bau banget..”
Aku dengan beberapa penumpang lain yang ada di dalam mikrolet tidak bisa menahan untuk ikut tersenyum mendengar canda dan gurauan mereka yang begitu bebas dan spontan. Canda dan gurauan yang terus mengalir diantara mereka membuat perjalanan yang begitu membosankan berubah menjadi hidup dan penuh dengan kegembiraan, setidaknya terlihat dari ekspresi penumpang yang lain.
Sampai pada akhirnya mikrolet berhenti setelah terlebih dulu mereka menyampaikan kepada supir tempat dimana mereka ingin turun. Setelah mereka turun dan membayar, supir menjalankan kembali mikroletnya.
Sepeninggalnya mereka, kami yang berada di dalam mikrolet masih tersenyum-senyum merasakan sisa-sisa canda dan gurauan mereka yang masih tertinggal.
Tak jauh dari mereka turun, akupun akhirnya juga turun di tempat biasanya aku turun. Sesampainya di rumah, seperti biasa, sambil duduk santai membuang lelah dengan melepas sepatu ditemani secangkir kopi panas, ingatanku kembali pada peristiwa di atas mikrolet tadi.
Terbayang olehku betapa ‘kegayengan‘ -keakraban dan kehangatan- yang terjadi diantara lima orang tuna netra tersebut ternyata mampu meradiasi seisi mikrolet. Tak terlihat sama sekali adanya rasa rendah diri, kesedihan atau kegusaran atas cacat fisik yang ada pada diri mereka.
Mereka yang buta itu ternyata lebih mampu melihat dunia ini lebih indah daripada kita yang diberikan kesempurnaan penglihatan.
Mereka yang punya keterbatasan fisik berupa cacat netra ternyata sanggup membuat dunia ini menjadi lebih indah tidak hanya untuk mereka sendiri tapi juga untuk orang-orang yang ada di sekitarnya.
Ini sebuah bukti bahwa kegembiraan dan kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kita impor dari luar melalui apa yang kita lihat…, melainkan sesuatu yang kita gali dan bangun dari dalam diri kita sendiri.
Betapa indahnya dunia ketika kita semua bisa memandang dunia seperti layaknya mereka -lima orang tunanetra- tersebut memandang dunia. Pasti dunia akan menjadi lebih indah dan berwarna-warni dipenuhi aroma sujud syukur.
Allahu Akbar………



























Mei 8, 2009 pukul 5:53 am
mata itu seperti buah simalakama, di satu pihak manusia bisa belajar lebih banyak (baca, tulis), di lain pihak jadi terkondisikan melihat keluar terus, jadi lupa me’lihat’ ke dalam diri sendiri
————–
Oleh karena itu kedua mata, mata kasat dan mata hati harus digunakan secara seimbang…