Paus Benediktus XVI pada kuliah umum di Universitas Regensburg, Bavaria, Jerman yang diselenggarakan selasa, 12 September lalu mengutip dialog yang terjadi antara Kaisar Byzantine Manuel II Paleologus dengan seorang Persia terpelajar yang terjadi di Ankara, Turki pada 1391.
Paus dalam kesempatan itu mengatakan, “Tunjukkan kepadaku apa kabar baru yang dibawa Muhammad, dan kalian bakal menjumpai hal-hal yang tidak manusiawi, sebagaimana perintahnya menyebarkan dengan pedang agama yang dipeluknya,” mengutip apa yang dikatakan Manuel II.
Pernyataan tersebut kontan saja menimbulkan reaksi keras dari berbagai Negara islam dan kelompok-kelompok islam. Dari Lebanon, ulama senior Syiah Muhammad Hussein Fadlalah mendesak Paus untuk meminta maaf secara terbuka. “Kami tidak menerima permintaan maaf melalui saluran Vatikan dan ingin dia (Paus) meminta maaf secara langsung dan terbuka kepada umat islam,” kata Fadlalah. Pernyataan senada dengan pernyataan Fadlalah datang dari Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyah. Begitu pula dari ulama islam Sunni di Irak, yang bahkan mendesak pemerintahnya untuk mengusir duta besar Vatikan dari Irak.
Di Inggris, Ramadan Foundation yang berbasis di Rochdale, juga Ketua Komisi Nasionalitas untuk Minoritas di India Hamid Ansari juga menyampaikan ungkapan yang senada. Di Jakarta, Majelis Ulama Indonesia juga menyayangkan pernyataan itu. “Tidak layak ucapan itu keluar dari dari seorang Paus,” ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin (Koran Tempo, Sabtu, 16 September 2006). Berbagai komentar seperti di atas nampaknya masih akan terus bermunculan menyusul pernyataan kontroversial tersebut.
Kejadian paling mutakhir di atas menunjukkan betapa konflik keagamaan tidak pernah selesai dari waktu ke waktu. Pernyataan Ketua Komisi Nasional untuk Minoritas di India, ” Bahasa yang digunakan Paus mirip dengan sejawatnya pada abad ke-12 yang memerintahkan Perang Salib,” adalah sebuah indikasi bahwa konflik keagamaan seperti sebuah fenomena puncak gunung es.
Agama apapun itu, selalu mengarahkan manusia untuk hidup penuh dengan cinta kasih demi terciptanya kedamaian di muka bumi ini. Tidak ada satupun agama yang memerintahkan pengikutnya untuk membuat kekacauan dan kejahatan di muka bumi. Semua ajaran agama selalu menjadi antithesa dari kecenderungan manusia untuk menuruti nafsu serakah angkara murkanya. Seorang filsuf Yunani Plato sering menyebut manusia Animale Rasionale -hewan cerdas-.
Pada kenyataannya, dalam proses perjalanan waktu, agama pada akhirnya justru menjadi alat pembungkus untuk menjustifikasi dan melegitimasi nafsu serakah keangkaramurkaan yang dilakukan oleh manusia di berbagai belahan dunia. Perang Salib yang selama ini diyakini oleh banyak pihak sebagai perang agama, nyata-nyata adalah perang perebutan wilayah antara kerajaan Inggris Raya dengan kerajaan Ottoman untuk memperluas imperiumnya.
Dalam peperangan tersebut, kerajaan Inggris yang terdesak posisinya merasa perlu menggalang bantuan dari kerajaan-kerajaan lain di Eropa. Kerajaan Inggris berhasil meyakinkan kerajaan-kerajaan Eropa untuk menempatkan kerajaan Ottoman sebagai common enemy dengan memunculkan solidaritas kristiani di satu sisi dan memunculkan sentimen islam di sisi lain. Jadilah perang tersebut berubah menjadi perang antar agama.
Sejarah dunia juga mencatat dimulainya zaman Kolonialisme-Imperialisme Eropa seiring sejak terjadinya Revolusi Industri yang mendorong Negara-negara Eropa untuk mencari wilayah-wilayah baru yang kaya dengan potensi alam. Inilah awal dari pengiriman ekspedisi besar-besaran yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa dengan mengibarkan panji-panji Gold, Glory, dan Gospel sebagai basis legitimasi atas pengkaplingan yang mereka lakukan terhadap wilayah-wilayah jajahan baru yang tersebar di seluruh dunia.
Mereka selalu menyertakan Gospel dalam bentuk Missi atau Zending sebagai upaya ‘syi’ar’ Kristiani (Protestan atau Katolik) untuk menjadi basis legitimasi dan justifikasi dari nafsu serakah angkara murkanya untuk menjajah dan mengeksploitasi manusia dengan segenap kekayaan alam wilayah jajahannya.
Di sisi lain, konflik ditubuh islam seusai kepemimpinan Khalifah Al-Rasyidun yang diakhiri dengan terjadinya perang Karbala antara kelompok pendukung Sayyidina Ali dan kelompok penentang Sayyidina Ali juga lebih disebabkan persoalan politik antara kelompok yang tetap ingin mempertahankan proses suksesi kepemimpinan ala Rasulullah yang tidak didasarkan atas garis keturunan (demokratis ?) dengan kelompok yang ingin mengembalikan kekuasaan kepemimpinan ke tangan para Sheikh-Sheikh/Emir-Emir yang menjadi Khalifah secara turun menurun (Feodal ?) seperti semasa sebelum Rasulullah. Konflik politik inilah yang kemudian melahirkan Syiah dan Sunni.
Di Nusantara, catatan menarik juga bisa dilihat dari konflik yang terjadi semasa Mataram kuno antara Wangsa Sanjaya yang Hindu dan Syailendra yang Budha hingga berakibat konflik di antara keduanya yang berujung hengkangnya Syailendra ke Sumatera yang kemudian melakukan unifikasi dengan kerajaan Sriwijaya.
Kasus yang paling mutakhir juga bisa dilihat dari konflik yang terjadi antara kerajaan Demak yang Islam dan kerajaan Majapahit yang Hindu-Budha. Ketidaksukaan Jim Bun (R. Patah) Raja Demak Binthoro dengan dukungan para Wali, terhadap Syekh Siti Jennar dan Ki Ageng Pengging semata-mata bukan karena ajaran Syekh Siti Jennar dianggap bid’ah (versi Demak). Namun lebih karena ketidaktundukkan Syekh Siti Jennar dan Ki Ageng Pengging kepada Demak. Sikap ini dianggap insubordinasi terhadap kekuasaan politik Demak dan dianggap sebagai benih perlawanan terhadap kekuasaan politik Demak. Walhasil Syekh Siti Jennar dan Ki Ageng Pengging harus dieliminasi.
Ajaran Jennar yang dianggap sebagai basis legitimasi dan simbol kelompok anti Demak harus distigma sebagai ajaran yang dianggap bid’ah. Sosok Syekh Siti Jennarpun sampai-sampai harus di-character assasinasi dengan menciptakan cerita mayatnya berubah menjadi bangkai anjing.
Semua kejadian itu seharusnya membuat kita selalu ingat dan waspada betapa agama sudah sering kali dijadikan alat untuk menjustifikasi dan melegitimasi tindakan-tindakan politik yang dilakukan terhadap lawan-lawan politik.
Pernyataan kontroversial Paus Benediktus XVI yang disampaikan di tengah konflik Timur Tengah antara Israel versus Hamas, Amerika versus Irak dan juga versus Iran harus dilihat sebagai pernyataan politik dan bukan sebagai pernyataan keagamaan. Sehingga kita tidak lagi mengulang kebodohan yang sama, terjebak dengan konflik-konflik politik yang dikemas dengan sentimen kegamaan yang justru ditentang oleh ajaran agama itu sendiri.
Agama sebagai firman Tuhan adalah alat untuk menjadikan manusia mampu Hamemayu Ayuning Bawana Langgeng -menghiasi keindahan dunia agar lestari-, bukan dengan pertumpahan darah namun dengan semangat cinta kasih seperti yang diamanatkan dalam kalimat Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.



























Desember 14, 2008 pada 12:44 am
Bagi saya Islam itu sifatnya holistik, jadi tidak hanya mengatur soal moralitas, apalagi hanya bersifat personal. Konflik tidak hanya terjadi atas dasar agama. Perluasan demokrasi di dunia ini juga penuh darah… (kasus Vietnam, Korea, Jerman, Soviet dst …) Pemberantasan terorisme di dunia juga dilakukan dengan perang (Afghanistan, Pakistan, Irak dst). Tapi apakah karena itu demokrasi harus dijauhkan dari masyarakat?
itu dulu. salam dari medan
————
Karena islam bersifat holistik, maka moralitaslah yang menjadi dasarnya. Islam bersifat personal, karena komunal itu adalah kumpulan personal. Personalnya islami, maka otomatis komunalnya islami.
Terorisme yang diperangi itu ciptaan siapa? Islamkah?! Tentu tidak… Karena Islam tidak pernah mengajarkan terorisme. Tapi terorisme yang dilakukan selalu mengatasnamakan islam…
Yaa.., demokrasi harus dijauhkan dari masyarakat ketika demokrasi tak lebih hanya sekedar demokrasi politik yang dilakukan oleh elit dengan menggunakan kapital untuk memanipulasi kesadaran rakyat.
Demokrasi politik tanpa demokrasi ekonomi adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Karena pada akhirnya kapital yang berkuasa atas nama pasar. Itulah demokrasi yang perlu dijauhkan dari rakyat.
Tabik….
Desember 15, 2008 pada 11:11 am
Apabila dicermati, ada 2 kekuatan besar yang dapat memicu pertikaian.
Pertama: kekuatan dari dalam masyarakat dan kebudayaan (internal factor).
Kedua: kekuatan dari luar masyarakat dan kebudayaan (external force)
Masyarakat sebagai kumpulan individu, tidak bebas dari perbedaan kepentingan dan cara menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Perbedaan jenis kelamin, tingkat usia dan lingkungan pendidikan (dalam arti luas) dapat melahirkan perbedaan kepentingan dan cara penangulangan yang pada gilirannya dapat memicu pertikaian dalam kelompok sosial yang bersangkutan.
Perbedaan cara pandang dan strategi untuk mengahadapi tantangan hidup antar generaasi merupakan kekuatan pembaharuan yang dapat memicu konflik antar generasi. Oleh karena itu ada anggapan bahwa pertikaian sosial itu memang diperlukan, mengingat kehadirannya di setiap kelompok sosial dan di setiap waktu sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Akar masalah atau kepentingan yang menjadi alasan konflik, seperti perbedaan sudut pandang dan pola pikir, perbedaan kepentingan ideologi, agama maupun kebudayaan, perbedaan kepentingan ekonomi, politik maupun keamanan. Akar dan alasan konflik dalam masyarakat majemuk dengan multikulturnya itu semakin kompleks dan tidak mudah mengendalikannya dan memerlukan perlakuan kasus demi kasus.
…
Demokrasi membutuhkan kedewasaan masyarakat.
salam
——————–
Akar konflik yang sesungguhnya hanya satu, soal bagaimana bertahan hidup. Dan untuk bertahan hidup, orang hanya perlu satu hal, PANGAN.
Seseorang boleh saja punya banyak hal tapi dia tidak bisa makan, maka tak mungkin dia bertahan hidup. Sebaliknya, seseorang tak punya apa-apa selain makanan, dia tetap bisa akan hidup.
Perbedaan jenis kelamin, tingkat usia dan lingkungan pendidikan seperti yang disebutkan diatas hanya melahirkan pilihan alat dan cara yang berbeda dalam upaya untuk bertahan hidup. Tapi substansinya tetap pangan.
Ketika luas tanah tidak bertambah sementara populasi manusia semakin bertambah, maka konflik wilayah akan terjadi untuk saling memperebutkan sumber2 pangan.
Variabel-variabel yang disebutkan seperti : perbedaan sudut pandang dan pola pikir, perbedaan kepentingan ideologi, agama maupun kebudayaan, perbedaan kepentingan ekonomi, politik maupun keamanan; sebenarnya hanya menghasilkan kemasan persoalan menjadi lebih bervariasi. Namun persoalan yang sesungguhnya, yaitu pangan.
Demokrasi sekedar alat bukan tujuan. Tujuan akhir tetap sama : ketersediaan pangan dengan tetap berpijak pada rasa keadilan, rasa aman dan rasa damai.
Tak lebih…, tak kurang….
Desember 15, 2008 pada 3:44 pm
Bagi saya tidak begitu. Moral itu seperti akhlaq…akhlak itu “pakaian”, yang membungkus substansi keislaman. Substansi tak akan memikat bila bajunya tak ada (telanjang), kotor maupun rusak.
—————-
Akhlaq itu adalah substansi keislaman itu sendiri. Intinya adalah Tauhid. Mutiara tetaplah mutiara sekalipun dalam kubangan lumpur. Perlu sedikit akal sehat, nurani yang jernih, kearifan, kemauan dan ightiar untuk bisa menyelami kebenaran.
Kotor dan busuknya pupuklah yang membuat melati harum semerbak.
—————-
Keduanya berkait dalam konsep holistik: Islam paripurna, Islam yang membicarakan seluruh aspek kehidupan. Sehingga ketika dibicarakan dalam Islam bahwa setiap orang berhak mencari dan mempertahankan hak milik pribadinya, di sisi lain ia juga diwajibkan untuk membaginya di dataran sosial. Dengan demikian, perbincangan soal Islam menjadi beragam dan bertingkat-tingkat: individu, sosial, bangsa, negara, budaya, dan peradaban.
—————-
Keberagaman itu adalah wujud dari islam yang rahmatan lil alamien yang tidak memilah aspek pribadi dan aspek sosial. Dalam pribadi ada sosial, dalam sosial ada pribadi. Satu kesatuan penuh keberagaman.
—————-
Ketika Islam tak dipahami holistik, maka meminjam dialektika dari tesis Anda: personal Islam tak otomatis “komunal” Islam. Contoh paling gampang, umat Islam di Indonesia ini mayoritas, tapi “bangsa dan negara” Islam tak pernah terwujud.
—————-
Islam itu adalah kehidupan itu sendiri. Sesuatu yang holistik tidak akan pernah dipahami secara parsial. Jangan seperti dua orang buta yang ingin tahu bagaimana bentuk gajah dengan memegangnya. Tentu si buta yang satu setelah memegang kaki gajah akan mengatakan hal yang berbeda tentang bagaimana rupa gajah dengan si buta lain yang memegang ekor gajah. Padahal kedua-duanya sama-sama salah.
Sudah barang tentu personal yg islami akan membentuk komunal yang islami, itu sebuah axioma. Kumpulan bulir nasi (jawa:upo) akan menjadi nasi (jawa:sego), bukan jagung. Kumpulan tetesan air tak akan menjadi seember minyak.
Komunal islam tidak = bangsa dan negara islam. Bangsa bukanlah kumpulan orang yang didasarkan atas kesamaan agama. Bahkan Rasulullah pun tidak pernah membangun negara islam. Piagam Madinah adalah sebuah monumen sejarah bagaimana sebuah komunal islam dibangun walaupun juga di dalamnya terdapat Yahudi dan Nasrani.
—————
Saya sebenarnya cenderung tak ingin memakai istilah “komunal sebagai kumpulan personal” karena terlalu sederhana untuk menggambarkan kelas-kelas masyarakat.
—————
Maaf, islam tidak mengenal kelas. Rasulullah anti perbudakan. Mungkin anda agak tersilap dengan Marx yang menggunakan pertentangan kelas sebagai basis asumsi untuk membangun sebuah masyarakat anti kelas.
—————
Kalau Anda masih pusing soal demokrasi mana yang mau diterapkan, lempar saja jauh-jauh demokrasi dari benak Anda dan carilah serta pergunakanlah konsep lain untuk merubah dunia ini. (Saya kira Anda sudah punya itu … hahahahaha … )
salam dari medan
————–
Untuk saya tidak pusing, karena memang konsepnya sudah ada. Persoalan demokrasi bukan persoalan semantik, tapi lebih pada pemaknaannya yang harus dibumikan sesuai dengan konteks ke-Indonesia-an. Toch demokrasi cuma alat, bukan tujuan…
Tabik…….
Desember 17, 2008 pada 9:31 pm
iyah … komentar saya kok dipotong-potong… hahahaha
Akhlak adalah pakaian, yang membungkus substansi Islam yaitu tauhid. Tauhid tak sama dengan akhlaq walau akhlaq berasal dari tauhid. Jadi biar jelas pembedaannya.
jangan buru-buru nuduh saya dong. Tapi itu realitas karena itu kita bisa mempergunakan banyak teori untuk melihat realitas, salah satunya pandangan kelas marx. Mudah2an saya tak silap pandang soal si marx ini.
Islam memilah soal pribadi dan sosial agar jelas batasan-batasannya.
Salah satu parameter yang membentuk bangsa adalah agama, sehingga ada bangsa Islam, bangsa yahudi, bangsa nasrani dst. Paramater yang lain misalnya wilayah, ras, dll.. Batasan negara sudah lengkap di zaman rasulullah. Ada wilayah, rakyat, pemerintahan, hukum, dan imam.
Soal kelas itu, hahahaha, saya tak bilang Islam mengenal kelas
Indonesia masih sekedar electoral democraty. Demokrasi masih laku saat ini, tapi kalau tak cocok ya dibuang saja.
salam dari medan
————-
Komentar anda tetap utuh tidak saya potong-potong. Yang saya potong-potong adalah tanggapan saya atas komentar anda mengingat ada beberapa pernyataan dalam komentar anda yang perlu saya tanggapi secara khusus.
Terima kasih atas kesempatannya untuk mampir berdikusi di blog saya. Saya tunggu komentar-komentar cerdas berikutnya dari anda.
Tabik….
Desember 26, 2008 pada 10:31 am
Politik adalah bagian dari Islam. Konflik politik yang bermanifestasi dalam bentuk perang sulit untuk dipisahkan dari Islam. Karena Jihad memang adalah salah satu cara untuk menghilangkan penghalang tersebarnya Islam ke seluruh dunia (jika dengan cara yang damai-dakwah tidak bisa lagi dilakukan).
Banyak umat Islam yang terjebak dalam sikap “defensif apologetik”. Mereka berniat baik untuk mengatakan Islam itu baik, tidak disebarkan dengan pedang. Sehingga memberikan pembelaan yang sebenarnya jauh dari yang sebenarnya. Namun hakekat yang sebenarnya tidak demikian. Islam disebarkan dengan dakwah dan Jihad (pedang/perang). Itu PASTI.
Politik seharusnya menjadi “alat” agama Islam untuk tetap bertahan dan tersebar luas. Namun harus digarisbawahi bahwa agama yang memiliki sistem politik (siyasah) yang jelas HANYALAH ISLAM.
Trims
—————-
Politik bukan hanya bagian dari islam, politik sudah menjadi bagian dari umat manusia sejak manusia ada di muka bumi. Politik adalah cara untuk mencapai tujuan.
Islam adalah keselamatan.., kedamaian…, rahmat bagi semesta alam… Memang syi’ar Islam dengan dakwah dan jihad…, pedang dan perang. Tak ada yang lebih tajam melebihi tajamnya lidah.., berdakwahlah dengan lidahmu.., bil lisan.. Itulah hakikat pedang.
Islam juga berjihad. Namun bukankah seusai perang Badr, tatkala salah seorang sahabatnya bertanya.., “Ya Rasullullah…, “Apakah ini perang terbesar yang kita lakukan?” Rasulullah menjawab, “Perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri…”, perang melawan hawa nafsu yang ada di dalam diri sendiri.
Hawa nafsu yang salah satunya selalu mendorong kita merasa yang paling benar, sehingga tidak lagi melihat kebenaran Allah.. Bahkan tindakan “defensif apologetik” pun dimungkinkan karena Allah semata..
Bagi orang-orang yang berakal.., tidak ada kata.., “CARA DAMAI TIDAK LAGI BISA DILAKUKAN DALAM BERDAKWAH…”
TAK ADA SATUPUN YANG BISA MENGHALANGI KETIKA KITA SELALU MENGGUNAKAN CARA DAMAI UNTUK BERDAKWAH..
CARA DAMAI UNTUK DAKWAH, SELALU MUNGKIN DILAKUKAN DENGAN MENCIPTAKAN KEDAMAIAN ITU SENDIRI… ITULAH SEJATINYA ISLAM.., SEBAGAI AGAMA PEMBAWA DAMAI…
Tabik…..
Januari 3, 2009 pada 6:25 pm
wah diskusinya menarik…cuma sepertinya terlalu berat nih buat saya hahaha…
saya mungkin bukan orang yang kompeten untuk bicara agama atau politik karena bukan ahli di dua bidang tersebut.
mungkin cuma pendapat awam yang saya pikir bahwa memang ada gejala agama dijadikan “kedok” untuk segala macam konflik, penguasaan dan lain-lain. sebuah konflik bakal sangat memanas kalau membawa sentimen agama.
dalam kasus dakwah saya berpikir dakwah memang seharusnya dilakukan dengan damai. karena agama dasarnya adalah keimanan kepada Tuhan yang muncul dari hati nurani. dengan perang atau penguasaan agama memang bisa disebarkan namun hanya akan mendapatkan pemeluk-pemeluk yang keimanannya mungkin tidak ada terhadap konsep agama yang dibawa, karena bukan hati nurani mereka yang disentuh.
salam.
—————-
Tak perlu menjadi ahli untuk mengetahui soal politik maupun agama. Ini cuma sekedar bicara tentang kehidupan. Politik dan agama adalah juga bagian dari kehidupan… Sederhana kok…
Apalagi kehidupan seorang geRrilyawan… Tabik…
Januari 8, 2009 pada 4:30 pm
Saya ingat:
1. Ada dzikir SBY Nurus salam atau dzikir SBY apa gitu…,
2. Ada kmonuitas kyai kampung Gus Dur,
3. Ada simbol ka’bah,
4. Ada usulan fatwa haram golput,
5. Ada baitul muslimin PDIP,
6. Ada satgas ini dan itu…
mungkin masih banyak lagi yaaa
—————–
Memang begituyang ada saat ini Pak… Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan pesan.. Tabik…
Januari 19, 2009 pada 6:14 pm
walah urung tak eksplore tekan kene je mas,
wuahaha.. kalo iki asin tur puedes tenan, gebes-gebes ngantian lambene…,
rausah ditambahi asline wis dong, lah Islam ki lengkap tenan je, sampe bingung sendiri yang mencoba mentafsir-tafsirkan, cuman sayangnya nostalgia jaman nabi itu kadang tidak diresapi dengan lebih dalam dan dengan kebersihan hati, comot aja langsung praktek, ya jadinya yo salah kedaden…, setuju banget dengan Hamemayu Hayuning Bawana Langgeng….
pancen saiki jaman edan,… isih bejo sing eling lan waspada…
——————
Hlaaaa piye…., dipun aturi mlebet kok malah ngajak ngobrol nang pager ngarep omah… Mbok yo monggo pinarak wonten lebet, dipun sekeco’aken..
Cirine jaman edan kuwi.., tunggak jarak merajak.., tunggak jati mati.. Isone mung nggawe tulisan nang blog… Wakakakakak…
Nuwun….
Februari 11, 2009 pada 9:40 pm
assalamualaikum..
ketika berkunjung pertama kali kesini, saya menjadi malu karena telah menulis post yang ‘sok menggurui’ mengenai PKS. ternyata apa yang saya baca disini jauh lebih hebat! wawasan saya semakin terbuka karenanya..
melihat komentar2 diatas, ada yang ingin saya bagi dengan anda..
Suatu hari, saya bertanya kepada seorang teman.. Pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban yang juga sederhana:
Saya : Kalau memang ingin dakwah, kenapa harus lewat politik? koalisi sana sini demi suara?
Dia : Karna kalo cuma dengan dakwah biasa, susah.. Harus masuk ke sistem untuk bisa mengubah..
Apa benar seperti itu adanya?
Entahlah.. itulah jawaban dari seorang kader PKS.
Mungkin niat PKS memang baik, untuk menciptakan masyarakat yang madani.. Tapi melihat semakin tercampurbaurnya niat bersih mereka dengan pelaksanaan yang tidak sesuai lagi, saya ragu bahwa mereka benar2 bersih dari tuduhan ‘mencampuradukkan agama dengan politik’ dan akhirnya menistakan agama yang jadi landasan mereka sendiri..
Maaf kalau komentarnya tidak berkenan dan terlalu sederhana.. hanya sedikit curahan hati dari Putri..
salam kenal,
Putri
—————-
Wallaikumsalam…
Salam kenal juga mbak…
Itulah selalu jawaban mereka untuk membenarkan tindakan mereka. Terlalu banyak kepalsuan dan kebohongan yang dilakukan atas nama agama dan dalil-dalil.
Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya. Tabik….
Februari 19, 2009 pada 10:21 pm
Salam kenal,
Aku pemula yg masih ragu-ragu,
Dan rada-rada golok “Ngeblog!”
Sorry!
Kutip:
Akar konflik yang sesungguhnya hanya satu,
Soal bagaimana bertahan hidup.
Dan untuk bertahan hidup,
Orang hanya perlu satu hal,
PANGAN.
Panganan tubuh!
Betul juge tuh!
Lahan jadi begitu penting diperluas,
Pasukan jadi penting diperberingas.
Tapi …,
Setelah semua tampak keren,
Pangan bertahan hidup sudah,
Perlu kelangsunganya tujuh turunan (minimal).
Maka,
Perlu ada ibu yg cantik jelita,
Baik budinya, santun dan jenius.
Utk itu, apa pun dipertaruhkan.
Termasuk bunu-bunuan!
Panganan jiwa!!
Bila kita runut kebelakang lagi-lagi,
Ke Kain dan Habil, ke Ishak dan Ismail,
Yah, sama saja!
Bunu-bunuan rebutan hebat di mata Allah.
Bunu-bunuan rebutan batu terdekat dgn Allah.
Panganan rohani!
Jadi,
Pangan yg dimaksud perlu tiga jenis,
Pangan tubuh, pangan jiwa, pangan roh!
Pengalaman bunu-bunuan terus berulang,
Janji-janji sorga terus berkumandang,
Pantun-pantun lama pun berkembang.
Seperti:
Kalah jadi abu,
Menang jadi arang,
Kayu bakar jadi abis,
Surga bisa jadi menganga,
Neraka jadi di ambang penuh!
Aku diem aja dulu, kali-kali …!
Salam Pikirtiga!
http://tertiga.wordpress.com/2009/02/19/makanan-pertumbuhan-tertiga/
Ralat:
Pada golok “Ngeblog”,
Kudu goblok “Ngeblog”.
“Go blog” is better lah!
—————-
Panganan tubuh…, panganan jiwa…, panganan roh…
Panganan raga…, panganan atma…, panganan sukma…
Pikir tiga + Rasa tiga
Salam kenal juga…
April 6, 2009 pada 7:25 pm
aslm…
saya adalah mahasiswi IAIN Sunan Ampel jurusan Politik Islam, salah satu jurusan yang sangat tak terpikirkan olehku…karena saya pernah kuliah D1 di ITS, intinya, saya hanya menuruti apa kata orang tua saya….
wuih,,,,,,
politik,,,,,
suer saya gak bisa bersatu dengan politik…
apa saya terlalu idealis….
sederhana saja,,,
sebagai manusia normal saya hanya ingin damai…
jadi,,,mbok ya politik yang ikut kaidah agama yang “sebenarnya” jgn agama yang terpengaruh dengan politik….
ehm…
pusing……….
—————-
Setuju… Agama sebagai ajaran, bukan agama sebagai lembaga…
April 7, 2009 pada 12:56 am
Politik adalah aturan main kuasa keduniaan.
Agama adalah aturan main kuasa keilahian.
Apa mungkin bisa nyambung tanpa paksa?
Komunis pernah memaksaan politik thp agama,
Kristem pernah memaksakan agama thp politik,
Islam sedang memaksakannya lagi…
Padahal,
Segala sesuatu yang dipaksakan
Selalu berujung pada kesia-siaan.
Kita belum percaya itu? Atau pura2?
Keduniaan menuntut kesamaan kita di atas kertas,
Di dalam hati boleh beda-beda.
Keilahian menuntut kesamaan kita di dalam hati,
Di atas kertas boleh beda-beda.
Dengan andai pemaksaan bisa,
Maka segalanya hrs sama, disamakan.
Di atas kertas, di dlm hati, dll disamakan.
Kita hrs yakin itu,
Gejalanya pernah ada.
Sia-sia!
Aku khawatir, dgn kuasa pemaksaan spt itu
Kita akan spt Wilderbeast di Padang Serengiti,
Atau spt ada satu Ratu lebah di sarangnya bumi ini.
Salam Pikir Tiga!
—————-
Setuju 1000%!!!!!!
April 7, 2009 pada 3:16 am
Setujumu kebablasan,
Atau kurang 90 lagi.
Bila Ya adalah 1
Dan Tidak adalah 0
1000% = 10 = YaTidak!
Salam Hehehe!
—————-
Sangat cerdas!!!
September 25, 2009 pada 9:16 pm
Salam Maya dan
Selamat Hari Raya dan
Maafin luar dan dalam.
Salam Damai!
November 15, 2009 pada 9:14 am
[...] Adalah sebuah keniscayaan ketika sebuah bangsa yang tengah mengalami carut-marut dan keterpurukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memunculkan adanya keinginan untuk melakukan pencarian jati diri sebagai upaya untuk mengembalikan jati diri bangsa yang sudah tergerus habis oleh adanya serangan Neo Kolonialisme Imperialisme yang berlindung dibalik topengmodernitas ataupun simbol-simbol agama. [...]
November 21, 2009 pada 10:37 pm
[...] Adalah sebuah keniscayaan ketika sebuah bangsa yang tengah mengalami carut-marut dan keterpurukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memunculkan adanya keinginan untuk melakukan pencarian jati diri sebagai upaya untuk mengembalikan jati diri bangsa yang sudah tergerus habis oleh adanya serangan Neo Kolonialisme Imperialisme yang berlindung dibalik topengmodernitas ataupun simbol-simbol agama. [...]
Desember 24, 2009 pada 3:19 pm
[...] yang paling parah justru terjadi pada aspek budaya. Atas nama dakwah dan syi’ar agama, nilai-nilai budaya bangsa distigma sebagai sesuatu yang penuh berhala, musyrik dan biadab sehingga [...]